Pangamat Transportasi: Jateng Miliki Penataan Transportasi Umum dalam Wilayah Aglomerasi

Peresmian pembukaan rute Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng koridor III (Semarang-Kendal) yang melayani hingga ke Kawasan Industri Kendal (KIK), baru-baru ini.

 

HALO SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah, saat ini telah memiliki program transportasi umum yang diselenggarakan dalam wilayah anglomerasi. Di mana, wilayah aglomerasi tersebut merupakan satu kesatuan wilayah yang terdiri dari pusat kota dan kabupaten saling terhubung satu sama lainnya.

Menurut pakar transportasi dari Universitas Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, bahwa di Jawa Tengah terdapat delapan wilayah aglomerasi, semuanya terhubung dengan transportasi umum yaitu Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng. Dalam kurun tiga tahun sudah beroperasi lima koridor Bus Trans Jateng yang menghubungkan wilayah aglomerasi.

“Yakni Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, Purwodadi), Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen Klaten), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen). Lalu, ada Purwomanggung (Purworejo, Magelang, Wonosobo, Temanggung), Bregasmalang (Brebes, Tegal, Slawi, Pemalang), Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati), dan Petanglong (Pekalongan Batang, Kab. Pekalongan) serta Banglor (Rembang dan Blora),” terangnya, Senin, (4 /1/2021).

Djoko menambahkan, di Provinsi Jawa Tengah sejak Juli 2017 sudah mengembangkan bus sistem transit (BST) Trans Jateng dengan pola beli layanan (buy the service). Dengan bus baru yang disiapkan oleh operator eksisting di masing-masing koridor. “Dan Dalam RPJMD Provinsi Jateng 2018-2023 mentargetkan untuk mengoperasikan 7 koridor,” imbuh Djoko.

Pengembangan rute layanan transportasi umum Trans Jateng, lanjut Djoko, hingga akhir tahun 2020 sudah mencapai lima koridor.

“Rute pertama dikembangkan adalah Semarang (Stasiun Tawang) – Terminal Bawen (Kab. Semarang) pada 17 Juli 2017. Berikutnya pada Agustus 2018 rute Purwokerto-Purbalingga (30 kilometer). Kemudian pada Bulan Oktober 2019 membuka rute Terminal Bahurekso (Kab. Kendal) – Terminal Mangkang (Semarang),” paparnya.

Pada September tahun 2020, juga dikembangkan dua rute Trans Jateng.

“Untuk mendukung mengembangkan KSPN Borobudur, dikembangkan koridor Stasiun Kutoarjo (Kab. Kebumen) – Purworejo – Terminal Borobudur (Kab. Magelang). Selanjutnya, mendukung Batik Solo Trans (BST) di Kota Surakarta, dibuka rute Terminal Tirtonadi (Surakarta) – Terminal Sumber Lawang (Kab. Sragen). Kedua koridor baru ini sudah menggunakan bus dengan low entry. Tidak memerlukan halte tinggi lagi, cukup menyediakan bus stop untuk tempat pemberhentiannya,” katanya.

Sedangkan untuk pengelolaan Bus Trans Jateng diselenggarakan oleh Balai Trans Jateng di bawah Dinas Perhubungan Jawa Tengah. Balai Trans Jateng juga sudah mengembangkan inovasi smart transportation aplikasi Si Anteng yang dapat memberikan layanan lebih baik kepada pelanggan atau pengguna Bus Trans Jateng.

“Si Anteng dapat diunggah di play store. Si Anteng dapat memberikan gambaran pergerakan bus, jam kedatangan di masing-masing halte, sehingga para pelanggan dapat melakukan efisiensi perjalanan dengan membuka Si Anteng,” ungkapnya.

Selanjutnya, saat ini, Kata Djoko juga sedang mengembangkan sistem pembayaran non tunai (cashless) dapat terwujud tahun 2021 dari penyedia perbankan dan lembaga keuangan.

“Integrasi pembayaran seperti itu juga dapat dilakukan Bus Tran Jateng rute Terminal Tirtonadi (Kota Surakarta) – Terminal Sumber Lawang (Kab. Sragen) dengan Batik Solo Trans (BST) dan KRL Yogyakarta – Surakarta,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.