in

Meski Kurang Terawat, Curug Gondoriyo Bisa Jadi Alternatif Wisata Alam yang Asri

Suasana Curug Gondoriyo yang terletak di RW 4 Dusun Karangjoho, Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan.

 

HALO SEMARANG – Salah-satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke lokasi wisata alam, selain menikmati keindahan dan kesejukan alam, yakni adanya fasilitas atau spot untuk berfoto dengan latar belakang unik, dan instagramable.

Salah satu potensi ini dimiliki di lokasi wisata baru di Kota Semarang yang cukup populer beberapa waktu lalu, yakni Curug Gondoriyo. Bahkan, istimewanya air terjun setinggi 25 meter tersebut juga dilengkapi dengan lighting warna-warni sehingga dapat disaksikan wisatawan pada malam hari.

Namun sejak adanya pandemi dan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), berdampak pada penurunan jumlah kunjungan ke tempat wisata. Akibatnya, tempat wisata ini kurang terawat.

Untuk menuju ke lokasi Curug Karang Joho, pengunjung dapat mengambil rute dari Ngaliyan menuju kawasan BSB. Tepat sebelum LP Kedungpane, langsung berbelok ke kanan menuju lokasi dengan kondisi jalan yang sangat baik dan dapat dilalui kendaraan roda empat. Meski kini menuju lokasi air terjun Gondoriyo tak ada lagi penunjuk papan nama Curug Gondoriyo, karena masih dalam perbaikan.

Pengunjung dapat langsung memarkirkan kendaraannya di lokasi parkir tepat di atas curug dan tidak perlu berjalan jauh untuk melihat keberadaan air terjun ini.

Untuk jalan akses turun mendekati curug Gondoriyo lebih mudah karena sudah ada tangga permanen, lalu ada beberapa kursi yang terbuat dari semen cor untuk bersantai.

Terlihat juga bekas kayu kering yang hangus karena dibakar sisa api unggun di salah satu sudut lokasi ini. Melihat, banyak pepohonan dan tanaman hias di sekitar air terjun, membuat lokasi ini udaranya lebih sejuk dan asri. Sehingga cocok jika dijadikan alternatif tempat berwisata untuk liburan akhir pekan.

Makin dekat dengan air terjun ini, yang berada di RW 4 Dusun Karang Joho Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan ini terdapat beberapa spot menarik. Tentunya akan mampu mengundang wisatawan untuk datang.

Salah-satu spot menarik di lokasi ini adalah jembatan Comblang yang dibentuk mirip perahu. Sayangnya, kurang terawat, nampak jembatan ini sudah rapuh karena terbuat dari bambu yang sudah mulai keropos. Dan tidak ada papan peringatan atau imbauan untuk pengunjung agar berhati-hati saat berada di dekat jembatan.

Di sini juga terdapat kolam renang, namun karena sepi pengunjung sehingga airnya nampak keruh. Tak jauh dari kolam renang, ada kamar mandi, toilet pengunjung.

“Sebenarnya, kalau dipoles lagi, dan dirawat juga dapat dukungan pemerintah Kota Semarang bisa menjadi daya tarik unggulan wisata alam, selain Waduk Jatibarang dan Goa Kreo,” kata Hany, salah satu pegunjung.

Selain menikmati pemandangan keindahan curug, di sisi kiri, pengunjung juga akan menemui sebuah gua setinggi 10 meter dengan lebar 3 meter dan kedalaman 2,5 meter. Di dalamnya terdapat sebuah batu yang mirip meja besar dan patung mirip kepala primata.

“Tidak hanya itu, ada pula batu tumpang yang meski saling bertumpuk, namun batu yang atas tidak jatuh. Ada juga fosil kayu jati raksasa sepanjang 25 meter yang berbentuk seperti saluran yang dapat mengairi sawah seluas 50 hektare yang kami beri nama Talang Londho,” imbuh Arifin, warga setempat.

Konon kabarnya, kata Arifin, di sisi kanan curug juga ada gua yang hanya dapat dilihat secara mistis. Ada juga pemandian Kali Anyes yang mata airnya tidak pernah kering meski di musim kemarau, sehingga sangat membantu kebutuhan air warga sekitar.(HS)

Share This

Satgas Covid-19 Batang Rutin Gelar Operasi Yustisi dan Bagi Masker

YCDK Menggelar Khitanan Massal Bagi Anak Yatim/Piatu dan Dhuafa