Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Meski Penuh, TPU Bergota Masih jadi Primadona Pemakaman

Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali dan jajaran saat meninjau pemakaman umum di Kota Semarang belum lama ini.

 

 

HALO SEMARANG – Meski secara kapasitas penuh, Tempat Pemakaman Umum Bergota Semarang masih menjadi primadona pemakaman di Kota Semarang. Tercatat setiap hari, rata-rata ada 20 orang meninggal yang dimakamkan di sana. Hal itu dikatakan Mochamad Djuniadi Eko Putranto, Kepala Seksi Penyelenggaraan Pemakaman, Disperkim Kota Semarang, Rabu (22/1/2020).

Selain TPU Bergota, TPU Kembangarun, TPU Sendangmulyo, dan TPU Banjardowo juga banyak digunakan warga sebagai tempat pemakaman kerabatnya yang menibggal dunia.

“Di tiga TPU ini setiap hari ada sekitar 5 warga yang meninggal dan dimakamkan di sana. Beberapa TPU memang jadi pilihan pemakaman, karena tempatnya yang strategis dan fasilitasnya yang baik,” katanya.

Saat ini, Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang berencana melakukan perluasan beberapa tempat pemakaman.

Hal ini dilakukan mengingat kebutuhan makam di Kota Semarang semakin bertambah.

Kepala Disperkim Kota Semarang, Ali ingin masyarakat tahu bahwa Pemkot Semarang tidak hanya memiliki TPU besar di pusat kota saja, yakni TPU Bergota.

“Total ada 16 pemakaman umum yang dikelola pemerintah kota. Beberapa makam umum di pusat kota memang mulai penuh, kami akan mengembangkan beberapa pemakaman umum yang ada di pinggiran kota,” katanya, Rabu (22/1/2020).

Menurutnya, banyak makam yang dapat diperluas, antara lain Trunojoyo, Bergota, Jabungan, dan lainnya.

Hanya saja, belum dapat dilakukan perluasan lantaran harus melakukan pembebasan lahan.

Ali menambahkan, tahun ini Pemkot Semarang akan menerima 6,5 hektare fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) dari Real Estate Indonesia (REI) Kota Semarang di wilayah Gunungpati. Lahan ini merupakan gabungan kewajiban fasos fasum dari pengembang yang tergabung di REI Jateng. Sebagai informasi, setiap pengembang perumahan di Kota Semarang memang diwajibkan menyisakan dua persen dari lahannya untuk fasos dan fasum.

“Nantinya lahan ini juga akan kami jadikan sebagai pemakaman umum bagi warga Kota Semarang,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman mendukung rencana Disperkim memperluas lahan pemakaman. Dia menilai makam di Kota Semarang relatif minim jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Semarang.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang