in

Momentum Kemerdekaan Sebagai Introspeksi Diri Merawat Tanah Air

Ketua Pengurus Muhammadiyah (PWM) Provinsi Jawa Tengah, Tafsir.

 

HALO SEMARANG – Suasana HUT kemerdekaan tahun ini masih sama seperti tahun lalu, yakni dalam kondisi pandemi Covid-19. Namun, hal itu tidak mengurangi semangat memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Republik Indonesia (RI) ini.

“Memperingati kemerdekaan kita yang ke-76 seperti tahun lalu dalam suasana keprihatinan karena musibah non-alam Covid-19. Semangatnya tidak berkurang, tetapi kegembiraannya mungkin berkurang,” ungkap Ketua Pengurus Muhammadiyah (PWM) Provinsi Jawa Tengah, Tafsir kepada halosemarang.id, Rabu (18/8/2021).

Momentum kemerdekaan ini, lanjut dia, merupakan bentuk untuk melakukan introspeksi diri. Mengubah kebiasaan lama saat HUT RI dengan kepedulian terhadap sesama.

“Tidak ada lomba-lomba, tirakatan dan berbagai tradisinya itu tidak mengurangi semangat, dan kegembiraan kita ubah menjadi introspeksi diri, kepedulian memasuki suasana musibah,” imbuh penulis buku Jalan lain Muhammadiyah ini.

Baginya, pengubahan tersebut dilakukan, satu di antaranya sebagai cara untuk meringankan beban sesama yang terdampak pandemi.

“Banyak yang biasanya keuangan untuk 17 Agustus, dapat dialihkan untuk kepedulian sosial. Jadi kita ubah menjadi dana kegiatan kepedulian sosial,” ujar dosen UIN Walisongo Semarang ini.

Satu hal yang menjadi sorotannya yaitu kabar-kabar bohong yang semakin merebak di media sosial. Kondisi itu, menurutnya, adalah wujud suatu bentuk belum dewasanya masyarakat dalam mencerna arus deras informasi dunia maya.

“Kebohongan masih merajalela itu bagian dari belum kedewasaan kita sehingga menggunakan medsos untuk hal-hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, sumbernya tidak jelas,” tegas peraih Maarif Award tahun 2008 itu.

Kendati demikian, ia mengajak masyarakat untuk saling menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan tidak mudah terpengaruh kabar bohong atau hoax.

“Berita bohong dapat memecah belah persatuan dan kesatuan kita. Warga jangan terprovokasi berita bohong yang beredar di medsos,” ajak ahli pemikiran etika Islam itu.

Ia berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk selalu mengingat kekayaan yang dimiliki, baik alam maupun keragamannya. Tidak hanya sekadar mengingat saja, baginya, merawat adalah suatu langkah untuk menjadi penguat persatuan bangsa.

“Indonesia sangat kaya dalam sumber daya alam, kemajemukan, dan berbagai hal lainnya. Keragaman itu kalau bisa dirawat dengan baik akan mewujudkan keindahan, tetapi jika tidak bisa dirawat akan menimbulkan bencana dan konflik. Semakin dewasa menghadapi keragaman yang ada akan memunculkan mozaik pelangi yang indah,” tandas pria kelahiran Kebumen ini.(HS)

Share This

Personel Gabungan Polres Jepara Bagikan Masker Gratis pada Masyarakat

Wujud Pengabdian Kepada Masyarakat, Siswa SIPSS Bantu Warga Terdampak Pandemi