Ngiceng Wong Meteng Turunkan Angka Kematian Ibu di Jateng

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Atikoh Ganjar Pranowo, dalam webinar Peringatan Hari Ibu 2020 yang diselenggarakan Kementrian Kesehatan. (Foto : Jatengprov.go.id)

 

HALO SEMARANG – Gerakan Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng alias 5Ng, yang digelar oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, telah menurunkan angka kasus kematian ibu hamil dan melahirkan di Jawa Tengah.

Angka kematian ibu hamil dan melahirkan, pada 2014 terdapat 711 kasus kematian. Pada 2016, angka tersebut turun menjadi 619 kasus pada 2015, 602 kasus pada 2016, 475 kasus pada 2017, 421 kasus pada 2018, dan turun lagi menjadi 416 kasus pada 2019.

Penurunan angka kematian tersebut berkat sinergi semua pihak dalam melakukan 5NG, termasuk peran PKK Jawa Tengah yang aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, terkait keselamatan ibu.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Atikoh Ganjar Pranowo, dalam webinar Peringatan Hari Ibu 2020 bertajuk “Peran Lintas Sektor Dalam Penyelamatan Ibu” yang diselenggarakan Kementrian Kesehatan, Selasa (15/12) seperti dirilis Jatengprov.go.id.

“Keselamatan ibu hamil dan melahirkan bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan sangat penting pemerintah harus hadir,” ujar Atikoh.

Dia menyebut, di Jawa Tengah sudah mencanangkan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng atau 5NG, untuk keselamatan ibu dan anak mulai hamil hingga melahirkan. Program tersebut cukup efektif mengurangi angka kematian ibu dari tahun ke tahun.

“Sebelum ada program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng, angka kematian ibu di Jawa Tengah cukup tinggi. Namun,  belakangan trennya menurun,” paparnya.

Menurut Atikoh, ada empat peran PKK dalam mengurangi angka kematian ibu. Yakni sebagai penyuluh, penggerak, pencatat, dan pendamping. Tugas tersebut dilakukan dengan mengaktifkan tim penggerak maupun kader hingga tingkatan dasa wisma.

“Karena dasa wisma yang paling paham dengan hal ini. Jadi, program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng itu diaplikasikan PKK langsung terjun ke masyarakat, sejak sebelum hamil, masa hamil dan bersalin, hingga masa nifas,” ungkapnya.

Atikoh menunjuk contoh terobosan yang dilakukan di daerah. Salah satunya program ambulans desa, di mana ada warga yang menyiagakan mobilnya 24 jam, untuk mengantar ibu hamil ke fasilitas kesehatan, khususnya menjelang persalinan. Bagaimana pun, transportasi sangat diperlukan agar tidak terjadi keterlambatan penanganan ibu melahirkan.

Keluarga, imbuhnya, juga terus diedukasi agar memiliki kepedulian tinggi terhadap ibu hamil dan melahirkan, termasuk saat masa nifas. Sebab, kematian saat nifas juga masih menjadi ancaman, mengingat usai melahirkan kondisi ibu masih lemah, dan membutuhkan waktu untuk pemulihan.

Sementara, Deputi Bidang Kesetaraan Gender KemenPPPA RI, Agustina Erni menyampaikan situasi dan kondisi perempuan di Indonesia. Menurutnya, perempuan harus berdaya dengan meningkatkan kualitas hidupnya. Yakni dari sisi kesehatan, intelektualitas dan ekonomi.

“Kualitas hidup perempuan harus ditingkatkan dan itu perlu sehat, pintar dan terampil, juga terjamin ekonominya,” imbuh Agustina.

Ia pun menjelaskan indeks kesetaraan gender di Indonesia,  keterlibatan perempuan di parlemen 20,8%, perempuan sebagai tenaga professional 47,02% dan sumber pendapatan perempuan 36,70%.

“Ada beberapa kursi parlemen yang diisi oleh perempuan, ini dapat menjadi pengambil kebijakan untuk perempuan,” tandasnya. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.