Pancasila Harus Jadi Nalar Nilai Dan Nalar Laku Manusia Indonesia

FGD dengan tema “Mengawal Pancasila sebagai Pelajaran Mata Kuliah Wajib”, di Hotel Quest, Kota Semarang, Selasa (20/4/2021).

 

HALO SEMARANG – DPR RI dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud RI, bersama dengan DPP Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Budaya (IKA FIB) Undip menggelar Forum Group Discussion (FGD) dengan tema “Mengawal Pancasila sebagai Pelajaran Mata Kuliah Wajib”, di Hotel Quest, Kota Semarang, Selasa (20/4/2021).

Diskusi tersebut menghadirkan pembicara Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang Dr Moh Solehatul Mustofa, MA, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Prof Dr Iriyanto Widisuseno, MHum, Wakil Rektor I Universitas Diponegoro Prof Budi Setiyono, SSos, MPol Admin, PhD, serta Keynote speaker Wakil Ketua Komisi X DPR RI Agustina Wilujeng SS, MM.

Kegiatan ini dimoderatori Dr Teguh Hadi Prayitno, MHum, MM,MH, yang juga ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jawa Tengah.

- Advertisement -

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti mengingatkan, bahwa harus disadari dalam proses pendidikan dan dalam membuat kebijakan pendidikan selalu memiliki muatan ideologi.

Termasuk dalam penyusunan kurikulum pendidikan bagi generasi muda Indonesia.

“Muatan ideologi itu secara politis terus menerus ditanamkan dalam setiap peraturan yang dibuat oleh pemerintah maupun lembaga negara yang lainnya. Muatan ideologi tersebut ialah Pancasila, sehingga perlu ditanamkan ke generasi muda kita dan bisa diimplementasikan nilai-nilai Pancasila tersebut,” jelas Ketua FIB IKA Undip itu.

“Jika secara karakter anak-anak itu tidak kuat, maka sangat mudah terpapar radikalisme atau paham lain yang bisa merongrong keutuhan NKRI,” imbuhnya.

Pancasila, ditegaskan oleh Agustina Wilujeng, harus betul-betul diwujudkan dalam pola pikir, sikap mental, gaya hidup dan perilaku nyata dalam kehidupan sehari hari.

“Artinya tujuan akhir dari semua adalah Pancasila sebagai nalar nilai dan nalar laku. Seperti kata Bung Karno aku tidak mengatakan bahwa aku yang menciptakan Pancasila, apa yang aku kerjakan hanya menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah,” ungkapnya.

Agustina Wilujeng pun mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama mentradisikan kembali dan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana Pancasila hadir dalam kehidupan kita.

“Bagaimana menuntut ilmu, bagaimana bersosialisasi dengan kanan kiri serta menghormati orang tua, menghormati masyarakat, menghormati tradisi itu dengan cara cara Pancasila,” pungkasnya.

Sedangkan menurut Iriyanto Widisuseno di tengah perubahan zaman seperti yang terjadi saat ini, perlu diwaspadai adanya dampak perkembangan teknologi modern saat, khususnya di kalangan generasi muda. Berdasarkan hasil survey CSIS 2017, meningkatnya prosentase radikalisme, salah satunya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi modern.

Iriyanto menambahkan pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila pada generasi milenial di tengah gencaranya paham radikalisme dan komunisme yang berkembang saat ini.

Ia pun mneceritakan bagaimana masyarakat China dan Jepang bisa maju karena pandangan-pandangan mereka tentang pentingnya pembentukan karakter sejak dini.

“China dan Jepang tingkat radikalisme di sana sangat rendah,” imbuhnya.

Di Jepang, lanjut Iriyanto, mata kuliah yang dianggap paling penting adalah budi pekerti. Sedangkan di China, pendidikan karakter diajarkan dari tingkat SD sampai perguruan tinggi.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Budi Setiyono, yang dalam hal ini bertindak sebagai pengamat politik.

Dia mengibaratkan, Pancasila semacam persamaan frekuensi dalam sebuah keluarga. Dalam satu keluarga misalnya, antara bapak, ibu, anak, memiliki pandangan dan pola pikir yang tentu berbeda.

Maka perlu ada sebuah standar pengikat hubungan, agar satu sama lain anggota keluarga tak egois dalam menerapkan pola pikirnya dalam sebuah keluarga.

“Jika satu sama lain memiliki ego tinggi, maka bubrahlah keluarga itu. Maka butuh suatu pengikat agar masing-masing bisa memahami, sehingga ada harmonisasi,” katanya.

“Pancasila bukan sesuatu yang abstrak tapi sebenarnya ada di dalam diri kita. Kalau ingin Pancasila action itu harusnya dimulai diri kita masing masing,” katanya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.