in

Pakar Politik: Gen Z Perlu Didengar Pandangan Mereka Terkait Demokrasi dan Pemilu 2024

Pakar Politik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Joko J Prihatmoko. (Foto Istimewa)

HALO SEMARANG – Pakar Politik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Joko J Prihatmoko memuji upaya Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu dalam persiapan mensukseskan dan mengamankan pelaksanaan Pemilu 2024. Selain menggelar koordinasi dengan organisasi masyarakat di Kota Semarang, Mbak Ita sapaan akrabnya juga melibatkan generasi milenial untuk diajak diskusi terkait pandangan mereka akan Pemilu.

Terlebih atas terselenggaranya Grup Discussion Competition yang digagas Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu bertajuk “Pemilu 2024 dari Sudut Pandang Generasi Z”.

Joko mengapresiasi kompetisi atau debat gagasan tentang demokrasi dan Pemilu 2024 antar-mahasiswa yang digelar di Hotel Candi Indah, Kota Semarang, Rabu (11/10/2023) lalu.

“Ini cara inovatif untuk berkorelasi dengan Gen-Z (Generasi Z-red). Mereka berwawasan, kritis, kaya data dan melek informasi,” katanya, Kamis (12/11/2023).

Menurutnya, debat gagasan merupakan metode yang tepat. Relasi antara Gen-Z dan antara Gen-Z dengan generasi sebelumnya dapat terhubung melalui pendekatan partisipatif dan dialogis.

Dia menyebut, debat antargagasan di antara Gen-Z juga mendorong mereka berinteraksi, memperkaya wawasan, hingga kritisisme.

“Metode debat sendiri membantu mereka berlatih berargumentasi, beradu gagasan dengan etis atau santun, tanpa membikin luka. Ini justru merupakan kritik pada elite yang bicara asal,” ujarnya.

Pengetahuan Gen-Z tentang Pemilu tidak cuma teoritis, tetapi lengkap dengan data empiris. Sebagai contoh, selain mendapatkan dari lingkungan sekitar, Gen-Z juga aktif mengakses internet. Dalam kalkulasi, generasi yang lahir dalam rentang 1997 sampai dengan 2012 ini, tiap harinya bisa mengakses smartphone sampai 16 jam.

Dosen Ilmu Politik ini menegaskan, debat antargagasan tentang demokrasi dan pemilu di kalangan mahasiswa di Kota Semarang ini bisa dijadikan model pendidikan politik Gen-Z di Indonesia.

“Tentu dibimbing oleh juri yang memandu dengan benar. Juri harus mumpuni atau related dengan Gen-Z,” katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menyebut, alasan melibatkan Generasi Z atau Gen Z karena menjadi kelompok pemilih yang mendominasi kontestasi lima tahunan ini. Dari 204 juta daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2024, Generasi Z atau Gen Z.

“Jumlah suara Gen-Z sebanyak 46,8 juta suara atau 22,85 persen, sementara Generasi Milennial 33,60 persen atau 68,8 juta,” kata Mbak Ita, sapaan akrabnya.

Dengan digelarnya kompetisi adu gagasan ini, menurut Mbak Ita dapat menjadi wadah bagi para mahasiswa yang masuk dalam kelompok Gen-Z. Gagasan dan buah pikir dari kelompok tersebut perlu didengarkan nantinya mereka akan menjadi generasi selanjutnya.

“Mereka ini selalu cepat bergerak, juga punya kemampuan berkomunikasi lebih cepat. Mereka juga bisa disebut sebagai generasi yang tidak bisa ditinggal, mereka adalah generasi yang sekarang ini justru sangat menjadi generasi penentu ke depannya,” ujarnya.

Forum adu gagasan ini, kata Mbak Ita, akan difasilitasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) di bawah Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang hingga puncak pesta demokrasi tahun depan.

“Ini adalah contoh bagaimana bisa memfasilitasi dari Gen-Z. Acara-acara ini pasti akan berlanjut, tetapi disesuaikan lagi dengan tema-temanya,” ujarnya.(HS)

Mbak Ita Ajak Ormas Jaga Semarang Kondusif jelang Pemilu

PKK Purworejo Ajak Masyarakat Budayakan Cuci Tangan Pakai Sabun