in

Nikmatnya Sarapan dengan Sambal Tumpang ‘Tempe Busuk’ Khas Kediri

Sani penjual Sambal Tumpang saat melayani pembeli di Jalan Prof Sudharto, tepatnya di depan kantor Kelurahan Sumurboto, Semarang, Sabtu (10/7/2021).

 

MENCARI variasi menu sarapan di Kota Semarang tidaklah sulit. Sebab di tiap-tiap wilayahnya banyak bermunculan para penjaja makanan, mulai dari warung makan pedagang kaki lima, rumah makan, hingga restoran.

Tersedia banyak menu sarapan yang ditawarkan, malah kadang membuat sulit menentukan pilihan. Banyak pedagang menyediakan berbagai menu masakan, yang hadir tidak hanya dari dalam kota sendiri, melainkan juga menu khas dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dunia.

Salah satunya menu khas masakan asal Kediri. Menu sarapan itu adalah sambal tumpang. Masakan berkuah kental berbahan dasar tak lazim yaitu tempe yang hampir busuk ini ditawarkan oleh Sani, perempuan asal Nganjuk yang menetap di Kota Semarang.

“Karena daerah sini kebanyakan masakannya itu serba manis, kemudian masakan asli Jawa Timur itu jarang. Saya pun mencoba jualan nasi pecel, lalu ada sambal tumpang khas Kediri,” ungkap Sani kepada halosemarang.id, Sabtu (10/7/2021).

Menurutnya, sambal tumpang memiliki ciri tersendiri. Di daerah asalnya sambal tumpang biasa menjadi menu sarapan sehari-hari. Oleh karena itu, dirinya memiliki inisiatif menyediakan menu sambal tumpang bagi mahasiswa atau perantau asal Kediri Raya.

Hal yang membuat rindu, sambungnya, adalah tempe busuk. Tempe busuk itu ditumis dengan aneka rempah-rempah, santan, dan diberi sedikit penyedap rasa. Hasilnya tidak menyerupai sambal pada umumnya, warnanya putih dengan bau tempe hampir busuk yang khas.

“Juga menjadi rujukan mahasiswa asli Jawa Timur yang kangen sambel tumpang asal Kediri,” kata ibu satu anak ini.

Ia menjelaskan, bau khas tempe busuk di sambal tumpang ini juga telah menghipnotis masyarakat sekitar. Masyarakat, lanjutnya, yang belum tahu pasti akan mencoba dan selanjutnya mencari lagi.

“Sampai sekarang malah banyak penggemarnya, mungkin karena beda,” jelasnya.

Sani menceritakan, ia telah berjualan kurang lebih lima tahun di rumahnya daerah Sumurobo, Kecamatan Banyumanik. Baru-baru ini, sejak Juni 2020 dirinya mengubah warungnya menjadi portabel.

Sepeda motornya disulap menjadi semacam gerobak untuk berjualan. Kini, tiap pagi Sani dapat ditemui di Jalan Prof Sudharto, tepatnya di depan kantor Kelurahan Sumurboto.

“Jualan di pinggir jalan sejak adanya pandemi Covid-19. Sebelumnya jualan di rumah, karena mahasiswa pada kuliah dari rumah, saya memutuskan untuk jualan di sini,” tuturnya.

Sani menawarkan sambal tumpang sudah dengan rempeyek mulai dari Rp 7.000, sementara dengan nasi cukup menambah Rp 3.000. Selain itu, juga terdapat beraneka jenis gorengan dengan harga Rp 1.000.(HS)

Share This

Jembatan Plipiran Terus Dikebut, Kini Sudah 80 Persen

Vaksinasi Usia Minimal 12 Tahun di Kendal Terus Digencarkan