in

Musim Kemarau Pendek, Penghasilan Petambak Garam di Demak Turun

Review Kegiatan Daerah Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat kabupaten Demak tahun 2020, Kamis (3/12) di Gudang Garam Nasional desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak. (Foto : demakkab.go.id)

 

HALO DEMAK – Musim kemarau yang pendek, menyebabkan para petambak garam di 10 desa di kecamatan Wedung, kabupaten Demak mengalami penurunan produksi. Penghasilan mereka semakin turun, karena harga garam yang rendah di tingkat petambak.

Persoalan tersebut terungkap dari Review Kegiatan Daerah Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat kabupaten Demak tahun 2020, Kamis (3/12) di Gudang Garam Nasional desa Kedungkarang kecamatan Wedung kabupaten Demak.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinlutkan kabupaten Demak itu, menghadirkan narasumber Pejabat Kementrian KKP Mohamad Zaki Mahasin, melalui virtual.

Acara tersebut dihadiri pula oleh Kepala Dinas Mohamad Fathkurohman dan jajaranya, Forkompimcam Wedung, pengurus Koperasi garam, dan para Kepala Desa berpotensi penghasil garam.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Fatkhurohman, dalam kesempatan tersebut menyampaikan  kegiatan review adalah kegiatan evaluasi program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) selama satu tahun.

Oleh karena itu jika ada kekurangan atau belum terlaksananya kegiatan harus dilakukan pembenahan, agar program berjalan sesuai dengan yang di rencanakan. Termasuk juga tidak tercapainya target menjadi salah satu persoalan di karenakan musim kemarau yang pendek.

” Memang salah satu kendala turunnya produksi garam adalah musim kemarau yang pendek . Kita tidak bisa berbuat banyak, karena merupakan faktor alam. Oleh karena itu kita berharap tahun 2021 produksi garam akan naik dan harga garam akan bagus dibandingkan tahun ini,” katanya.

Sementara itu Mohamad Zaki mengatakan  petambak garam ke depan jangan menjual garam dalam bentuk krosok, namun diolah menjadi garam konsumsi beriodium.

Dengan menjual garam dalam bentuk garam konsumsi beriodium petambak akan mendapoatkan nilai tambah atau meningkat penghasilan.

” Sebagai contoh jika garam dijual dalam bentuk krosok harga saat ini paling tinggi Rp 500 rupiah perkilonya. Namun jika dijual dalam bentuk garam konsumsi garam beriodium, maka harganya paling murah Rp 1.000 per kilogramnya. Dengan begitu sudah terlihat berapa keuntungan yang didapatkan oleh petambak, ” terang Zaki

Tahun 2021 pemerintah juga akan memberikan subsidi biaya angkut garam dari lahan ke GGN. Kementerian KKP juga akan membantu petambak untuk meningkatkan kualitas garam.

Di tempat yang sama, Roisul Huda Pengurus Koperasi ROMA Kedungmutih Demak, mengatakan Koperasinya pada 2020 ini, telah memproduksi garam kosumsi beriodium, dengan bahan baku garam dari anggota.

Setelah diolah selanjutnya menjadi garam halus beriodium dengan merk “Arafah”. Garam hasil produksi Koperasi Garam yang dikelolanya itu sudah beredar di beberapa daerah utamanya kabupaten Demak.

“Ini semua hasil pembinaan dari Dinlutkan juga Diperindagkop kabupataen Demak , selain itu juga binaan langsung dari kedua Kementrian diatas. Namun masih ada kendala karena alat open yang terbatas hasil produksi belum maksimal. Oleh karena itu kami mohon adanya sentuhan bantuan open dari pemerintah agar kami bisa berproduksi lebih banyak lagi dan bisa memenuhi permintaan pasar yang cukup banyak “, jelas Roisul Huda. (HS-08)

Share This

Bantuan 600 Ribu Masker Dari Pemerintah Singapura Untuk Kendal Segera Datang

UU Cipta Kerja Untuk Dukung Pemulihan Ekonomi Nasional