Pantau Sistem Pembelajaran Jarak Jauh, Komisi D DPRD Kota Semarang Temukan Banyak Persoalan di Lapangan

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Harimurti.

 

HALO SEMARANG – Komisi D DPRD Kota Semarang menemukan banyak persoalan saat memantau proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Kota Semarang. Hal itu setelah jajaran Komisi D melaksanakan tinjauan ke beberapa sekolah, khususnya sekolah dasar.

Hal itu disampaikan anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Dyah Ratna Harimurti, baru-baru ini.

Menurutnya, jajaran Komisi D menyambut baik dana bantuan operasional sekolah (BOP) digunakan untuk pembelian kuota internet, guna mendukung pembelajaran jarak jauh.

Namun  kendala PJJ bukan hanya persoalan kuota saja, melainkan juga sarana dan prasarana siswa.

Hal itu diketahui saat dia dan para wakil rakyat lainnya melakukan kunjungan lapangan beberapa waktu lalu.

“Kemarin kami kunjungan lapangan, di SD Negeri banyak orang tua yang belum punya HP. Ada yang punya HP tapi belum android. Ada yang punya HP tapi dipegang orang tua, anak baru bisa pakai setelah orang tua pulang kerja. Ada juga anak yang sudah pegang HP sendiri tapi karena orang tua kerja, jadi tidak bisa membimbing. Ini lebih mengkhawatirkan,” papar Detty, sapaannya, Jumat (7/8/2020).

Menurutnya, solusi yang terbaik untuk menciptakan generasi yang baik memang dengan pembelajaran tatap muka.

Tentunya, Pemerintah Kota Semarang harus mengatur mekanisme pembelajaran tatap muka, dengan menerapkan protokol kesehatan.

Ada dua opsi yang bisa diterapkan, yakni dengan memberlakukan shift atau masuk secara bergantian. Disdik pun, kata dia, sudah memiliki konsep tersebut.

“Tentu, kami mendukung penanganan Covid-19. Sebaliknya demi generasi, tatap muka penting meski hanya seminggu sekali. Sekarang guru-guru mulai kreatif. Ada yang mendatangi rumah siswa, ada yang secara bergiliran mengumpulkan beberapa siswa. Sekadar mengecek apakah ilmu yang diajarkan kepada siswa bisa diterima atau tidak,” jelasnya.

Pihaknya pun menunggu kebijakan Pemerintah Kora Semarang untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk melaksanakan proses belajar mengajar dengan bertatap muka.

Hal itu melihat kasus Covid-19 di Kota Semarang, sudah banyak orang yang sembuh.

Menurutnya, perlu adanya edukasi bahwa Covid-19 sama seperti penyakit lain, yakni ada yang dapat disembuhkan dan tidak dapat sembuh.

“Saya kira tidak bisa begini terus. Mulai berpikir bahwa Covid-19 sama dengan penyakit lain. Kalau seperti ini terus yang sangat dirugikan pendidikan dan sektor ekonomi,” ujarnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.