Merdeka Belajar, SMKN 6 Semarang Gandeng Horison Group Jalankan Kelas Industri

Plt Kepala Disdikbud Jawa Tengah, Hari Wuljanto menerbangkan balon tanda peresmian cafe di SMKN 6 Semarang sekaligus kerja sama antara SMK Negeri 6 Semarang dengan PT Metropolitan Golden Management (Horison Group) untuk kelas industri, Kamis (18/3/2021).

 

HALO SEMARANG – Merealisasikan program Merdeka Belajar episode kedelapan yaitu SMK Pusat Keunggulan, SMK Negeri 6 Semarang menggandeng PT Metropolitan Golden Management (Horison Group) untuk menjalankan proses pembelajaran teaching factory atau kelas industri.

Kerja sama ditandai dengan penandatanganan perjanjian antara SMK Negeri 6 Semarang dengan PT Metropolitan Golden Management, di Aula SMK, Kamis (18/3/2021).

Kepala SMK Negeri 6 Semarang, Almiati mengungkapkan, kerja sama dengan Horison Group tersebut nantinya direalisasikan dalam bentuk penyusunan kurikulum kelas industri. Kerja sama akan mulai dilaksanakan semester gasal tahun ajaran 2021/2022.

“Tujuannya untuk meningkatkan mutu SDM melalui penyelenggaraan pendidikan sistem ganda. Karena pendidikan di SMK itu tak hanya di sekolah saja tapi juga di industri,” kata Almiati.

Nantinya, kelas industri akan dibuka satu kelas jurusan perhotelan yang terdiri dari 30 siswa. Para siswa tersebut nantinya akan diseleksi secara ketat oleh pihak sekolah bersama Horison Group.

Sehingga jika calon siswa tak memenuhi standar, tak akan lolos dalam kelas industri tersebut.

Kerja sama juga dimulai dengan penyelarasan kurikulum yang implementatif. Maksudnya, kurikulum yang dijalankan merupakan kurikulum yang disusun dan disesuaikan dengan standar kebutuhan industri, dalam hal ini standar perhotelan Horison Group.

Hal ini sebagaimana implementasi kurikulum Merdeka Belajar sekolah vokasi yang diharuskan menyusun kurikulum bersama dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Kerja sama ini tak hanya menyelaraskan kurikulum, tapi juga guru tamu, magang guru untuk peningkatan kompetensi, up skilling, asistensi sarana dan prasarana kelas industri, dan penyerapan tamatan menjadi tenaga kerja,” paparnya.

Dengan kata lain, katanya, dunia industri, dalam hal ini Horison Group diajak mendidik para siswa SMK sejak awal mereka masuk sekolah. Selama tiga tahun menjalani pembelajaran dengan kurikulum gabungan, diharapkan kompetensi siswa sudah sesuai kebutuhan industri.

Direksi PT Metropolitan Golden Management atau Horison Group, Basari Bachri mengakui, adanya celah kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan industri. Karena itu, Horison Group tergerak untuk memperbaiki kemampuan siswa SMK agar menjadi tenaga kerja yang siap kerja.

“Caranya, kami memberikan hal-hal yang sifatnya praktis kepada anak-anak. Maka dikemas dalam bentuk kerja sama yaitu praktik kerja industri (Prakerin). Lamanya nanti minimal 6 bulan. Tapi originalnya 1 tahun,” katanya.

Sebenarnya, Horison Group mempunyai Kelas Industri Horison. Bahkan, saat ini juga menyiapkan Sekolah Tinggi Perhotelan Horison. Langkah tersebut sebagai jawaban atas kebijakan fast track dari SMK ke program Diploma, yang dicanangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi).

“Goalnya adalah menciptakan tenaga kerja level senior. Lalu dikaitkan lagi dengan program percepatan SMK Pusat Keunggulan dan fast track, maka hasilnya nanti lebih bagus lagi. Minimal lulusannya nanti disiapkan untuk menjadi manajer,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah, Hari Wuljanto mengatakan, saat ini telah mulai dijalankan kebijakan Merdeka Belajar episode kedelapan yaitu SMK Pusat Keunggulan.

Kebijakan tersebut telah diawali dengan revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing SMK. Revitalisasi tersebut terdiri dari empat tahap. Pertama, yaitu penyelarasan kurikulum, yang dibuat secara bersama-sama antara SMK dengan industri.

“Karena selama ini diakui atau tidak, ada gap antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan di lapangan,” ujarnya.

Kedua, kerja sama dengan industri. Karena pemerintah tidak mungkin membiayai seluruh SMK di Indonesia yang jumlahnya mencapai 1.600 SMK di Indonesia. Sehingga, pihak industri dan masyarakat diminta ikut terlibat di dalamnya.

Ketiga, terkait dengan peningkatan kualitas dan kompetensi guru SMK. Dan keempat, yaitu sertifikasi kompetensi lulusan SMK. Sehingga, setiap lulusan SMK nantinya siap pakai di dunia industri dan dunia kerja.

“Maka adanya kerja sama antara SMKN 6 Semarang dengan Horison Group ini sudah sesuai dan realisasi dari kebijakan yang diterapkan Kemendikbud. Termasuk program yang terbaru yaitu SMK Pusat Keunggulan,” tandasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.