in

Orangtua Nunggak BPJS Mandiri, Anak Kurang Gizi di Kendal Tak Bisa Berobat

Muhammad Farid Atallah yang menderita gizi buruk dipangku oleh 

HALO KENDAL – Biaya berobat sering kali menjadi kendala sebagian masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama bagi warga yang kurang mampu. Hal tersebut terjadi karena mahalnya biaya berobat yang ada saat ini.

Tidak sedikit orang yang menahan sakit serta tidak berani berobat karena khawatir akan besarnya biaya pelayanan kesehatan yang harus dibayarkan.

Seperti yang dialami pasutri asal Desa Brangsong RT 23 RW 8, Kecamatan Brangsong, Wahyudi (40) dan Listiyani (39), yang memiliki anak penderita kurang gizi, Muhammad Farid Atallah (8).

Wahyudi mengaku, sejak lahir anaknya premature. Kemudian setelah tumbuh besar anaknya masih belum bisa berjalan. Bahkan sampai sekarang Muhammad Farid Atallah hanya bisa berjalan merangkak.

“Ya sakitnya sejak bayi lahirnya prematur. Terus setelah tumbuh besar dan sampai sekarang belum bisa berjalan. Kalau sekolah setiap hari harus digendong, diantar dan ditunggu istri saya,” ungkapnya.

Wahyudi mengungkapkan, selama ini dirinya ingin mengobatkan anaknya ke rumah sakit. Karena selama ini hanya berobat di pengonatan alternatif.

Namun dia juga mengaku pernah ditolak pihak rumah sakit karena berobat memakai Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

“Dulu pernah, kita akan berobat di RSUD dr Soewondo Kendal pakai SKTM. Tapi ditolak oleh pihak rumah sakit, alasannya karena kami masih menunggak pembayaran BPJS mandiri sebesar sembilan juta rupiah,” ungkap Wahyudi.

Dirinya berharap, bisa mengobatkan anaknya dengan BPJS. Sekaligus bisa diusahakan mendapatkan kursi roda atau sepatu ortopedi untuk anaknya.

Disinggung apakah selama ini mendapatkan bantuan dari pemerintah, Listiyani istri Wahyudi mengaku mendapatkan bantuan pemerintah terkait dampak corona sebanyak dua periode dan dari Baznas Kendal dalam program bantuan sekolah.

Sementara Muhammad Farid Atallah mengungkapkan keinginannya untuk bisa berjalan. “Kalau bisa saya minta bisa berjalan,” ungkap Muhammad Farid Atallah di pangkuan orang tuanya.

Sementara itu, Kepala Desa Brangsong, Asnawi mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan pendataan untuk pendaftaran kepesertaan warga di BPJS.

Bukan hanya warga yang belum terdaftar di BPJS saja, bahkan warga yang sudah ikut namun sudah tidak aktif akan diperbaharui.

“Saat ini sudah ada 500 lebih warga yamg mendaftar dan didata, terutama untuk warga yang tidak mampu, termasuk yang BPJS nya sudah tidak aktif akan didaftarkan tim verifikator untuk pendataan Dinas Sosial Kabupaten Kendal,” ujarnya.

Dirinya memgimbau kepada perangkat desa dan masyarakat, untuk bersama-sama saling menjaga warga yang tidak mampu. Supaya mendapatkan bantuan dan terdata di dinas terkait.

Asnawi juga mengaku terkait ketidaktahuan adanya warganya yang sakit dan tidak mampu untuk berobat tersebut, adalah murni karena komunikasi dari perangkat desa.

“Kalau ada warga yang sakit dan kurang mampu bisa melaporkan kepada kami. Ya tidak harus perangkat desa bisa, tapi juga masyarakat. Supaya bisa kami sampaikan kepada dinas-dinas terkait di Kabupaten Kendal,” pungkasnya. (HS).

Tolak Klaim Malaysia, Komunitas Reog Pantura Gelar Orasi

Bupati Karanganyar Resmikan Dua Masjid di Kecamatan Colomadu