in

Nikmatnya Sarapan Dengan Nasi Jagung

Penjual nasi jagung di Pasar Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

 

NASI jagung adalah suatu makanan khas Indonesia yang terbuat dari jagung sebagai bahan dasarnya. Jagung yang digunakan adalah yang sudah tua atau dikenal dengan istilah jagung pipil.

Di pasaran jagung pipil tersebut mudah ditemukan karena harganya yang relatif murah dibandingkan dengan harga jagung manis ataupun jagung muda. Untuk penyajiannya, nasi jagung sama dengan nasi putih biasa, dimakan dengan lauk-pauk lainnya.

Namun di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Kota Semarang, Grobogan, Demak dan sekitarnya, nasi jagung biasanya disajikan dengan gudangan (urap atau kluban), peyek teri, dan jantung pisang. Kadang bagi sebagian orang juga ditambah dengan botok mlanding.

Nasi jagung yang cocok disantap saat pagi hari untuk menu sarapan keluarga, jadi salah satu kekayaan kuliner tradisional di Jawa Tengah. Di era modern ini, meski tak mudah mendapatkannya, namun di beberapa pasar tradisonal masih kerap ditemukan penjual nasi jagung.

Di wilayah Pedurungan, Tembalang, dan beberapa wilayah timur Kota Semarang, pedagang nasi jagung kebanyakan berasal dari Karangrayung, Kabupaten Grobogan.

Dari pantauan halosemarang.id, setiap Sabtu dan Minggu, “rombongan” pedagang nasi jagung dari Karangrayung tersebut datang ke Kota Semarang untuk menjajakan makanan tradisional ini di beberapa pasar. Mereka biasanya menyebar ke pasar tradisional seperti Pasar Sendangmulyo, Pasar Pedurungan, Tlogosari, Pasar Johar, dan beberapa juga keliling ke wilayah perumahan Kota Semarang.

“Biasanya berangkat bareng-bareng dari Karangrayung, pukul 03.00 WIB naik bus. Kemudian berhenti di Jalan Majapahit untuk menyebar,” kata Bu Sri, salah satu pedagang nasi jagung yang ditemui halosemarang.id di Pasar Sendangmulyo belum lama ini.

Bu Sri mengatakan, dia memadukan nasi jagung urap sayur dengan peyek teri atau ikan asin. Sudah sejak beberapa tahun lalu dia berprofesi sebagai penjual nasi jagung. Dia mengolah sendiri semua menu yang dijajakannya. Kadang menu nasi jagung ditambah dengan pilihan makanan tradisional lain, seperti buntil daun pepaya dan buntil lompong, tiwul, tape ketan dan lainnya.

“Untuk nasi jagung harganya juga tak mahal, satu porsi Rp 6.000. Buntil saya jual dengan harga Rp 5.000,” katanya.

“Awalnya sih dulu pernah kerja ikut orang di warung, akhirnya memberanikan diri untuk buka sendiri,” kata Sutiyah, pedagang lain.

Dalam sehari, Mak Yah, sapaan akrab Sutiyah bisa memasak sampai 10 kg nasi jagung.

“Dijual sampai habis, biasanya dari pagi sampai pukul 10.00 sudah habis. Kalau memang belum habis ya dibawa pulang,” katanya.

Salah seorang penikmat kuliner nasi jagung yang ditemui di Pasar Sendangmulyo, Afrizal mengakui kelezatan masakan nasi jagung ini. Afrizal menyebut, perpaduan antara nasi jagung dan urap terasa sangat nikmat saat dibuat sarapan.

“Porsinya pas, tidak terlalu banyak sehingga nyaman di perut. Biasanya saya beli pas sambil jalan-jalan atau olahraga,” pata Afrizal.(HS)

Share This

Tertabrak Kapal Saat Melintas di Perairan Mororejo, Dua Nelayan Ini Berhasil Diselamatkan

Ombudsman Jateng Imbau Penertiban Pelanggaran PPKM Darurat Beretika