in

Pandemi Berdampak Turunnya Harga Kopi Robusta Asal Kendal

Foto ilustrasi: Biji kopi Robusta milik petani Kendal.

 

HALO KENDAL – Turunnya harga kopi Robusta pada panen raya tahun ini, disinyalir akibat turunnya daya beli konsumen karena terdampak pandemi Covid-19.
Hal ini tentu berdampak pada penjualan para petani kopi di Kabupaten Kendal. Seperti dialami para petani kopi di Desa Gedong, Kecamatan Patean Kendal, seperti disampaikan kepada halosemarang.id, Sabtu (21/8/2021).

Salah seorang petani kopi, Rame Ragil mengungkapkan, penurunan harga bukan terjadi pada tahun ini saja. Pada tahun lalu pun, harga sudah anjlok akibat terdampak pandemi.

“Sebelum masa pandemi, harga kopi sekitar Rp 27 ribu per kilogram. Namun sejak masa pandemi, harga kopi turun menjadi Rp 20 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Disebutkan, sedikitnya ada lima jenis olahan kopi robusta dari Kendal, di antaranya kopi rakyat, natural dry, wet process, natural wine, dan kopi lanang.

“Peminat olahan kopi Kendal tidak hanya pasar dalam negeri saja, bahkan hingga ke pasar internasional seperti Rumania,” ungkapnya

Padahal, lanjut Ragil, sejak pandemi Covid-19 ia hanya dapat mencakup pasar lokal karena menurunnya daya beli konsumen.

“Pemasarannya selain lokal, Alhamdulillah sudah sampai ke luar negeri yaitu di Rumania, yang disukai di Rumania yang sudah olahan itu jenis natural wine,” jelasnya.

Ragil dan petani di desanya berharap pandemi ini segera berakhir, sehingga harga kopi bisa kembali normal.

“Mudah-mudahan pandemi bisa cepat selesai dan harga kopi bisa terangkat lagi seperti dulu lagi,” harap Ragil.

Kepala Desa Gedong, Kecamatan Patean, Suwarno mengatakan, Desa Gedong merupakan desa penghasil kopi di wilayah Kendal sejak tahun 1980-an.

“Ratusan hektare perkebunan di desa kami, 85 persen di antaranya adalah tanaman kopi dan sekitar 1.500 warga kami penghasilan utamanya sebagai petani kopi,” ungkapnya.

Melihat kondisi ekonomi yang belum membaik ini, pemdes berupaya jemput bola, juga membantu para petani menjual olahan kopi langsung ke konsumen.
“Harapannya dapat membantu meringankan beban para petani di Desa Gedong,” ujarnya.

Suwarno juga mengaku, pihak pemdes telah berupaya, dengan adanya penurunan harga tersebut para petani di desanya diharapkam tetap mendapatkan untung.

“Kami membantu di bagian pemasarannya. Sekaligus mengajak para petani untuk mengolah kopi kemasan, yang akan kami bantu penjualannya,” imbuhnya.

Selain itu Suwarno berharap, pemerintah dapat membantu dalam mengatasi harga jual kopi agar kembali normal. Pasalnya komoditas andalan para petani di sini hanyalah kopi.

“Sehingga para petani kopi khususnya di Desa Gedong kembali sejahtera. Kami juga akan terus menggerakkan, hingga hasil kopi dari kelompok petani dijadikan unit usaha di Bumdes,” pungkasnya. (HS)

Share This

Dukung Peningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia, SMM Luncurkan Hub di Beberapa Kota

PSIS Kalahkan Sulut United 1-0, Imran: Masih Banyak Pekerjaan Rumah