in

Panen Perdana, Bupati Mendukung Upaya Pengembangan Pertanian Padi Organik

Bupati Blora H Arief Rohman SIP MSi, Sabtu (31/7) ikut menggiling padi dalam panen perdana padi organik, bersama para petani di Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan. Para petani tersebut adalah binaan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU). (Foto : Blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Bupati Blora H Arief Rohman SIP MSi menyatakan akan mendukung pertanian organik, yang diprakarsai Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU).

Hal itu disampaikan Bupati, ketika mengikuti kegiatan panen perdana padi organik, bersama para petani binaan LPPNU, di Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan.

Panen perdana dilakukan Bupati, di areal persawahan milik Kepala Desa Mendenrejo, Supari, yang merupakan salah satu demplot pertanian organik di Kecamatan Kradenan.

Dengan didampingi Ketua PCNU Kabupaten Blora, Muh Fatah; perwakilan LPPNU;  Forkopimcam; dan MWCNU Kradenan, Bupati turun langsung ke sawah memotong padi dan menggiling secara bergantian dengan petani.

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh upaya pengembangan pertanian organik ini. Apa yang dilakukan teman-teman LPPNU bersama PCNU hingga MWCNU ini sangat baik. Akan kami dukung pengembangannya ke seluruh Kecamatan,” kata Bupati, seperti dirilis Blorakab.go.id.

Bupati mengatakan akan mengumpulkan para penyuluh pertanian untuk melakukan pendampingan.

“Nanti akan kami kumpulkan seluruh penyuluh pertanian dari dinas, untuk bisa ikut fokus melakukan pendampingan pertanian organik, secara masif bersama LPPNU dan MWCNU, di 16 Kecamatan se Kabupaten Blora,” lanjut Bupati.

Menurutnya, hasil pertanian organik ini bagus dan menyehatkan. Dari segi harga jual juga lebih tinggi, dibanding hasil pertanian konvensional yang memiliki ketergantungan pada pupuk kimia.

“Tanah sawah kita kembali sehat alami, hasilnya juga bagus. Selain bebas pupuk kimia dan menyehatkan, hasilnya juga lebih banyak dengan rasa yang lebih enak. Nanti akan kami coba. Dengan pertanian organik ini, kami tidak akan tergantung pada pupuk kimia yang sering langka. Karena petani bisa membuat pupuk sendiri, dengan bahan alami di sekitar,” ujar Mas Arief, sapaan akrab Bupati.

Dia pun ingin agar dibentuk kelompok petani organik tingkat Kabupaten, untuk mengkoordinasi hasil pertanian organik, agar bisa dikemas dan disertifikatkan, sehingga dapat menembus pasar ekspor.

“Samplenya akan kami kirim juga ke Pemerintah Pusat, semoga nanti bisa dibantu untuk memasarkan beras organik kita. Insya Allah Blora siap menjadi lumbung beras organik untuk dunia, ini cita-cita kita bersama karena saat ini banyak negara mencari beras organik yang lebih menyehatkan,” kata dia.

Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Blora, Muhammad Fatah, menerangkan bahwa pengembangan pertanian organik bersama LPPNU, berawal dari Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban. Wilayah ini telah lebih dahulu menanam padi organik.

“November tahun kemarin, kami penen perdana di Bajo Kedungtuban. Setelah berhasil, kami kembangkan di kecamatan lain, seperti di Kradenan ini. Alhamdulillah antuiasnya bagus. Ada 14 demplot padi organik di Kradenan ini, total luasan sekitar 6 hektare, salah satunya yang dipanen Bapak Bupati ini,” kata M Fatah.

Dia menyatakan siap untuk membantu pengembangan hingga menjangkau 16 Kecamatan. Saat ini yang sudah dilakukan, selain Kedungtuban dan Kradenan, ada Sambong, Cepu, dan Banjarejo.

“Kedepan akan kami coba di Blora bagian barat, seperti Kunduran, Ngawen, Todanan dan sekitarnya,” sambung Fatah.

Dengan pertanian organik ini, menurutnya akan mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang sudah bertahun-tahun merusak unsur hara tanah.

“Untuk panen perdana memang hasilnya belum signifikan, karena tanah masih dalam proses pemulihan dari dampak pemupukan kimia ke organik. Jika sudah tiga kali panen, maka hasilnya akan lebih maksimal. Ketika tanah semakin normal (bersih dari unsur kimia), cukup dengan pupuk organik sedikit saja, hasilnya akan maksimal,” kata M Fatah.

Fatah pun bercerita, ketika masih kecil terdapat banyak ikan dan belut di sawah. Tetapi kini, sawah dengan banyak belut dan ikan susah dijumpai, karena tanahnya tercemar pupuk kimia.

“Jika pertanian organik ini berhasil, maka ikan wader dan belut akan kembali ada di sawah kita. Mina Tani jalan kembali,” tambahnya.

Kades Mendenrejo, Supari yang juga pelaku pertanian organik, mengaku cukup was-was ketika kali pertama menanam padi karena takut gagal.

“Namun karena bimbingan LPPNU akhirnya kita berhasil. Kami berharap akan lebih banyak lagi masyarakat yang beralih ke pertanian organik,” paparnya.

Adapun Tri Wahyudi, salah satu warga Kradenan, mengaku ada peningkatan hasil panen dari pertanian konvensional ke pertanian organik.

“Pertanian konvensional dengan pupuk kimia biasanya per hektare menghasilkan gabah 6-7 ton. Sedangkan pertanian organik ini bisa mencapai kurang lebih 8 ton, bahkan lebih jika tanahnya benar-benar kembali subur bebas dari unsur kimia. Yang ditanam ada Inpari 32 dan Sertani. Berasnya juga enak, pulen, harga jual lebih menguntungkan,” ungkap Yudi, panggilan akrabnya.

Usai panen perdana, dilanjutkan dengan dialog bersama antara Bupati dengan para petani sejumlah 20 orang, tidak lebih dari satu jam sesuai protokol kesehatan. (HS-08).

Share This

Bupati Juliyatmono Sebut Vaksinasi Massal di De Tjolomadoe Sebagai Wisata

Muncul Isu Pemotongan Bansos, Ini Pernyataan Dinsos Klaten