Pandemi Jadi Momentum Pengembangan Teknologi

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy  (Foto:kemenkopmk.go.id)

 

HALO SEMARANG – Pandemi Covid-19 jadi momentum untuk pengembangan teknologi dalam negeri. Karena itu Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, mendukung penuh upaya pengembangan riset dan inovasi, walaupun masih dalam masa pandemi.

Penjelasan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, Sabtu (24/10), seperti dirilis kemenkopmk.go.id.

“Pandemi ini juga menjadi berkah dalam mendorong pengembangan teknologi dalam negeri. Kalau tidak ada Covid-19, belum tentu kita bisa menyongsong era yang sangat mencerahkan ke depan,” ujarnya.

Dia menyebut salah satu inovasi yang kini telah dikembangkan oleh sejumlah lembaga penelitian, baik pemerintah maupun nonpemerintah, ialah vaksin. Adapun target dari vaksinasi Covid-19 adalah untuk herd immunity atau kekebalan kelompok.

Muhadjir juga mengungkapkan, vaksinasi Covid-19 nantinya tidak harus dilakukan kepada semua orang. Mengacu pada standar WHO, vaksinasi hanya dilakukan terhadap 70% dari populasi, dengan asumsi di wilayah tersebut semuanya terpapar.

“Intinya, Presiden berpesan betul, untuk berhati-hati dalam pemanfaatan vaksin hasil inovasi dalam negeri ini. Harus cepat, tetapi tidak boleh grusah-grusuh. Harus dihitung betul, termasuk by name by address-nya,” tegas Menko PMK.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Riset dan Teknologi, sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro, juga mengatakan ada lebih dari 61 produk inovasi dikembangkan untuk penanggulangan Covid-19.

Selain vaksin Covid-19 yang sudah diuji dan dikembangkan oleh para peneliti dalam negeri, berbagai inovasi mulai dari testing seperti alat rapid test sudah diproduksi hingga 350 ribu unit per bulan. Bahkan diperkirakan mencapai 1 juta unit per bulan pada akhir tahun.

Lalu, untuk mesin PCR, Bio Farma juga sudah mampu menghasilkan 1,4 juta unit alat PCR per bulan. Pemerintah pun sudah menyalurkan mobile Lab-BSL 2, dengan kapasitas 600 spesimen permobil, yang tersebar di beberapa RS daerah maupun RS TNI, serta ventilator buatan anak negeri yang diberikan kepada 1.000 lebih RS rujukan.

“Kami berupaya mendorong inovasi di segala aspek dari penanganan Covid-19. Mulai dari testing, karena ini sangat penting. Kemudian mengenai penanganan pasien, utamanya ventilator yang masih sangat dibutuhkan di berbagai RS. Karena itu kami dorong agar ventilator menjadi salah satu fokus inovasi,” jelasnya.

Di samping inovasi alat kesehatan, menurut Bambang, untuk obat saat ini Indonesia lebih banyak mengembangkan terapi, seperti terapi plasma konvalesen, dengan menggunakan darah orang yang sembuh dari Covid-19. Saat ini yang masih dalam tahap penelitian dan mulai uji coba, yaitu dengan stem cell, untuk menggantikan jaringan paru-paru yang rusak.

“Untuk bisa mengatasi pandemi ini dengan baik, kita perlu vaksin. Sudah banyak vaksin yang diuji coba dan dikembangkan di luar. Tapi Indonesia dengan negara dengan penduduk 270 juta ini harus mandiri, dalam pengembangan dan penyediaan vaksin. Karena itu kami sudah memulai vaksin merah putih, yang menggunakan isolat virus yang sudah beredar di Indonesia, di mana pengembangan bibit vaksinnya dilakukan oleh beberapa universitas,” kata Bambang. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.