in

Monumen Pahlawan Tugu di Taman Jrakah Akan Dipindah Pemkot Semarang, Konon Beginilah Sejarahnya

Monumen Tugu di taman Jrakah yang akan dipindah dan dibangun oleh Pemkot Semarang.

 

PEMKOT Semarang melalui Disperkim berencana memindahkan materi Monumen Tugu di taman Jrakah, ke taman yang berdekatan dengan kampus UIN Walisongo. Menurut Arkeolog Semarang, Tri Subekso, monumen pahlawan berbentuk tugu di Taman Jrakah yang memiliki relief dan prasasti, menggambarkan perjuangan saat masa setelah proklamasi antara tahun 1945-1946.

“Nantinya lokasi taman yang baru ini diharapkan lebih nyaman dan aman buat pengunjung dibandingkan dengan lokasi yang sekarang. Bisa diakses menjadi ruang publik, untuk menggelar berbagai acara peringatan atau kebudayaan,” harapnya.

Karena saat ini monumen pahlawan berada di pertigaan traffic light jalur cepat di jalan Pantura, sehingga dinilai tidak representatif dan sempit.

Sebenarnya, jelas dia, adanya upaya pemindahan monumen/prasasti sejarah juga banyak terjadi di tempat lain. Mengingat pemda setempat menginginkan revitalisasi ataupun pembenahan agar lebih bagus.

“Serta nilai historisnya benda/bangunan tersebut lebih mengena ke masyarakat,” katanya.

Adapun dari sisi bangunan, lanjut dia, monumen/prasasti Tugu Perjuangan di taman ini punya nilai penting, khususnya bagi warga sekitar Jrakah dan Tugu.

“Meski dari segi bangunan tugu itu kurang ikonik jika dibandingkan dengan Tugu Muda yang berada di pusat kota, bagaimana pun pendirian tugu itu berkaitan dengan peristiwa penting yang terjadi antara tahun 1945-1946 atau setelah proklamasi,” imbuhnya.

“Yang mana, saat itu terjadi serangkaian peperangan dan ketegangan antara pasukan Belanda beserta sekutunya, dengan para pejuang hingga gugurnya dua orang laskar hizbullah dari pihak RI. Lalu, hal ini yang memancing kemarahan dari pihak pejuang kemerdekaan terhadap pasukan Belanda,” sambungnya.

Dari literatur sejarah, dulu pertigaan Jrakah sampai Kecamatan Tugu menjadi garis pertahanan pasukan RI. Jrakah memiliki posisi yang stategis selain merupakan garis pertahanan antara pejuang kemerdekaan dan Belanda, juga menjadi batas wilayah pertahanan/demarkasi.

“Karena wilayah Semarang ketika itu dikuasai sepenuhnya oleh Belanda dan dibangun markas sebagai pusat komando di sekitar lapangan terbang Kalibanteng. Batas wilayahnya antara pasukan Belanda dan pasukan pejuang, yaitu di daerah Krapyak, Jrakah, Tugu. Termasuk wilayah Mangkang hingga Kendal yang menjadi pertahanan para pejuang,” paparnya.

Lokasi yang menjadi titik/garis pertahanan berupa pos pasukan RI, menurut dia, yaitu sekarang berada di sekitar taman itu. Dulu lokasi tersebut masih berupa kebun jeruk (sekarang lokasinya di sekitar kampus UIN Walisongo).

“Seringkali Belanda melepaskan tembakan ke arah penduduk, sampai terjadinya ketegangan dan memuncak dengan gugurnya dua orang laskar hizbullah (para pejuang) yang tertembak,” katanya.

Belum Cagar Budaya

Dari catatan sejarah, kronologi baku tembak yang terjadi antara pasukan sekutu termasuk pasukan Jepang dengan pasukan RI, saat pasukan musuh yang saat memasuki wilayah Jrakah (merupakan basis dari pasukan RI) dengan menggunakan truk tiba-tiba diserang oleh pejuang. Sehingga terjadi baku tembak di sana, dan akhirnya pasukan musuh terpaksa mundur ke Kalibanteng.

“Nah peristiwa inilah, yang dianggap menjadi kemenangan pasukan RI meski kemenangan kecil yang mampu mendongkrak semangat para pejuang untuk mengusir Belanda di masa selanjutnya. Peristiwa itu, yang menjadi latar belakang dibuatkannya monumen pahlawan di taman ini.

Sedangkan titik pos pertahanan yang diceritakan, dirinya tidak mengetahui secara pasti lokasinya.

“Namun biasanya monumen dibangun untuk memperingati adanya peristiwa yang monumental dan punya arti penting bagi para pejuang saat itu,” katanya.

Menurutya, dari segi usia monumen pahlawan tugu belum bisa dikatakan sebagai benda cagar budaya. Karena bangunan penting untuk dinyatakan sudah jadi cagar budaya, sesuai undang-undang berumur 50 tahun atau lebih.

“Lalu, mewakili masa gaya dan memiliki arti khusus untuk negara, baru bisa diusulkan jadi cagar budaya. Kalau monumen Tugu Perjuangan memang belum menjadi cagar budaya. Dibangunnya karena ingin memperingati peristiwa penting yang menjadi memori kolektif masyarakat di Jrakah saat itu, yakni sepanjang antara tahun 1945-1946,” ujarnya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Joko Santoso mengatakan, pihaknya sangat mendukung pembangunan taman Jrakah oleh Disperkim dengan bantuan CSR perusahaan swasta.

“Kalau ada monumen/prasasti berbentuk tugu dengan dipuncaknya terdapat mahkota berbentuk lidah api, ini merupakan simbol perjuangan rakyat saat berjuang dalam era kolonial. Sehingga kalau memang materi tugunya akan dipindahkan dan dilakukan pembenahan, seharusnya tidak meninggalkan desain/materi yang lama. Ini untuk menghormati para pendahulu yang berjuang. Penting melihat nilai histori materi yang lama. Hal ini tentu dengan menerima masukan dari masyarakat dan kita di DPRD. Agar memiliki nilai kemanfaatan bagi masyarakat dan pembangunannya bisa segera direalisasikan,” pungkas politisi Gerindra ini.(HS)

Share This

Jembatan Gantung Girpasang Klaten Mulai Dibangun

Pemdes Bersama Muslimat Pucangrejo Salurkan 335 Bantuan Sembako Kepada Warga