Pabrikan Rokok Diminta Serap Tembakau Petani Temanggung Sampai Habis

Dirjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim, bersama Sekretaris Dirjen Industri, Agri Emil Satria, dan Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Edy Sutopo saat berkunjung ke Kabupaten Temanggung, baru-baru ini.

 

HALO TEMANGGUNG – Persoalan yang dialami para petani dan penjual tembakau di Kabupaten Temanggung, mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Dirjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim, bersama Sekretaris Dirjen Industri, Agri Emil Satria, dan Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Edy Sutopo berkunjung ke Kabupaten Temanggung untuk melihat langsung kondisi lapangan, guna mengatasi persoalan tembakau yang tak kunjung usai, baru-baru ini.

Mereka mengunjungi perwakilan pabrikan rokok terbesar di Indonesia yang ada di Kabupaten Temanggung, yakni PT Djarum dan PT Gudang Garam, untuk meninjau proses jual beli yang dilakukan oleh kedua pabrikan tersebut.

“Setelah mendapat surat dari Pak Bupati yang ditujukan ke Pak Menteri, kami mengambil keputusan untuk melihat langsung kondisi lapangan. Ternyata beberapa persoalan, seperti dampak pandemi Covid-19 dan cuaca juga mempengaruhi kualitas tembakau jadi agak rendah,” terang Abdul Rochim.

Diungkapkan, saling pengertian antara industri dengan petani sangat dibutuhkan untuk tetap menjaga keharmonisan kedua belah pihak. Jadi diharapkan industri tetap membeli dengan harga yang pantas sesuai dengan kualitasnya.

“Kerja sama antara petani dan industri harus tetap terjaga supaya persoalan tembakau m tidak membuat petani takut untuk menanam tembakau lagi. Hal ini penting untuk menyuplai kebutuhan bahan industri selanjutnya,” imbuhnya.

Abdul Rochim menegaskan, pihaknya akan berupaya meminta pabrikan supaya membeli tembakau Temanggung hingga habis, dengan harga yang pantas.

“Kedatangan kami ke Temanggung sebagai jembatan antara petani dan juga pabrikan supaya membeli semua tembakau Temanggung sampai habis. Tetapi dengan catatan, sesuai permintaan pabrik untuk tidak mencampur tembakau Temanggung dengan tembakau selain dari Temanggung,” jelasnya.

Sedangkan untuk masalah produksi rokok, lanjut Abdul Rochim, memang mengalami penurunan hingga 10 persen.

Ini disebabkan adanya pandemi dan juga kenaikan cukai rokok yang cukup signifikan. Hal ini juga membuat penjualan rokok menjadi menurun.

Sebelumnya, Bupati Temanggung, Al Khadziq mengatakan, pengurangan kuota pembelian juga menjadi salah satu penyebab lambatnya pembelian tembakau dari petani.

Menurunnya angka penjualan rokok imbas dari kenaikan cukai menjadi salah satu kendalanya. Ini berimbas ke pembelian tembakau dari petani.

“Kepada Pak Dirjen kami berharap supaya segera menyampaikan kepada direksi PT Djarum dan PT Gudang Garam, agar tembakau petani Temanggung dibeli sampai habis. Karena kalau kedua pabrikan membeli dengan cepat, maka akan ada persaingan harga,” ungkapnya.

Sementara itu Perwakilan dari PT Djarum, Hugiono mengungkapkan, saat ini pembelian tembakau masih dilakukan. Hingga kini pihaknya sudah membeli sekitar 3.300 ton dari rencana pembelian sebanyak 6.500 ton.

Sedangkan, Tjong They atau Hartanto dari PT Gudang Garam mengakui, kegiatan tahun ini sangat terbatas karena adanya pandemi Covid-19.

Dia menuturkan, pihaknya tetap melakukan pembelian, namun dengan penerapan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 secara ketat.

Selain mengunjungi kedua perwakilan pabrikan, rombongan Juga berkunjung ke Desa Lamuk Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo untuk menemui petani tembakau dan berdiskusi soal harga dan kualitas pada musim tembakau tahun ini.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.