Mualim Berharap Protokol Kesehatan Benar-benar Diterapkan Saat Pencoblosan Pilkada Serentak 2020

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Mualim.

 

HALO SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Mualim berharap protokol kesehatan benar-benar diterapkan dalam pelaksanaan pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang, 9 Desember 2020 mendatang. Hal itu sebagai upaya untuk mencegah munculnya klaster baru penularan Covid-19.

“KPU dan semua pihak harus benar-benar mengawasi betul pelaksanaan protokol kesehatan di Pilwakot Semarang 2020. Pemilih harus diperhatikan keamanannya, agar mereka yakin proses pemungutan suara ini tak menjadi klaster baru penularan Covid-19,” katanya, Jumat (4/12/2020).

Penggunaan masker, tidak adanya kerumunan, dan penyediaan handsanitizer harus benar-benar diterapkan dalam pemilihan nanti. Keamanan petugas pemungutan suara juga harus diperhatikan. “Ini penting karena saat ini angka penularan Covid-19 masih tinggi,” katanya.

Sebagai informasi, jelang Pilkada yang tinggal sepekan, Pemerintah Kota Semarang bersama KPU kian giat mematangkan persiapan guna memastikan penyelenggaraan Pilkada di Kota Semarang berjalan dengan aman dan terbebas dari penularan Covid-19.

Salah satunya dengan mengundang stakeholder mulai dari perwakilan perusahaan, rumah sakit hingga lurah dan camat se-Kota Semarang, dalam kegiatan rapat koordinasi Desk Pilkada di Ruang Lokakrida lantai 8 gedung Balai Kota Semarang, Rabu (2/12/2020) lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Komisioner KPU Kota Semarang, Ahmad Zaini menuturkan, jika KPU telah melakukan persiapan secara matang, baik persiapan dari segi protokol kesehatan dan juga persiapan peralatan di TPS.

“Untuk protokol kesehatan, beberapa peralatan seperti faceshield, masker dan handsanitizer segera akan kami kirim ke kecamatan. Sedangkan untuk persiapan TPS, saat ini masih dalam pengepakan di gudang. Maksimal H-1 sudah sampai di TPS. Nanti juga dalam pembuatan TPS akan menerapkan protokol Covid-19 secara ketat,” tutur Zaini.

Sebagai gambaran proses pemungutan suara, Zaini menjelaskan, masyarakat yang datang ke TPS terlebih dahulu akan dilakukan cek suhu tubuh menggunakan thermogun, cuci tangan, kemudian diberlakukan jaga jarak, mewajibkan calon pemilih untuk memakai masker, kemudian diberikan sarung tangan sekali pakai yang harus dipakai selama berada di TPS.

“Selama beraktivitas di dalam TPS harus menggunakan sarung tangan tersebut. Sehingga tangan yang bersih tidak bersinggungan dengan apapun yang ada di dalam TPS. Termasuk saat membuka kertas suara, mencoblos dan memasukkan surat suara dan aktivitas lain. Baru setelah selesai semua sarung tangan dibuang dan pemilih cuci tangan kembali,” terang Zaini.

Lebih lanjut Zaini menambahkan, metode pencelupan jari ke tinta usai melakukan pencoblosan dalam Pemilu kali ini tidak lagi dilakukan. Sebagai gantinya tinta akan diteteskan ke jari.

“Tintanya sekarang ditetes, tidak dicelup. Setelah tinta kering, pemilih dipersilakan untuk mencuci tangan lagi baru kemudian meninggalkan lokasi TPS,” lanjutnya.

KPU juga menyediakan bilik khusus di semua TPS bagi pemilih yang pada saat pengukuran suhu tubuh memiliki suhu di atas 37,3 derajat celcius.

“Bagi pemilih yang memiliki suhu tubuh di atas 37,3 derajat celcius tidak diizinkan masuk ke dalam TPS, tetapi diarahkan untuk menggunakan bilik khusus di samping TPS untuk menggunakan hak pilihnya,” tandas Zaini.

Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, KPU berharap masyarakat tidak takut untuk datang ke TPS. Dengan masyarakat menggunakan hak pilihnya berarti ikut mensukseskan Pilkada Kota Semarang.

“Harapan KPU untuk masyarakat walaupun di masa pandemi Covid-19 ini masyarakat jangan khawatir untuk datang ke TPS. Karena kami sudah mempersiapkan seketat mungkin protokol kesehatan. Silakan datang besok tanggal 9 Desember 2020. Manfaatkan dengan baik. Satu suara juga menentukan pesta demokrasi di Kota Semarang,” pungkas Zaini.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.