Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Menyimpan Banyak Benda Bersejarah, Inilah Sejarah Berdirinya Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang

Benda dan senjata tempur yang disimpan Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang.

 

HALO SEMARANG – Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang merupakan bangunan bersejarah, terutama terkait perjalanan berbagai peristiwa perjuangan kemerdekaan RI, terutama di wilayah Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Museum yang terletak di Jalan Soegijapranata No 1, Kota Semarang ini berada tepat di sekitar monumen Tugu Muda, Semarang, yang jadi tugu peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Museum Mandala Bhakti juga bersebelahan dengan bangunan bersejarah Lawang Sewu yang dulu merupakan perusahaan kereta api.

Museum ini menyimpan bukti perjuangan TNI bersama para pemuda Semarang dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, serta peran TNI dalam upaya mempertahankan kemerdekaan usai Proklamasi tahun 1945. Museum Mandala Bhakti memiliki koleksi berupa data, dokumentasi, dan benda sejarah lain, yang ditempatkan berdasarkan waktu peristiwanya.

Saat halosemarang.id berkunjung ke Museum Mandala Bhakti baru-baru ini, puluhan koleksi benda bersejarah yang ada di sana terlihat disimpan rapi di dalam etalase, dalam ruangan yang tersusun di lantai dua museum tersebut.

Museum Mandala Bhakti terdiri dari dua lantai menghadap utara dan dibangun dengan rancangan arsitek handal dari Belanda bernama I Kuhr E pada tahun 1930.

“Awalnya, gedung ini dibangun sebagai Pengadilan Tinggi Belanda (Raad van Justitie) bagi rakyat Eropa di Semarang, dan pernah dijadikan Markas Polisi Militer Tentara Jepang, saat dikuasai pasukan negeri Sakura. Namun pasca kemerdekaan RI, pada tahun 1950-an gedung ini digunakan sebagai Markas Besar Komando Wilayah Pertahanan II Kodam IV/Diponegoro,” kata pemandu Museum Mandala Bhakti, Gandu Raharjo, belum lama ini.

Dia menjelaskan, pada tahun 1985 secara resmi gedung ini dialih fungsikan menjadi museum Perjuangan Mandala Bhakti Kodam IV/Diponegoro.

Museum Perjuangan Mandala Bhakti Semarang diresmikan pada Maret tahun 1985 silam, saat itu oleh Mayor Jenderal TNI Soegiarto. Di museum ini, juga ada ruang kerja Pangdam saat dijadikan Markas Besar Komando Wilayah Pertahanan II Kodam IV/Diponegoro.

Setelah dijadikan museum, tempat tersebut kemudian ditata sedemikian rupa untuk menyimpan berbagai benda dan senjata yang digunakan dalam perang pra dan paska-perjuangan kemerdekaan RI di wilayah Semarang. Salah satunya kendaraan tempur bernama Canon 2 PDR Nomor 1061, kaliber 37 milimeter. Senjata buatan Australia tersebut pernah digunakan oleh prajurit Kodam IV/Diponegoro dalam berbagai tugas operasi.

“Sebut saja operasi penumpasan DI/TII di Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh dan peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI),” katanya.

Setelah direnovasi beberapa kali, lanjut dia, ada perubahan, penempatan koleksi yang ada di museum.

“Saat ini benda-benda bersejarah itu dijadikan satu di lantai dua, masing-masing benda diurutkan sesuai dengan peristiwanya. Seperti peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang, peristiwa Pemberontakan 30 September, dan lainnya. Kalau dulu, berdasarkan jenisnya, misalnya ruang senjata sendiri dan seragam sendiri,” imbuhnya.

Museum ini dibuka untuk umum, dari hari Senin sampai Jumat mulai pukul 08.00-15.00. Namun jika pengunjung yang akan berkunjung pada hari Sabtu dan Minggu, harus ada surat permohonan kunjungan sebelumnya kepada pihak museum, agar buka pada hari tersebut.

“Saat ini rata -rata pengunjung sekitar 100 orang/hari. Tergantung musimnya, kalau musim liburan anak sekolah, dan ada kunjungan dari bataliyon, kadang lebih,” terangnya.
Salah satu pengunjung, Riko mengatakan, dia tertarik dengan koleksi senjata dan koleksi terbaru di museum yaitu lukisan 3 Dimensi tentang perjuangan Pangeran Diponegoro.

Diharapkan, dengan koleksi terbaru bisa menarik lebih banyak wisatawan untuk datang ke museum. “Apalagi di dalamnya juga akan ada bioskop tentang ‘Perang Jawa’ dan film sejarah perjuangan. Ini pasti seru. Dan pastinya mendapatkan wawasan baru dari cerita pahlawan nasional,” katanya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang