in

Meski Tradisi Syawalan Ditiadakan, Banyak Pedagang Tetap Berjualan

Salah seorang penjual gerabah melayani pembeli di area tradisi Syawalan di Kaliwungu, Kendal.

 

HALO KENDAL – Pemerintah Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu pada Lebaran tahun ini tidak menggelar keramaian tradisi Syawalan, karena kondisi masih pandemi Covid-19.

Hal ini untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona dari klaster keramaian Syawalan.

Biasanya, puluhan pedagang tersebar mulai ujung sebelah timur Alun-alun hingga dekat rel kereta api dan ke selatan Masjid Agung hingga Lapangan Brimob Plantaran, untuk memeriahkan tradisi ini.

Namun pada Idul Fitri tahun 2021 ini keramaian pedagang Syawalan tidak seperti biasa.

Jumlah pedagang juga tak banyak, meski tetap ada. Hanya ada beberapa pedagang, yang di antaranya penjual gerabah.

Biasanya setiap Syawalan Idul Fitri, pihak desa menyediakan tempat untuk lapak para pedagang di sepanjang jalan depan Masjid Agung Kaliwungu.

Praktis, selama satu pekan lebih yang dimulai sejak hari pertama Lebaran, jalan di depan Masjid Agung Kaliwungu tidak bisa dilalui kendaraan, karena tertutup rapat oleh lapak para pedagang.

Petugas Posko Satgas Covid-19 Desa Kutoharjo Kaliwungu, Septi mengatakan, pada Lebaran tahun ini pihak desa tidak menggelar tradisi Syawalan.

“Karena untuk mencegah adanya kerumunan massa yang berpotensi terjadinya penyebaran virus corona,” ujarnya, Jumat (21/5/2021).

Septi menjelaskan, pihak desa juga tidak menyediakan tempat untuk pedagang tiban dan melarang pedagang tiban berjualan di tepi-tepi jalan sekitar area Syawalan.

“Tradisi Syawalan tahun ini memang ditiadakan karena masih pandemi Covid-19, jadi pihak desa dan kecamatan mematuhi pemerintah sebagai atasan untuk tidak mengadakan tradisi Syawalan,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Septi, meski tidak mengadakan tradisi Syawalan, namun tetap banyak warga yang berziarah di Makam Jabal. Begitu juga para pedagang tetap ada yang mencoba peruntungan dengan menggelar dagangan.

“Hanya saja, tidak seramai seperti tahun-tahun sebelumnya ketika belum ada pandemi Covid-19. Tapi kalau warga yang berziarah tetap ada, tetapi hanya warga sekitar Kaliwungu Kendal saja,” terangnya.

Seorang pedagang gerabah mainan anak-anak, Tatik (63), yang sudah 25 tahun selalu berjualan di Syawalan Kaliwungu mengaku, meski kondisi pandemi dan tradisi Syawalan ditiadakan, namun pembelinya masih lumayan ramai.

Pedagang asal Semarang tersebut mengaku, gerabah mainan anak-anak yang dijual menjadi salah satu yang laris diburu pembeli. Gerabah tersebut diambil langsung dari pengrajinnya di Mayong Kabupaten Jepara.

“Mungkin karena harganya murah, per bijinya hanya Rp 2 ribu untuk semua jenis barang, jadi laris. Pembelinya lumayan ramai, mungkin karena tidak banyak yang jualan,” ujar Tatik.

Terkait sewa tempat selama berjualan di acara Syawalan ini, dirinya mengaku ditarik biaya sebesar Rp 400.000 dari pihak desa setempat.

“Saya jualan di tempat ini paling tidak satu bulan. Sekarang sudah 10 hari jualan, mulai jualan sebelum Lebaran,” ungkap Tatik.(HS)

PT Nestle Indonesia Bangun Pabrik di Batang

Hendi Tinjau Pembangunan Jalan Sriwijaya, Capai Progres 10%