in

Musyda PDA Kabupaten Blora Periode Muktamar ke-48 Tahun 2022-2027

Musyawarah Daerah (Musyda) Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kabupaten Blora, periode muktamar ke-48 tahun 2022-2027, di ruang pertemun SMK Muhammadiyah 1 Blora, Kamis (18/5/2023). (Foto : blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Blora, menyelenggarakan Musyawarah Daerah (Musyda) periode muktamar ke-48 tahun 2022-2027, di ruang pertemun SMK Muhammadiyah 1 Blora, Kamis (18/5/2023).

Ketua PDA Blora periode 2015-2022,  Siti Sofiati Anas, saat pembukaan acara (khutbah iftitah) menyampaikan Musyda ‘Aisyiyah ke-48 mengambil tema “Perempuan Berkemajuan Mencerahkan Kehidupan Bangsa”

Terkait tema tersebut, dia menjelaskan bahwa ‘Aisyiyah, akan menentukan keputusan-keputusan yang mampu membangkitkan motivasi bagi anggotanya untuk menjalani kehidupan, menjawab tuntutan zaman, meraih kemuliaan dunia akhirat sejalan dengan nilai-nilai keagaman yang bersifat watalhiyah atau moderat berkemajuan.

“Perempuan berkemajuan mampu membangkitkan semangat dan mampu memanfaatkan potensi dan perannya dalam menjalani kehidupan dengan nafas agamis Islami sehingga terwujud peradaban yang bermartabat, ikatan persatuan persaudaraan yang erat berwawasan rahmatan lil ‘alamin, menebar kemaslahatan dan mencerahkan bangsa,” kata dia, seperti dirilis blorakab.go.id.

Menurutnya, dengan spirit QS An Nahl ayat 97 dilandasi niat yang penuh ikhlas dan tekat yang penuh pengabdian, program yang jelas, ‘Aisyiyah merintis dan mengembangkan Amal Usha ‘Aisyiyah (AUA) serta kegiatan-kegiatan yang meliputui segala aspek kehidupan sesuai dengan kemampuan, kondisi dan situasi di daerah masing-masing.

‘Aisyiyah sebagai gerakan muslim berkemajuan menyiapkan pemikiran-pemikiran dan agenda strategis organisasi guna mencari solusi yang tepat dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dalam menggerakkan roda persyarikatan perlu mencermati adanya tantangan dan permasalahan, antara lain munculnya faham-faham keagaman, lahirnya gerakan-gerakan perempuan di akar rumput dan LSM yang cenderung lebih terampil, lincah, gesit dan dinamis, lugas, tetapi adakalanya kurang menghargai pandangan yang lain sehingga dapat menimbulkan perpecahan.

“Untuk mengatasi hal tersebut, maka ‘Aisyiyah perlu meningkatkan ilmu pengetahuan serta keterampilan berkenaan dengan kemajuan teknologi, juga ilmu keagamaan serta memperluas wawasan, sehingga dapat menentukan sikap yang tepat,” tegasnya.

Menurut Siti Sofiati Anas, penting agar ‘Aisyiyah bersikap wasathiyah dalam memerankan dakwah dan tajdid.

‘Aisyiyah dapat mengambil peran menguatkan persaudaraan dan ta’awun dalam kebersamaan saling membantu, tolong menolong, bekerja sama dalam perbedaan ras, golongan dan agama untuk meraih kemajuan hidup bersama dengan saling menghormati.

Berikutnya, pesatnya perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi informasi (TI) yang terimplementasi di semua lini dan dimensi kehidupan, perlu diimbangi kemampuan yang mumpuni baik dalam ilmu pengetahuan, agama dan teknologi.

“Tentu saja, ‘Aisyiyah di semua tingkat kepemimpinan perlu meningkatkan diri dengan berbagai macam pengetahuan dan tidak segan berlatih keterampilan yang dapat menunjang pembangunan peradaban bangsa di daerah masing-masing,” jelasnya.

Selanjutnya dalam konteks kebangsaan timbul permasalahan seperti kemiskinan, kekerasan, ketidakadilan sosial dan konflik sosial yang dapat menjadi ancaman retaknya persatuan bangsa.

‘Aisyiyah, dengan spirity QS Ali Imron ayat 110 melaksanakan dakwah menyebar rahmah menjalin ukhuwah dengan gerakan ta’awun, amar makruf nahi mungkar menuju peningkatan kesejahteraan dan keadilan, menjunjung kehidupan yang bermartabat.

Disampaikan Hj. Siti Sofiati Anas lebih lanjut, permasalahan dalam kehidupan berpolitik dengan maraknya dugaan poltik uang, transaksional dan mementingkan kepentingan golongan dapat merusak persatuan bangsa.

“Ada kalanya politik sekadar untuk meraih kekuasaan atau kedudukan bukan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat secara amanah,” kata dia.

Siti Sofiati Anas menyebut pesan yang disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir, yakni “Jadilah petugas Muhammadiyah, tapi jangan menjadi petugas partai Muhammadiyah”

Dengan mencermati tantangan dan permasalahan yang timbul, maka Musyda ‘Aisyiyah ke-48, kata Siti Sofiati Anas, diharapkan, pertama, menyusun program kegiatan yang mampu menyesuaikan persoalan-persoalan umat dan kebangsaan lewat majlis terkait.

Kedua, program yang disusun bersifat mencerahkan untuk kemajuan dan menuju peradaban yang bermartabat.

Ketiga, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dengan spirit yang menggembirakan, menebar perdamaian, membangun kesholehan dan keunggulan peradaban.

“Selanjutnya, satu agenda Musyda ke-48 yang tak kalah penting adalah memilih pimpinan periode 2022-2027,” ucapnya.

‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang menerapkan kepemimpinan transformatif, kepemimpinan untuk perubahan sehingga mampu memobilisasi seluruh potensi, menegakkan keunggulan dan memproyeksikan masa depan menuju kemajuan yang mencerahkan untuk membangun peradaban bangsa.

“Diharapkan Musyda ke-48 mampu memilih pemimpin yang memiliki pemahaman ‘Aisyiyah Muhammadiyah yang kokoh, handal dan kompeten, memiliki komitmen ikhlas mengemban amanah, mampu menggerakkan dan memajukan ‘Aisyiyah untuk meraih ridho Allah Swt, Amin,” kata dia.

Sementara itu Sekretaris PDA Kabupaten Blora, Siti Istiqomah, menambahkan Musyda ke-48 diikuti oleh Pengurus dan anggota PDA dan PCA se kabupaten Blora. Menempati tiga ruangan di SMK Muhammadiyah 1 Blora dengan jumlah peserta lebih kurang 130 orang. (HS-08).

78 Kelompok Tani Sentra Tembakau di Blora Terima Bantuan Alsintan dan Saprodi

Yakin Kualitas Motor Aprilia Setara Ducati