in

Ogah Bermalas-malasan, Kakek 75 Tahun Tiap Hari Jalan Kaki Jual Kerai Bambu

Pamen (75) saat membuat kerai di gubuknya Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

 

HALO SEMARANG – Bambu-bambu panjang dipotong sama rata menjadi ukuran dua meter. Dibilah hingga berupa beberapa bagian dengan tebal sekira tiga centimeter, dihaluskan dari sisi yang tajam, hingga disusun menjadi jalinan bilah bambu.

Setiap harinya, di sebuah gubuk sederhana Pamen (75) warga Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang disibukkan dengan aktivitas memproduksi kerai.

Setelah jumlah kerai buatannya dirasa cukup, Pamen bergegas menjualnya. Ia berjalan kaki tak menentu tujuan, hanya menyusuri jalan dari rumahnya hingga arah Ungaran untuk menjual kerai buatannya.

Saat ini, Pamen hanya mampu memikul dua gulung bidai dengan panjang dan lebar dua meter, berat satuan sekitar 10 kilogram. Ia juga belum tahu siapa yang akan membeli dagangannya. Harapannya terdapat pembeli dan laku semua dagangan ketika melangkahkan kaki untuk membuat dirinya cepat pulang ke rumah.

“Selama kerai belum laku, saya tidak akan pulang, dan lebih memilih terus berjalan. Sesekali istirahat di pinggir jalan, atau di masjid. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali untuk menjual kerai ini (kerai bambu),” terang kakek yang kerap disapa Mbah Men, belum lama ini.

Diceritakannya, saat masih muda bahunya sanggup memikul hingga empat gulung kerai dengan ukuran sama. Tiap satu gulung kerai, ia jual dengan harga Rp 125 ribu.

“Itu saya berjualan dengan cara jalan kaki, sebagai upaya untuk mencari keuntungan yang lebih dari harga pedagang di pasar yang harganya Rp 90 ribu per kerai,” jelasnya.

Di usia senjanya, selama masih diberi kesehatan, Mbah Men ogah bermalas-malasan dan terus melakukan aktivitasnya. Dalam hidup, ia berpandangan sebagai ikhtiar menjemput rezeki manusia tidak boleh sebagai pengangguran.

“Orang hidup itu harus urup (menyala), seperti butuh rokok, kita butuh uang untuk membeli tembakau, cengkeh, dan kertas rokok. Membuat kerai seperti ini, selain supaya saya punya kegiatan, juga merupakan bentuk ikhtiar saya menjemput rezeki dari yang Maha Kuasa. Maka dari itu, orang sehat kalau menganggur saya kira kurang pas,” ungkapnya Mbah Men yang bergelut membuat kerai sejak 1976 silam.

“Saya tidak ingin bergantung dengan anak-anak. Mereka juga harus bekerja untuk mendapatkan uang. Masak saya hanya sekadar menunggu, meminta, tidak. Saya juga harus bekerja, supaya ada kegiatan. Kalau bisa, saya malah ingin memberi uang kepada anak, cucu-cucu saya itu,” sambungnya.(HS)

Share This

Kembali Berulah, Bruno Silva Disanksi Manajemen PSIS

Gagal Tampil pada MotoGP San Marino