in

Nguri-Nguri Budaya, Tradisi Larung Saji Dilestarikan Masyarakat Kendal

Replika Kapal dan Kepala Kambing yang akan dilarung dibawa terlebih dulu ke Petilasan Den Bagus Menot.

BANYAK daerah di Indonesia yang masih kental dalam menjalankan prosesi adat istiadat atau tradisi turun-menurun para leluhurnya, salah satunya larung sesaji dalam rangka sedekah laut.

Pada ritual ini masyarakat dan nelayan berbondong bondong untuk menghiasai kapal atau perahu masing – masing yang berisikan sesaji seperti kepala kerbau dan miniatur kapal.

Setelah melalui beberapa prosesi dan doa, kemudian kapal atau perahu nelayan yang sudah dihias dinaiki oleh warga atau pengunjung yang hadir.

Seperti yang dilakukan masyarakat nelayan Kampung Mbirusari Kelurahan Kalibuntu Kecamatan Kendal, yang menggelar tradisi sedekah laut larung sesaji berupa kepala kambing di tengah laut.

Kegiatan ini biasanya dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Suro. Jalannya acara ini akan dibuka dengan doa, sebagai ungkapan rasa syukur dan bahagia atas hasil laut yang diperoleh selama setahun.

Selain itu para nelayan berharap, ke depannya supaya memperoleh hasil yang lebih baik dan terhindar dari musibah.

Sebelum diarak, kepala kambing dan sesaji lainya terlebih dahulu di bawa ke Petilasan (makam) Den Bagus Menot.

Den Bagus Menot atau Joko Menot, konon adalah anak kandung Tumenggung Mertowijoyo 1. Diketahui bahwa Mertowijoyo 1 adalah Bupati Kendal ke-7 yang menjabat pada tahun 1688-1700.

Menurut penuturan Juru Kunci Makam Den Bagus Menot, Mbah Mujiono mengatakan, ini merupakan tradisi nenek moyang. Setiap bulan Muharram atau biasa disebut Suro, masyarakat nelayan setempat melakukan larung sesaji atau sedekah laut.

Semua sesaji sebelum dilarung dan dibawa ke Petilasan Den Bagus Menot. Menurut Mbah Mujiono, sesaji yang dibawa merupakan kesukaan dari Den Bagus menot, yakni kepala kambing, jajan pasar bubur merah putih dan nasi ingkung.

Dijelaskan, untuk jajan pasar dan nasi ingkung dimakan bersama, sedangkan kepala kambing di larung ke laut menggunakan perahu.

Pada prosesi tersebut, dipanjatkan doa dengan harapan supaya hasil tangkapan ikan nelayan melimpah dan diberi keselamatan saat minyang (melaut).

Setelah prosesi larung sesaji selesai, masyarakat kemudian dihibur dengan berbagai pertunjukan kesenian, baik tradisional maupun modern. Diantaranya, barongan, tari tarian, orkes dangdut dan hiburan lainnya.

Ratusan masyarakat dari berbagai wilayah, antusias mengikuti prosesi larung sesaji dengan tradisi nyadran (menaiki perahu menuju laut).

Salah seorang yang ikut dalam tradisi nyadran, Devi, warga Truko, Kecamatan Kangkung mengaku baru kali ini mengikuti tradisi nyadran di Kampung Mbirusari, Kalibuntu.

Meski merasa pusing dan mual, dirinya mengaku puas bisa mengikuti prosesi nyadran dalam rangka sedekah laut.

Salah seorang warga Mbirusari, Karim mengungkapkan, tradisi larung sesaji sedekah laut ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Supaya hasil tangkapan ikan melimpah dan nelayannya makmur.

Setelah di lakukan doa bersama, nasi ingkung disantap bersama. Setelah itu kepala kambing dan replika kapal diarak dinaikan perahu dan dilarung di tengah laut.

Menurutnya, hal ini sebagai wujud syukur kepada tuhan yang maha esa, agar hasil tangkapan ikan para nelayan banyak dan diberikan keselamatan. (HS-06).

Motif Pembunuhan di Purworejo, Polisi: Sakit Hati Ditagih Hutang

Peringati 155 Tahun Perjalanan Kereta Api Pertama di Indonesia, KAI Daop 4 Semarang Gelar Napak Tilas Jalur Semarang Sampai Stasiun Tanggung