Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Merebaknya Kampung Tematik di Kota Semarang

Kampung Pelangi Semarang di Bukit Gunung Brintik adalah salah satu kampung tematik di Kota Semarang.

 

PROGRAM Kampung Tematik merupakan inovasi Pemkot Semarang untuk mengatasi permasalahan pemenuhan kebutuhan dasar, utamanya pada peningkatan kualitas lingkungan rumah tinggal warga miskin dan prasarana dasar permukiman.

Kampung tematik merupakan titik sasaran dari sebagian wilayah yang melakukan perbaikan dengan memperhatikan beberapa hal, di antaranya mengubah lokasi kumuh menjadi tidak kumuh, peningkatan penghijauan wilayah, pelibatan masyarakat secara aktif, perbaikan kondisi lingkungan menjadi lebih baik dan mengangkat potensi sosial serta ekonomi masyarakat pada wilayah tersebut.

Dengan adanya keikutsertaan partisipasi masyarakat beserta lembaga-lembaga yang ada, bertujuan untuk membangun trademark, pengembangan potensi lokal yang dimiliki wilayah tersebut, serta membangun karakteristik lingkungan.

Potensi-potensi yang dapat diangkat dengan keikutsertaan masyarakat tersebut dapat berupa usaha masyarakat yang dominan, membangun karakter masyarakat yang mendidik (budaya, tradisi, kearifan lokal), home industri yang ramah lingkungan, serta ciri khas dari masyarakat setempat yang tidak dimiliki di kampung lain dan tentunya dapat menjadi ikon wilayah.

Dan akhir-akhir ini, di Kota Semarang banyak bermunculan kampung-kampung tematik baru.

Ada beberapa kampung yang mencoba menawarkan kekhasannya tersendiri, di antaranya Kampung Lumpia yang berada di Kelurahan Kranggan, Kampung Pelangi yang berada di Kelurahan Randusari, Kampung Batik yang berada di Kelurahan Rejomulyo, Kampung Mangut yang berda di Kelurahan Mangunharjo, dan beberapa kampung lain.

Beberapa waktu lalu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memaparkan sejumlah solusi alternatif penataan permukiman di Semarang melalui pola partisipatif. Menurutnya, saat ini banyak masyarakat yang tertarik untuk beraktivitas di Kota Semarang sehingga otomatis berdampak terhadap padatnya permukiman.

“Kami berupaya menata permukiman bukan semata-mata mengenai bangunannya saja, tetapi juga tentang masyarakat di dalamnya. Semua pihak harus terlibat di antaranya pemerintah, pengusaha, dan penduduk itu sendiri,” ujarnya.

Menurut Hendi, sapaannya, pihaknya memberi solusi masalah penataan permukiman dengan berupa melakukan tiga upaya, yaitu revitalisasi, fasilitasi, dan persuasi. Pihaknya selama ini telah merevitalisasi sejumlah kampung kumuh menjadi permukiman yang layak huni.

“Melalui program kampung tematik seperti kampung seni, kampung jawi, kampung bandeng, kampung batik, serta kampung pelangi yang sempat viral dan bahkan menjadi sorotan dunia,” katanya.

Di kampung ini banyak spot yang tadinya kumuh dan disulap menjadi tempat yang bersih, nyaman, rapi dan indah dipandang dengan sentuhan artistik.

Tak hanya itu saja, namun pernak-pernik kampung seperti pot tanaman, tempat sampahnya pun dihias dengan begitu cantik dan menarik. Dinding-dindingnya banyak dihiasi dengan mural aneka tokoh pahlawan, wayang, satwa dan alam hingga memberi daya tarik tersendiri bagi kampung tersebut.

Tak Perlu Dipaksakan

Pemkot Semarang pun berharap, program Kampung Tematik yang telah berjalan sejak tahun 2016 nantinya tidak sekadar berjalan, namun harus bisa mengangatkan kearifan lokal dan juga harus memberikan dampak yang positif bagi warga sekitar.

Camat dan Lurah diminta terus mengawal program Kampung Tematik. Hal itu disampaikan Asisten 1 Bidang Administrasi Pemerintahan Setda Kota Semarang, Trijoto Sardjoko. Dikatakan, program kampung tematik akan terus menjadi perhatian Pemerintah Kota Semarang. Program ini menjadi salah satu upaya pemkot mengentaskan kampung kumuh yang masih ada di Semarang.

Para Lurah dan Camat diminta harus melibatkan masyarakat, karena partisipasi warga dalam membangun kampung tematik sangat penting. Keunggulan daerah setempat yang menjadi materi kampung tematik harus muncul sesuai dengan keinginan warga karena warga juga yang akan merawatnya.

”Jadi jangan sekadar pembangunan semata, jangan sekadar berjalan, meskipun keunggulannya kecil tapi bisa menjadi objek wisata warga misalnya bisa buat jalan-jalan, ya gak apa-apa,” katanya, baru-baru ini.

Ditambahkan, pemberdayaan terhadap warga menjadi poin penting dalam menggali potensi yang dimiliki. Sebab program pembangunan kota tidak akan bisa terlepas dari peran serta masyarakat.

Sementara pihak DPRD berharap Pemerintah Kota Semarang tidak perlu memaksa 177 kelurahan yang ada di kota ini mengikuti program kampung tematik. Tetapi lebih baik disesuaikan dengan potensi yang ada di kelurahan. Sebab pemkot juga tidak boleh melupakan kampung tematik yang sudah ada sebelumnya.

“Sesuaikan dengan potensi yang ada saja. Kalau memang ada potensi dan layak dikembangkan, kelurahan tersebut bisa ikut program kampung tematik,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Mualim, Jumat (26/10/2019).

Selama ini dirinya melihat masih banyak kampung tematik yang akhirnya terjebak dalam pemaksaan diri. Misalnya menentukan tema tertentu, namun tak didasari dengan kajian budaya, kebiasaan warga, atau sejarah tentang kampung tersebut. Meski begitu, ada banyak pula kelurahan yang menunjukan hasilnya menjadi semakin indah, nyaman, dan berkembang dengan konsep kampung tematik ini. Contohnya adalah Kampung Pelangi di Kelurahan Randusari Semarang Selatan.

Meski sudah berjalan, Pemkot Semarang diminta tidak boleh lepas tangan begitu saja. Harus ada pembinaan yang dilakukan terus menerus dengan melibatkan sejumlah OPD terkait.

“Dewan tentu akan terus mendorong program kampung tematik sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang