in

Optimalisasi Angkutan Logistik Berbasis Jalur Rel Bisa Terlaksana, Pengamat: Jika Ada Kesetaraan Kebijakan

Ilustrasi foto: Kereta Api Barang.

 

HALO SEMARANG – Optimalisasi angkutan barang menggunakan jalan rel masih dapat dilakukan jika ada kesetaraan kebijakan dari pemerintah dengan angkutan jalan raya. Selain itu, dapat menghemat APBN dan APBD untuk perawatan kerusakan jalan akibat operasional truk over dimenssion and overload (ODOL).

Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno mengatakan, pembangunan jalan rel di zaman Hindia Belanda bermula untuk angkutan barang, seperti di Pulau Sumatera mengangkut hasil tambang batubara dan hasil perkebunan.

Sedangkan di Pulau Jawa mengangkut hasil hutan jati, perkebunan, dan industri gula.

“Kapasitas lintas kereta di Pulau Jawa ditingkatkan dengan membangun jalan rel ganda (double track) dengan target selesai 2024. Rel ganda menambah kapasitas lintas, terutama untuk optimalisasi angkutan barang,” katanya, Minggu (17/10/2021).

Sementara data dari Kementerian PUPR (2017) menyebutkan, kerugian Rp 43 triliun dari dampak operasional truk ODOL (over dimenssion and overload). Ditargetkan Kementerian Perhubungan pada Januari 2023, Indonesia sudah bebas truk ODOL.

Namun hal itu nampaknya tidak mudah dilakukan jika tidak menyertakan peran moda KA untuk mengangkut sebagian angkutan logistik selama ini diangkut truk melalui jalan raya.

“Harus ada kesetaraan kebijakan angkutan logistik di jalan raya dan jalan rel. Pengenaan PPN 10 persen dan TAC (track access charge) perlu dihilangkan sementara waktu, supaya ada peralihan angkut barang dari jalan raya sebagian ke jalan rel, terutama untuk jarak jauh,” terangnya.

Apalagi saat ini, kata dia, reaktivasi jalur KA sudah dimulai, misalnya lintas Binjai – Besitang (78 km), lintas Cibatu – Garut (19,3 km). Berikutnya dapat melakukan reaktivasi jalur KA untuk jalur wisata selain digunakan untuk rutinitas penumpang.

“Seperti Cikudapeteuh (Bandung) – Ciwidey (36 km), Padang – Padang Panjang – Solok – Muarakalaban – Sawahlunto (151 km), Padang Panjang – Bukittinggi – Payakumbuh – Limbanang (72 km), Kedungjati – Tuntang (30 km). Lalu, Yogyakarta – Borobudur (bagian reaktivasi dari Yogyakarta – Kedungjati, KSPN Borobudur), Rangkasibitung – Saketi – Labuhan (KSPN Tanjung Lesung),” tambahnya.

Selain itu, juga dengan penambahan lintas reaktivasi untuk penumpang dan barang. seperti Semarang-Rembang 99 km, Purwokerto-Wonosobo 98 km, Garut – Cikajang 27,7 km, Banjar – Padalarang – Cijulang 83 km, Rancaekek – Tanjungsari (bagian KA Perkotaan Bandung Raya) sepanjang 11 km, Padalarang-Cianjur 22 km.

“Di Papua sudah ada jaringan jalan rel untuk operasi tambang tembaga oleh PT Freeport Indonesia. Sehingga perlu dirintis jalan rel di daerah lainnya, misalnya Aimas – Sorong (Papua Barat) yang ada KEK Sorong. Sebab, Ddua kota ini sekarang semakin tinggi mobilitas warganya,” pungkasnya.(HS)

Share This

Kepengurusan PBSI Kendal Periode 2021-2025 Terbentuk, Pengurus Lama Serahkan Inventaris

Jateng Posisi Ke-6 Raihan Medali PON XX Papua 2021, Taj Yasin Minta Ada Evaluasi