in

Pandemi Covid-19, Permintaan Susu Sapi di Boyolali Meningkat

Pekerja saat memerah susu sapi di peternakan Dukuh Kepalon Desa Karangkendal, Kecamatan Tamansari. Jumat (20/8), (Foto : Boyolali.go.id)

 

HALO BOYOLALI – Sejak pandemi Covid-19 melanda, masyarakat melakukan berbagai upaya meningkatKan daya tahan tubuhnya, untuk melawan Covid-19. Hal tersebut berpengaruh pada peningkatan permintaan susu sapi di Indonesia.

Secara nasional, produsen susu sapi di Indonesia, baru bisa memenuhi 20 persen kebutuhan untuk industri. Dengan demikian 80 persen lainnya masih harus impor, antara lain dari Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, dan Kanada.

Kepala Bidang (Kabid) Produksi Ternak Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali, Gunawan Andriyanto, menjelaskan pada masa pandemi ini, kondisi negara penghasil susu juga terpengaruh. Produksi mereka juga berkurang, termasuk untuk suplai ke Indonesia. Hal ini mengakibatkan permintaan di dalam negeri juga meningkat.

“Ada satu faktor yang menonjol jadi selama pandemi, memang kesadaran masyarakat kita untuk mengkonsumsi susu cukup tinggi. Karena ada keyakinan bahwa dengan mengkonsumsi susu dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan imunitas sehingga permintaan susu juga cukup meningkat,” ungkapnya saat dijumpai di kantornya, Jumat (20/8) seperti dirilis Boyolali.go.id.

Dalam tiga tahun terakhir, Kabupaten Boyolali memiliki jumlah sapi perah sebanyak 94.000 ekor. Jumlah tersebut tetap konsisten selama tiga tahun, meskipun ada peningkatan sekitar 0,5 hingga 1 persen.

Dari 94.000 ekor sapi di Kabupaten Boyolali, mampu menyumbangkan 49.000 ton/tahun setara 136 ton per hari dan angka ini tertinggi di Jawa Tengah.

“Dari segi topografis kesesuaian wilayah memang perkembangan susu di Kabupaten Boyolali terkonsentrasi di Kecamatan Selo, Cepogo, Musuk, Tamansari, Ampel, Mojosongo dan sedikit di Boyolali Kota. Selain dengan kesesuaian suhu dan juga daya dukung pakan ternak karena daerah tegalan, jadi untuk budi daya pakan ternak itu sangat cocok sebagai pendorong utama perkembangan industri sapi perah,” katanya.

Susu yang dihasilkan sapi perah yang berkualitas, mempengaruhi pada banyaknya industri pengolah susu (IPS) seperti Bendera, Garuda, SoGood. Karena agar bisa masuk ke IPS, susu harus memenuhi banyak kriteria kualitas, antara lain kandungan protein, kandungan lemak, dan kadar kuman maksimal. Untuk itu, pihaknya melakukan berbagai pelatihan kepada peternak sapi perah untuk dapat menghasilkan susu yang berkualitas baik kuantitas maupun kualitas.

“Meningkatkan kualitas bibit sapi perah melalui pelayanan inseminasi buatan, pelayanan kesehatan hewan dan juga pendampingan di dalam uji kualitas susu,” ujarnya.

Salah satu peternak sapi perah, Sri Suparti mengaku senang dengan adanya peningkatan permintaan susu oleh konsumen. Warga Dukuh Kepalon, Desa Karangkendal, Kecamatan Tamansari yang juga sebagai pegawai KUD Musuk ini mengalami peningkatan permintaan awal Bulan Juni.

“Selama pandemi ini permintaan dari KUD meningkat sekitar 50 persen. Kalau sesuai harga kualitasnya tinggi sekali untuk pengiriman atau setor ke KUD itu sesuai dengan kualitas ada yang kualitas A ada kualitas B kualitas C. Yang paling tinggi itu kualitas A itu dihargai Rp 6.000, kualitas B Rp 5.700 dan kualitas C Rp 5.500,” katanya. (HS-08)

Share This

Pemkab Wonogiri Terima Bantuan 100 Oxygen Concentrator

Ini Solusi Penanganan Limbah Minyak Jelantah dari LICIN Indonesia