in

Padepokan Gunung Talang, Tempat Menggembleng Jawara Silat Semarang Di Masa Lalu

Foto dokumen Pemkot Semarang.

PEMKOT Semarang bersama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Semarang akan membangun padepokan silat di Gunung Talang, Kelurahan Bendan Nduwur, Kecamatan Gajahmungkur. Pembangunan padepokan tersebut akan menelan anggaran hingga Rp 6,9 miliar dan rencananya akan dituntaskan pada tahun ini.

Padepokan Silat Gunung Talang selama ini memang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan olahraga silat di Kota Semarang dan sekitar. Meski saat ini kondisinya mangkrak, namun padepokan silat ini cukup masyhur pada tahun 90an. Hal inilah yang menginisiasi Pemkot Semarang dan IPSI Kota Semarang untuk membangun kembali padepokan yang pernah jadi “kiblat” perkembangan pencak silat di Kota Lumpia.

“Padepokan Gunung Talang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pencak silat di Kota Semarang. Pemkot Semarang sendiri siap mensupport olahraga pencak silat, karena ini merupakan bela diri yang sudah jadi budaya asli Indonesia. Jadi mengingatkan kita bahwa pencak silat itu budaya bangsa, jatidri bangsa Indonesia yang harus dipertahankan dan dikembangkan,” kata Sekda Kota Semarang, Iswar Aminuddin saat pelantikan pengurus IPSI Kota Semarang di GOR Manunggal Jati, Sabtu (21/5/2022).

Padepokan Silat Gunung Talang, yang terletak di bukit Gunung Talang, Kelurahan Bendan Dhuwur, Kecamatan Gajahmungkur ini, dulunya sempat menjadi basecamp atlet dan seluruh perguruan pencak silat di Kota Semarang pada tahun 1990-an.

Meski demikian selama kurun waktu 15 tahun terakhir padepokan itu tak lagi ada aktivitas dan akhirnya terlantar. Bangunannya rusak dan mangkrak membuat kesan mistis sangat terasa saat memasuki kawasan bukit yang dikenal dengan nama Gunung Talang di wilayah Sampangan tersebut.

Jika dari arah Jalan Menoreh Raya, sebelum jembatan besi Sampangan, tepat di pertigaan itu, terdapat kawasan “hutan kecil” dan bukit di sisi kiri jalan.
Di atas bukit itulah terdapat Padepokan Gunung Talang.

Untuk sampai ke puncaknya, ada jalan beraspal yang cukup lebar, sehingga baik kendaraan roda dua atau roda empat bisa melewatinya.

Di situlah berdiri sebuah bangunan joglo besar yang sebagian besar konstruksinya terbuat dari kayu jati. Namun kini di beberapa bagian bangunan sudah rusak, seperti atapnya ambrol, kayu yang mulai lapuk, dan tumbuhan liar yang hidup di tengah bangunan.

Dari cerita warga, dulunya, bangunan berbentuk joglo limasan yang dikelilingi rerimbunan pohon itu merupakan padepokan silat yang digunakan untuk latihan atlet pencak silat dari banyak perguruan silat di Kota Semarang pada tahun 1980 hingga 1990-an. Di padepokan ini, juga ada sekretariat perguruan silat di seluruh Kota Semarang. Seperti perguruan Merpati Putih, Kala Hitam, dan lainnya.

Joglo Limasan

Menurut Imam Rahmayadi, mantan pesilat perguruan Merpati Putih, dulu di sekitar padepokan berbentuk joglo limasan ini, berdiri sekretariat silat dari semua perguruan pencak silat yang ada di Kota Semarang.

“Dan di padepokan ini ada pertandingan atau kejuaraan pencak silat secara reguler bagi semua perguruan pencak silat di Kota Semarang dan Jawa Tengah. Atlet andalannya akan dikirim ke sini untuk adu kekuatan. Pesertanya merupakan jawara-jawara pencak silat perwakilan perguruan masing-masing,” katanya, baru-baru ini.

Sayangnya karena tak lagi representatif padepokan tersebut sudah lama tidak digunakan untuk latihan. “Dulu di padepokan ini ada tempat latihan yang cukup luas, berukuran 25×25 meter. Sehingga bisa diisi untuk dua matras, dan kerap jadi tempat pertandingan pencak silat,” katanya.

“Sekarang tidak dipakai karena kondisi sudah tidak representatif. Arena pertandingan ini pada eranya jadi kebanggan atlet pencak silat Kota Semarang,” terangnya.

Menurut cerita warga, bangunan berbentuk joglo limasan itu sebelumnya berada di Kanjengan dan menjadi bagian dari bangunan pemerintah Kabupaten Semarang.
Sekitar tahun 1974, pendapa itu dipindah dari Kanjengan ke Gunung Talang.

“Bangunan keseluruhannya pun dari kayu jati. Kalau sekarang soko gurunya dari cor beton, karena sekitar tahun 1978 bangunan asli roboh diterjang angin kencang. Kemudian dibangun lagi dan menjadi padepokan untuk berlatih dan bertanding pencak silat,” tutur Imam.

Jumlah soko guru bagian tengah pun dahulu hanya empat, bukan 12 seperti sekarang ini. Kawasan Gunung Talang juga sempat dikelola Dinas Kebesihan dan Pertamanan Kota Semarang dan hendak dibangun jogging track, parkir pengunjung, gardu pandang, mushala dan kafe kecil.

Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Semarang memang sudah lama berencana menghidupkan kembali Padepokan Gunung Talang ini. Hal itu dipaparkan Ketua IPSI Kota Semarang, Joko Santoso belum lama ini.

“Kami telah mengusulkan renovasi Padepokan Gunung Talang, dan rencananya baru teralisasi pada tahun ini,” kata Joko Santoso.

Sementara kawasan Padepokan Gunung Talang, meski berada di tempat yang agak tersembunyi dan terkesan angker masih banyak dikunjungi warga untuk keperluan pengambilan foto atau video.(HS)

Siapkan Anggaran Rp 6,9 Miliar, Pemkot Semarang Dan IPSI Bangun Padepokan Silat di Gunung Talang

Perdalam Teknologi IoT dan Cloud Computing, Guru TKJ SMK Walisongo Ikuti Pelatihan di FTIK USM