in

Naga Rum, Minuman Beralkohol Asli Indonesia Yang Kini “Dimiliki” Prancis

Naga Rum. (Dok/Instagram).

 

INGAT kata “mulutmu bau naga” sebagai ungkapan yang kerap dilontarkan kepada orang yang baru meminum alkohol? Ternyata kata-kata itu memiliki sejarah tentang industri minuman beralkohol di Indonesia.

Naga yang dimaksud dalam kata tersebut adalah sebuah merk minuman beralkohol NAGA Rum, yang sebenarnya merupakan minuman alkohol tradisional asli Indonesia yang kemudian dikembangkan di Prancis.

Saat ini pun, Naga Rum yang industrinya sudah berpindah ke Prancis masih menggunakan identitas Indonesia dalam merk dagangnya. Di tiap botol, tertulis “Batavia Arrack, NAGA Made With Indonesian Aged Rum” sebagai merk dagang. Meski berasal dari Indonesia, namun minuman berkelas di Eropa ini malah sulit didapat di negerinya sendiri, Indonesia. Hal itu karena industri di sini sudah tidak ada, dan dipindah ke Prancis.

“Mungkin temen-teman tahu, ungkapan istilah “mulutmu bau naga” untuk orang yang mabuk. Jadi ceritanya begini, dulu di zaman kolonial ada merk rum bernama Naga, dan itulah kenapa ketika ada orang mabuk dikatain “wah mulutmu bau naga”. Itu karena rum sangat terkenal bermerk Naga. Pada zaman kolonial ada pebisnis dari Prancis yang kemudian membeli lisensi minuman produk rum Naga ini untuk diproduksi di Prancis,” kata musisi Indonesia, Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ, dalam sebuah unggahan chanel Youtubenya Kill the TV, yang sedang membahas minuman alkohol tradisonal Indonesia.

“Setelah revolusi dan kemerdekaan, pabrik rum Naga di Jawa ini sudah tidak ada lagi. Beberapa tahun lalu saya dikasih oleh-oleh dari teman yang dari Prancis, rum Naga. Tulisannya ada bahasa Jawa dan Prancis, ada aksara Jawa juga. Itu keren sekali dan kualitasnya bagus sekali. Ironisnya adalah, sekarang tak ada lagi rum Naga di Indonesia. Maka jangan sampai minuman tradisional nusantara ini hilang dan lisensinya dimiliki negara lain,” katanya.

Menurutnya, keberadaan minumal alkohol tradisional perlu dilestarikan. Apalagi ini berkaitan dengan identitas lokal dan kebudayaan. Meski hal itu sangat bertentangan dengan norma agama yang dianut mayoritas warga Indonesia.

“Menurut saya (terkait) alkohol ini diskriminatif, karena bagaimanapun yang banyak beredar di pasaran merk internasional (luar). Tapi minuman tradisional seperti tuak, ciu, sopi (minuman khas Ambon) banyak yang dirazia, padahal itu bagian dari kebudayaan. Bagian dari tradisi suku-suku di Indonesia,” katanya.

Naga Rum. (Dok/Instagram).

Dari penelusuran halosemarang.id tentang sejarah Naga Rum, dulunya, pada era kolonial Belanda, Naga Rum diproduksi di bagian utara pulau Jawa (belum terlacak jejak produksinya) menggunakan proses penyulingan Asia kuno. Dan kata Arrack adalah nama Arab yang berarti penyulingan.

Disunting dari matalelaki.com, konon, jenis ini adalah salah satu industri alkohol tertua di dunia dan diproduksi sejak tahun 1634. Minuman tersebut juga menjadi saksi perdagangan rum Indonesia oleh pedagang Inggris dan Belanda kala itu.

Tebu adalah bahan baku utama di balik semua rum. Dan Indonesia, yang memiliki iklim tropis juga menjadi sumber produksi rum berkualitas. Iklim tropis dan kebun tebunya yang subur menghasilkan rum otentik yang bagus, salah satunya adalah NAGA RUM, Cask Aged Rum Indonesia.

Rum di Indonesia menyandang nama Batavia Arrack. Batavia adalah nama yang diberikan oleh Belanda pada 1619 untuk kota yang menjadi Kota Jakarta sekarang ini.

Pada tahun 1700, Batavia Arrack sangat populer di Eropa dan dianggap memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada rum Karibia. Pada tahun 1796, Joseph Francois Charpentier de Cossigny, insinyur botani dan penjelajah Prancis, menulis: “Rum Indonesia lebih berkualitas daripada rum Jamaika, sebuah fakta yang bahkan harus diakui oleh Inggris.”

Naga Rum. (Dok/Instagram).

Nama Naga sendiri adalah nama makhluk mitologi Asia (mirip ular) bagi masyarakat Indonesia, yang juga masih menjadi logo dalam Rum Naga hingga kini.

Naga Rum konon juga memiliki rasa yang kuat tetapi juga tidak terlalu manis, rasa buah yang tertinggal di mulut sangat unik dan orisinal. Warnanya kuning kecoklatan, beraroma lembut lada putih dan aroma cokelat murni.

Sangat terasa hasil penyulingannya yang kompleks dan rasa seimbang dengan sensasi rasa manis madu dan rasa kulit jeruk, ditambah sensasi rasa kayu manis dan rempah rempah yang hangat.
Rasa otentik itu disebabkan fermentasi pelan molase yang diperkuat oleh penambahan ragi beras merah Jawa.

Rum ini adalah hasil penyulingan sempurna yang dilakukan di kendi tradisional. Kemudian rum ini disimpan di tong jati, kayu eksotis lokal Indonesia dan kemudian dipindah di tong bourbon standar untuk pengiriman.(HS)

NB: Tulisan ini tak bermaksud memberi dukungan untuk legalitas minuman beralkohol di Indonesia. Kami hanya ingin mencatat sejarah yang kami anggap berguna untuk pengetahuan saja. (Redaksi)

Share This

Anak Wabup Kendal Resmi Menyandang Gelar Dokter

Lazisma Bagikan 100 Paket Sembako Untuk Warga Yang Isoman