Pakar: Diperlukan Iptek Untuk Penanganan Ketersediaan Air Tawar

Rawapening sebagai sumber air tawar kini kondisinya ditumbuhi gulma dan terjadi lahan baru.

 

HALO SEMARANG – Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), sangat diperlukan untuk membantu menanganai masalah-masalah yang berkait dengan ketersediaan dan kelestarian air tawar untuk umat manusia. Iptek bisa dimanfaatkan untuk menjaga ketersediaan air tawar bagi kebutuhan manusia dan mahluk hidup lainnya.

Pakar Lingkungan Universitas Diponegoro (Undip), Prof Syafrudin mengatakan, persoalan ketersediaan air tawar bersih mulai dialami banyak daerah. Hal itu dipengaruhi banyak sebab, ada faktor alam, pencemaran, dan persoalan lainnya. Dia mencontohkan, daya tampung air di Rawapening, yang ada di wilayah Kabupaten Semarang mengalami penurunan.

Menurutnya, Rawapening menjadi contoh terjadinya penurunan daya dukung karena komponen lain.

“Danau alami yang semula memiliki 9 titik anak sungai, kini daya tampung airnya makin menurun karena masuknya residu, eutrofikasi (masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat dalam ekosistem air tawar) yang berlebihan, serta tumbuhnya gulma yang berlebihan,” ujarnya dalam presentasi berjudul Daya Dukung dan Daya Tampung Sebagai Pengendali Pengelolaan Lingkungan yang digelar secara virtual, baru-baru ini.

Akibatnya, lanjut Syafrudin, luas penampang basah Rawapening berkurang, hingga tumbuh lahan baru di sekelilingnya. Padahal perannya adalah sebagai sumber air tawar.

“Kalau dibiarkan, lama-lama fungsi Rawapening sebagai penampung air tawar akan habis,” ujarnya.

Selain danau, lanjutnya, fungsi sungai juga terus terdegradasi. Karena itu disarankan agar penggunaan air di sekitar DAS dibatasi.

“Dalam konteks inilah, ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) diperlukan untuk membantu menanganai masalah-masalah yang berkait dengan ketersediaan dan kelestarian air tawar untuk umat manusia,” katanya.

Syafrudin mengingatkan pentingnya memakai pendekatan Iptek untuk menjaga ketersediaan air tawar, sebagai strategi untuk mempertahankan ketersediaan air bersih di bumi.

Menurut Prof Syafrudin yang juga Wakil Direktur Kerjasama Riset dan Industri Undip ini, air tawar yang bisa dimanfaatkan dengan biaya rendah berupa air di danau, sungai, waduk dan sumber air tanah dangkal.

“Diperlukan upaya bersama untuk mempertahankan keberadaannya untuk kelangsungan kehidupan peradaban yang sekarang dan yang akan datang. Untuk itu diperlukan pengelolaan sumber daya air yang baik berbasis ilmu pengetahuan danteknologi,” katanya.

Pendekatan Iptek mendesak untuk dilakukan karena pemanfaatan air tawar sudah berlebihan.

“Pemanfaatan Iptek tidak bisa dihindarkan lagi kalau ingin ketersediaan air bersih yang memenuhi baku mutu berkelanjutan. Iptek harus menjadi dasar pengelolaan, mulai dari pengaturan sumber daya air mulai dari perencanaannya, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, sampai pengendalian daya rusak air,” paparnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.