in

Mider Projo Bareng, Gibran dan Rudy Kerja Bakti Bersihkan Kolam Segaran Sriwedari

Wali Kota Gibran Rakabuming Raka, bersama mantan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo; Wakil Wali Kota Teguh Prakosa; sekda Ahyani, forkompimda, dan sejumlah pejabat, dalam kegiatan Mider Praja, di kawasan Sri Wedari. (Foto : Surakarta.go.id)

 

HALO SURAKARTA – Pemerintah Kota Surakarta akan terus berupaya agar lahan Sri Wedari dapat kembali ke Pemerintah, sehingga dapat dipergunakan untuk kepentingan warga Solo.

Komitmen itu disampaikan Wali Kota Gibran Rakabuming Raka, di sela-sela kegiatan Mider Praja, Jumat (11/6). Dalam kegiatan itu, Gibran bersama mantan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo; Wakil Wali Kota Teguh Prakosa; sekda Ahyani serta para kepala OPD dan jajaran Forkopimda Kota Surakarta, bekerja bakti membersihkan Kawasan Kolam Segaran, Taman Sri Wedari Surakarta.

Menurut Wali Kota, kegiatan kerja bhakti tersebut dilakukan sebagai rangkaian kegiatan Mider Projo. “Ini kita kerja bakti untuk membersihkan Kolam Segaran, supaya bisa digunakan masyarakat untuk berkegiatan. Yang sebelumnya kumuh, nantinya keliharan rapi, bersih, dan nyaman,” kata Gibran.

Terkait lahan Sri Wedari yang masih menjadi persoalan, Wali Kota Solo, akan terus bekerja keras memperjuangkan Sri Wedari, untuk kepentingan warga masyarakat Kota Surakarta.

“Pokoknya kita terus memperjuangkan Sri Wedari untuk warga Solo. Kita dapat masukan banyak banget dari Pak Rudy. Itu tambahan nanti untuk kita berjuang. Pokoknya Sri Wedari kita kawal. Kita perjuangkan untuk warga Solo,” kata Gibran, seperti disampaikan Surakarta.go.id.

Lahan Sri Wedari, seperti diketahui masih dalam konflik antara ahli waris RMT Wiryodiningrat dengan Pemerintah Kota Surakarta.

Tanah Sriwedari itu tertulis milik Wirjodiningrat atas perintah Raja Karaton Kasunanan Surakarta Paku Buwono X, untuk dibeli dengan uang dari raja. Dan tanah itu kemudian diakui oleh trah Wirjodiningrat. Wirjodiningrat itu dulunya orang kepercayaan raja.

Sebanyak 11 trah Wirjodiningrat mendaftarkan gugatan perdata pada 24 September 1970 ke Pengadilan Negeri (PN) Solo. Seiring waktu berlalu, Mahkamah Agung (MA) memutuskan untuk menolak pengajuan kembali (PK) yang diajukan oleh Pemkot Solo.

Hal tersebut yang membuat PN Solo, kemudian memutuskan lahan Sriwedari seluas 9,9 hektare tersebut adalah milik ahli waris Wirjodiningrat.

Pemerintah Kota Surakarta tetap melakukan langkah banding sampai bisa memperoleh hak atas tanah Taman Sri Wedari  “Kita tetap melakukan banding, tetap ada kemungkinan. Ini demi mempertahankan Sriwedari untuk kepentingan publik, masyarakat Kota Solo,” tandas Gibran.

Seperti diketahui, Pemkot Surakarta berupaya untuk mempertahankan aset Sriwedari, meskipun dalam sidang peninjauan kembali (PK), hakim sudah memenangkan ahli waris.

Ada dua lahan yang diprioritaskan Pemkot, agar bisa diselamatkan dari eksekusi, yakni HP 26 dan HP 46.

HP 26 merupakan lahan bekas Rumah Sakit Jiwa Mangunjayan.

Sebelumnya, lahan ini merupakan lahan HP 8 milik Kementerian Kesehatan, yang sudah ditukar guling.

Adapun HP 46 sebelumnya merupakan lahan HGB 73 atas nama Bank Pasar. Meski saat ini Bank Pasar sudah tidak ada, tetapi HGB itu masih tetap atas nama perusda. (HS-08)

Share This

Ini Pemenang Lomba Film Edukasi Kendal Handal

Kapolri Akan Tegur Kapolda Dan Kapolres Yang Belum Tindak Premanisme