Nikmatnya Ketan Durian Khas Kendal, Namun Hanya Bisa Bertahan 10 Jam Saja

Nur Amin, salah satu pembuat ketan durian di Desa Sendangkulon, saat ditemui di kediamannya, Rabu (30/9/2020).

 

HALO KENDAL – Ketan Durian menjadi salah satu kuliner yang terus dikembangkan oleh warga Dukuh Ngampelsari, Desa Sendangkulon, Kecamatan Kangkung, Kendal.

Dengan cita rasa yang original dan legit, makanan ini sebenarnya layak dikembangkan sebagai salah satu andalan kuliner khas daerah ini.

Perpaduan ketan dan durian nampak nikmat ketika dihidangkan di pagi maupun sore hari.

“Makanan ketan yang diolah dicampur buah durian di tambah keju dan susu, membuat makanan ini menjadi lebih gurih manis, dengan cita rasa durian yang original,” terang Nur Amin, salah satu pembuat ketan durian di Desa Sendangkulon, saat ditemui di kediamannya, Rabu (30/9/2020).

Menurutnya, kuliner ketan durian yang diproduksi oleh warga Dukuh Ngampelsari ini, dipasarkan sebatas dalam kota Kendal saja. Sebab, jika lebih dari sepuluh jam, ketan durian akan basi karena ada kandungan santannya.

“Adapun bahan yang digunakan untuk membuat ketan durian adalah beras ketan, gula pasir, garam, daun pandang, santan kelapa, keju, susu dan buah durian tentunya,” jelas chef Nur Amin.

Diterangkan, cara mengolah ketan, pertama beras ketan dicuci menggunakan air bersih secukupnya, kemudian dimasak yang dicampur dengan santan yang beri daun pandan dan dimasak selama satu setengah jam.

“Setelah selesai, ketan yang sudah matang didiamkan selama lima belas menit. Kemudian dipindahkan ke tempat yang disediakan menggunakan ceting dari bambu dan dilambari daun pisang. Tujuannya agar aroma ketan ada khas wangi daun pisang selain daun pandan,” ungkap Nur Amin.

Setelah dipindah diceting, kemudian didiamkan lagi kurang lebih 15 menit, agar tidak terlalu panas ketika akan dicetak.

Sambil mempersiapkan santan yang sudah disaring, setelah ketan agak dingin, dicetak menggunakan mangkok kecil.

Setelah selesai, lanjut Nur Amin, hasil cetakan ketan ditaruh di plastik kemasan tempat hamburger. Kemudian dikasih parutan keju dan susu kental manis di atas ketan. Setelah itu ditambah buah durian diatas ketan yang sudah dicampur keju dan susu.

“Kalau durianya besar satu saja cukup, tapi kalau kecil ya kita isi dua. Kemudian kita beri santan yang dibungkus tersendiri dengan plastik dua ons. Terakhir kami kemas dan disteples, agar rapat,” jelasnya.

Saat mencoba mencicipi, memang rasa ketan beraroma wangi durian sangat kuat. Apalagi ditambah dengan taburan santan membuat rasanya gurih dan legit. Cara memakannya pun seperti saat memakan buah durian.

“Untuk ketan durian ini bisa bertahan sepuluh jam saja, sebab ada santanya. Namun jika disimpan di dalam kulkas bisa bertahan hingga lima belas jam. Bagi yang penasaran, silakan mampir ke Dukuh Ngampelsari, Sendangkulon Kangkung,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Kangkung, Ardhi Prasetyo yang juga berada di kediaman Nur Amin mengatakan, kuliner ketan durian ini memang merupakan makanan khas Desa Sendangkulon.

Adapun untuk pemasarannya melalui online dan offline.

“Pemasaran masih di seputaran Kota Kendal dan daerah Temanggung. Kami berharap dengan adanya ketan durian ini bisa dikembangkan oleh warga desa Sendangkulon maupun warga desa lain di wilayah Kecamatan Kangkung,” ungkap Ardhi.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.