Newgraha Sang Juara, Tetap Eksis di Masa Krisis Akibat Pandemi

Foto ilustrasi gambar perumahan yang dikembangkan PT Newgraha Sang Juara.

 

HALO BISNIS – Dunia usaha mengalami dampak luar biasa akibat pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan beberapa negara lain di dunia.

Hal ini terbukti dengan banyaknya korban pemutusan hubungan kerja (PHK), baik di sektor industri, sektor perdagangan, maupun manufaktur. Termasuk juga bisnis property yang mengalami trend penjualan yang turun akibat imbas dari lemahnya ekonomi.

Namun di tengah krisis akibat pandemi corona, PT Newgraha Sang Juara justru malah membuat ancang-ancang untuk go public.

”Kami targetkan tahun depan sudah bisa terwujud, dan saat ini masih mempersiapkan segala sesuatunya agar bisa memenuhi persyaratan sebagai perusahaan go public,” ujar Chief Executif Officer (CEO) PT Newgraha Sang Juara, Siswo Nugroho, dalam jumpa pers di salah satu rumah makan di Kota Semarang, Senin (21/9/2020).

Selain bergerak di bidang properti, Newgraha juga menggeluti bisnis teknologi informasi dengan nama Borobudur. Perusahaan ini menjual jasa IT seperti pembuatan aplikasi untuk sejumlah organisasi kemasyarakatan.

”Dalam waktu dekat kami akan meluncurkan aplikasi zakat bernama En-NU, yang merupakan kerja sama dengan Lazisnu Jateng. Yang nantinya akan jadi pilot project Lazisnu nasional. Aplikasi tersebut berkaitan dengan zakat, infak, sedekah dan wakaf. Dalam jangka pendek, akan disalurkan ke pembangunan Pondok Pesantren di Gunungpati, dan pembangunan rumah sakit NU,” tuturnya.

Siswo mengakui, perusahaan yang dipimpinnya sempat pula terdampak pandemi, bahkan sempat merumahkan 18 karyawannya. Namun dengan kiat-kiat bisnis yang jitu, akhirnya perusahaan cepat bangkit. Bahkan belum lama ini perushaan yang dia pimpin mampu merekrut 30 karyawan lagi.

Salah satu contoh keberhasilan perusahaan ini untuk bangkit di masa pandemi adalah kesuksesan memasarkan proyek property di Kabupaten Semarang dan Cilacap. Pengembangan perumahan Skay Mansion ini mampu menjual beberapa produknya di tengah pandemi.

”Di Ungaran ada 80 unit perumahan sederhana yang sudah laku keras karena harganya Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Istilah kami komersial murah meriah. Jadi pada masa pandemi ini, ternyata masih banyak keluarga muda yang belum memiliki hunian dan berusaha mendapatkan rumah. Kendati kami harus menurunkan grade, untuk strategi. Semula dipersiapkan untuk yang harga Rp 500 jutaan, dengan adanya pandemi turun menjadi yang harga di bawah Rp 300 juta,” papar Siswo.

Taktik bisnis semacam itu ternyata cukup jitu. Sales and Marketing Manajer, Artika Agustine mengungkapkan, pada masa pandemi ini pihaknya justru mampu menjual beberapa unit secara cash.

Selain itu, lanjut Artika, dalam pemasaran pihaknya juga menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan, termasuk juga menyiapkan diskon khusus.

”Dengan menawarkan diskon, membuat masyarakat tertarik. Bahkan di Cilacap yang rumah bersubsidi sudah terjual semua,” ujarnya.

“Ternyata ada sebagian warga yang menganggap pandemi merupakan saat yang tepat berinvestasi di bidang property,” katanya.

Meski demikian, secara keseluruhan omzet penjualan juga ikut turun di masa pandemi. Hal ini karena pada umumnya masyarakat mengalami krisis ekonomi.

“Banyak pemilik modal yang memilih menahan uang.  Tapi ada beberapa orang yang memandang pandemi sebagai saat yang tepat untuk berinvestasi, baik di emas maupun di properti. Apalagi dampak pandemi memaksa para pengembang property untuk memberikan diskon. Inilah peluang yang diambil oleh konsumen kami ketika memilih berinvestasi pada sektor property,” terangnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.