P2BMI Jalin Kerja Sama dengan IJTI Jateng dan Perguruan Tinggi

Kerja sama P2BMI itu, antara lain dilakukan dengan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Undaris Ungaran, dan Ikatan Jurnalis Televisi (IJTI) Jawa Tengah, Kamis (11/2). (Foto : Dok)

 

HALO SEMARANG –Pusat Pemerhati Perlindungan Buruh Migran Indonesia (P2BMI), menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, untuk memperkuat upaya mencegah praktik pengiriman pekerja migran secara illegal.

Praktik pengiriman secara illegal tersebut harus dihentikan, karena sangat merugikan tenaga kerja Indonesia. Dengan berangkat secara illegal, berarti perlindungan kepada mereka juga lemah.

Kerja sama P2BMI itu, antara lain dilakukan dengan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Undaris Ungaran, dan Ikatan Jurnalis Televisi (IJTI) Jawa Tengah, Kamis (11/2).

Ketua P2BMI, Tendy Suciatmoko SH menyatakan pemerintah masih kekurangan SDM untuk memberikan perlindungan kepada para buruh migran, terlebih yang ilegal. Karenanya perlu dukungan berbagai pihak untuk mengatasi masalah ini.

Lebih lanjut dikatakan, praktik pengiriman pekerja migran ke luar negeri masih berlanjut, karena jaringan mafia buruh migran ilegal sangat kuat. Karenanya, upaya preventif yang bisa dilakukan, yaitu dengan memperbaiki regulasi, perbaikan sistem, serta penempatan orang yang tepat di jajaran lembaga yang terkait.

“Karena itu, kami ingin berkolaborasi untuk melakukan pencegahan pengiriman pekerja atau buruh migran ilegal di antaranya dengan perguruan tinggi yang nantinya mendirikan pusat kajian terkait kebijakan pemerintah dalam penempatan pekerja atau buruh migran. Serta perlu dukungan pemberitaaan dari media massa, agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas dan tidak menjadi korban” jelasnya.

Harapan itu pun disambut baik oleh Ketua IJTI Jawa Tengah, Dr Teguh Hadi Prayitno MM M Hum MH, beserta jajaran pengurus lainnya. Dalam sambutannya, Teguh menyatakan sejalan dengan fungsi pers, yaitu sebagai media pendidikan, penyampai informasi serta kritik sosial, maka pihaknya siap ikut memberikan informasi yang akurat dan berimbang, tentang pekerja migran.

“Dengan kerja sama ini, kita akan saling berbagi ilmu. Teman-teman jurnalis bisa belajar banyak tentang seluk beluk dunia ketenagakerjaan khususnya pekerja migran, agar nantinya bisa menghasilkan karya jurnalistik yang bagus dan memberi manfaat kepada masyarakat. Sedangkan bagi P2BMI bisa mendapatkan pencerahan tentang dunia pers serta keberadaan media sosial,” jelasnya.

Rektor Unwahas, Prof Mahmuhtarom HR, mengatakan Unwahas siap mengambil peran dalam memerangi praktik mafia pekerja migran.

“Unwahas siap ikut memerangi merebaknya TKI ilegal. Caranya dengan memanfaatkan sarana prasarana di kampus. Sehingga calon pekerja migran memiliki skill dan kompetensi tertentu,” katanya.

Rektor Undaris, Dr Hono Sejati M Hum mengatakan banyak permasalahan pada pengiriman pekerja migran Indonesia. Di antaranya berkaitan dengan proses perizinan. Dia mencontohkan keberangkatan pekerja migran menggunakan visa wisata, namun kenyataannya untuk bekerja.

“Persoalan yang muncul, mereka bekerja berbulan-bulan, tetapi tidak diberi upah. Mereka perlu dilindungi, diperhatikan sebelum dan sesudah. Sehingga perlu ada pembekalan dan pelatihan, bukan hanya memperbanyak devisa,” ucapnya.

Sementara, Ketua Umum DPP Keluarga Alumi Universitas Wahid Hasyim, Herry Darman menyatakan dukungannya atas upaya P2BMI dalam melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan pers. Dia meminta lembaga itu harus berkomitmennya dalam melindungi pekerja migran Indonesia.

“Mudah-mudahan P2BMI siap membantu pekerja migran Indonesia  dengan pelayanan yang maksimal. Termasuk melawan mafia migran ilegal,” kata Herry Darman yang juga seorang advokat. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.