in

Pakar: Jika Masyarakat Patuh Protokol Covid-19, Indonesia Bisa Hemat Rp 500 Triliun

Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menggelar dialog produktif bertajuk Memaksimalkan Pengelolaan Kesehatan Lewat Vaksinasi, disiarkan secara Live melalui akun youtube Lawan Covid19 ID, Jakarta, Kamis (26/11). (Foto : kominfo.go.id)

 

HALO SEMARANG– Jika semua masyarakat mau berperan pada upaya penanggulangan Covid- 19, termasuk patuh pada protokol kesehatan, maka Negara bisa menghemat anggaran sekitar Rp 500 Triliun. Dana ini dapat digunakan untuk memulihkan ekonomi.

Hal itu diungkapkan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany, dalam Dialog Produktif bertema “Memaksimalkan Pengelolaan Kesehatan Lewat Vaksinasi”, yang digelar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), secara virtual, dari Jakarta, Kamis (26/11)

Karena itu kesadaran kolekstif bahwa kedisiplinan dan membiasakan serta mewajibkan diri untuk mematuhi protokol kesehatan, menjadi penting karena merupakan salah satu kunci agar pandemi Covid-19 segera diakhiri.

Pemerintah sudah sejak awal mengajak masyarakat, untuk secara disiplin, untuk mencegah penyebaran Covid-19, yaitu dengan berperilaku hidup sehat. Masyarakat harus selalu menerapkan kebiasaan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak/menghindari kerumunan.

Pemerintah pun, saat ini secara serius berupaya menangani pandemi Covid-19, dengan mempertimbangkan sisi kesehatan dan perekonomian secara bersamaan.

Dari sisi ekonomi, pemerintah mengambil langkah 3T (Tracing, Testing, Treatment), sebagai pendekatan protokol kesehatan.

“Perlindungan terhadap Kesehatan masyarakat menjadi prioritas, dan pemerintah terus melakukan upaya 3Tserta edukasi 3M guna menekan penularan Covid-19”, kata dia.

Selain itu, kata Hasbullah, pemerintah juga memastikan perawatan rumah sakit bagi pasien Covid-19 ditanggung sepenuhnya melalui anggaran Kementerian Kesehatan.

Namun demikian, ia meminta kepada masyarakat agar memahami dampak yang ditimbulkan Covid-19.

Selain biaya yang besar masyarakat yang terdampak Covid-19 tidak bisa bekerja secara produktif sehingga menurunkan pendapatan. Belum lagi kerugian apabila ada warga negara yang meninggal di usia produktif, beban biaya keluarga yang ditinggalkan pasien.

Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

Meski ditanggung negara, hasbullah mengingatkan masyarakat jangan merasa nyaman dan tidak peduli. Hasbullah menyampaikan, berdasarkan hasil survei, menunjukkan rata-rata biaya perawatan yang dikeluarkan Rp184 juta per orang.

Dengan biaya yang sebesar itu, masyarakat yang terdampak Covid-19 tidak bisa bekerja secara produktif sehingga menurunkan pendapatan mereka.

“Belum lagi kerugian apabila ada warga negara yang meninggal di usia produktif, beban biaya keluarga yang ditinggalkan pasien. Saat ini pemerintah memang menanggung biaya rumah sakit. Saya kira kalau dirawat lebih dari 30 hari apalagi harus masuk ICU, biayanya bisa sehari Rp15 juta, jika dikalkulasikan pengeluarannya bisa lebih dari seratus juta per bulan,” paparnya.

Dalam perbincangan, Hasbullah menyatakan, cara terbaik agar masyarakat dan negara tidak merugi lebih besar lagi adalah dengan mencegah, jangan sampai terkena Covid-19. Oleh karena itu, dia menyarankan untuk disiplin menjalani protokol kesehatan 3M.

“Kalau nanti sudah ada vaksin, kita tambah dengan vaksin. Meskipun harga vaksin belum keluar nilainya, tapi misalnya harganya nanti katakanlah Rp200.000, investasi ini akan memberikan kita peluang lebih aman daripada berisiko besar terinfeksi dan memerlukan pengobatan,” terangnya.

Menyambung penyataannya, Hasbullah meningatkan kepada masyarakat untuk senantiasa selalu menjaga diri dan orang lain di sekitar kita agar tidak tertular Covid-19. Ia juga meminta masyarakat untuk berpifikir positif, selektif, dan cerdas dalam menerima informasi.

“Ambil informasi dari sumber resmi dan terpercaya seperti penjelasan pemerintah,” imbuhnya.

Ceritakan Pengalaman

Tidak hanya merugikan secara ekonomi, penyakit ini sangat serius seperti diungkap Icha Atmadi, salah seorang penyintas Covid-19, Dari pengalamannya, Icha membenarkan pernyataan Hasbullah tersebut.

“Semua pasien Covid-19, baik yang gejalanya ringan, sedang, maupun berat, mengalami titik terendah sehingga membuat kita lebih introspeksi. Ayah saya sampai mendapatkan beberapa suntikan infus, ditambahkan alat bantu pernafasan, serta alat pendukung dan tindakan medis lainnya. Jadi benar-benar mencemaskan waktu itu,” jelasnya.

Icha mengungkapkan, bagi penyintas seperti dirinya, gejala paling ringan pun bisa terasa sakit, baik bagi fisik maupun mental. Apalagi bagi mereka yang mengalami gejala berat, seperti yang dialami ayahnya kala itu yang memerlukan alat bantu pernafasan.

“Timbulnya perasaan cemas yang dirasakan setiap hari itu, jika tak diatasi maka akan menghadapi kematian,” ujarnya.

Lebih lanjut, setelah dinyatakan sembuh, Icha mengatakan bahwa ia dan keluarga kini lebih memperketat lagi aturan protokol kesehatan Covid-19.

Pengalaman yang ia alami ini dibagikan kepada masyarkat agar tidak mengalami hal serupa. Menurutnya, sebagai warga negara sudah sepatutnya harus menyadari bahwa mencegah penularan Covid-19 sangat besar manfaatnya bagi diri sendiri serta orang lain.

“Manfaatnya memang tidak kelihatan saat kita belum mengalaminya, sama seperti perumpamaan, kita baru menyadari mahalnya mata kita saat kita sudah tidak bisa melihat lagi. Jadi jangan kita tunggu sampai kita kehilangan penglihatan. Mencegah jauh lebih baik dan itulah amal ibadah kita”, sambung Hasbullah. (HS-08)

Share This

195 Orang Jadi Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang

Terima DIPA 2021, Menkominfo: Mari Kerja Bersama