in

Pakar: Tahun 2023-2024 Indonesia Mampu Kembali Seperti Tahun 2019

Ilustrasi pergerakan ekonomi/freepik.com

 

HALO SEMARANG – Bank Dunia (World Bank) menurunkan status Indonesia dari negara berpenghasilan menengah ke atas (upper middle income) pada tahun 2019 menjadi negara dengan penghasilan menengah ke bawah (lower middle income) pada tahun 2020. Meskipun kemerosotan ekonomi dianggap wajar di tengah pandemi, namun pakar ekonomi menganggap penurunan status ini adalah imbas dari keterlambatan Indonesia mengantisipasi dampak Covid-19.

Hal itu ditanggapi oleh Pakar ekonomi Universitas Diponegoro, Profesor FX Sugiyanto. Menurutnya, penurunan status itu adalah dampak dari penurunan pendapatan per kapita penduduk Indonesia yang menurun terkait adanya pandemi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan dari 5,02 persen dari tahun 2019 menjadi minus 2,07 persen atau 2,1 persen di tahun 2020.

“Bank dunia memang mencatat bahwa Indonesia masuk dari upper medium income turun di bawah 4000 dolar sekian per orang, menjadi upper low income country, jadi negara dengan penghasilan terendah, tapi yang di atas. Itu terjadi di tahun 2020 ya, berdasarkan pendapatan tahun 2020. Dan mungkin juga terjadi di awal 2021,” kata Sugiyanto kepada halosemarang.id, Rabu (14/7/2021).

Ia mengungkapkan bahwa hal yang terjadi sekarang adalah wajar. Bank dunia menyebutkan bahwa pada tahun 2020 hanya beberapa negara yang dilaporkan mengalami pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi.

“Kalau dari laporan bank dunia itu hanya ada beberapa negara yang di tahun 2020 tumbuh. Cina, kemudian yang tertinggi kalau di Asia adalah Vietnam, Turki dan Mesir. Jadi hanya ada beberapa negara yang masih tumbuh. Di negara-negara lain seperti ASEAN itu Thailand malah paling besar turunnya. Artinya sesuatu yang wajar,” tuturnya.

Meskipun demikian, lanjutnya, Indonesia perlu belajar dari negara lain untuk mengantisipasi dampak ekonomi dari pandemi. Khususnya terkait dengan keterlambatan Indonesia dalam mengantisipasi Covid-19.

“Ini hanya dugaan atau hipotesis, tapi kita belajar saja. Kalau di Vietnam itu ketika pandemi muncul, maka penelusuran dan tesnya jauh lebih cepat. Kita agak lambat kalau menurut ahli epidemiolog. Yg kedua, tampaknya bukan hanya ahli epidemiolog, ahli matematika dan lainnya hampir semuanya meleset. Saya cenderung sependapat dengan apa yang terjadi di Vietnam, kita ada keterlambatan melakukan antisipasi,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan, meskipun dari segi geografis dan demografis menuntut penanganan pandemi yang berbeda, salah satu indikator penurunan ekonomi di Indonesia adalah adanya keterlambatan dan prediksi-prediksi yang terlalu optimis di awal pandemi. Selain itu, lanjutnya, kendala yang bersifat sistem kelembagaan juga menjadi penghambat.

“Pertama adalah data, itu nyata. Ketika kita mau mengupgrade dampak pandemi di pertengahan tahun 2020 minimal bagian epidemiolog kita siap dengan data yang benar, yang valid, yang akurat. Yang kedua, peraturan kita tumpang tindih dan birokrasi yang tidak rapi. Ini berarti di dalam sistem birokrasi disebut kolaborasi itu barang langka. Ini yang kita maksud dengan sistemik,” ujarnya.

Kendati demikian, sambung Sugiyanto, ancaman perekonomian terbesar saat ini adalah terhambatnya aktivitas produksi karena ancaman kesehatan. Namun, ia optimis jika tahun 2021 pandemi sudah teratasi, Indonesia dapat mengembalikan status negara dengan pendapatan upper middle income.

“Infrastruktur kita sudah bagus, namun ada kelemahannya karena ancaman terhadap kesehatan jadi tidak bisa melakukan aktivitas produksi. Terlepas itu, kita mampu tumbuh dengan cepat, kira-kira kalau 2021 ini tercapai target, 2023-2024 kita sudah bisa didaftar minimal sama dengan tahun 2019. Kalau kita lihat grafiknya akan seperti itu,” ungkapnya.

Terdapat beberapa hal untuk mengantisipasinya, ia menekankan pemerintah harus melakukan persiapan di bidang logistik. Mengingat pada tahun 2023-2024 perkembangan teknologi juga akan berpengaruh pada sistem perputaran ekonomi.

“Kapasitas publish kita sudah berjalan, jadi nanti pada saatnya dapat lebih cepat, sebab teknologi akan berkembang pesat pada waktu itu. Dugaan saya 2024 kita akan menjadi lebih gampang jika sepanjang kegiatan ini penanganan Covid-19 dapat teratasi,” tandasnya.(HS)

Share This

Terima Laporan Kerumunan, Ganjar Minta Pelaksanaan Sentra Vaksinasi Holy Stadium Direview

RSUD Kendal Akan Menambah 18 Ruang Isolasi