Menulis Itu Tidak Gampang, Tapi Juga Tidak Sulit

HPN 2021.

 

 “DARI media mana mas? Mau jual apa lagi?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kadang terlontar spontan dari calon narasumber yang ingin kita wawancarai.
Memang kedengaran kurang mengenakkan, namun profesionalitas lebih kita kedepankan.

Karena memang ada oknum “wartawan” yang berkegiatan seperti itu.

- Advertisement -

Saat datang, hanya ngobrol bla bla bla, ujung-ujungnya menawarkan peliputan khusus dengan penentuan “tarif”.

Tak bisa dipungkiri, profesi jurnalis atau wartawan banyak diminati. Entah dengan tujuan apa atau kepentingan apa.

Namun, tidak sedikit, untuk menyalurkan bakat atau hobi menulisnya.

Profesi wartawan itu unik, dia hidup seperti di alam kehidupan lain. Mengapa demikian, karena wartawan dituntut harus bisa membalikkan logika yang secara nalar tidak lazim.

Karena wartawan harus bisa mewartakan apa yang ia dengar, ia lihat, dan ia rasakan menjadi satu. Meski kadang, apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan bertentangan dengan prinsip yang ia pegang.

Di situlah kadang terjadi perdebatan batin seorang wartawan, antara fakta dan prinsip.

Untuk itulah jiwa dan profesionalisme seorang wartawan diuji kompetensinya. Termasuk kekayaan wacana dan pemahaman tentang persoalan yang dihadapi.

Apakah dia akan mengedepankan ideologi dan keyakinannya, atau merangkum sesuai dengan fakta di lapangan.

Di sisi lain, profesi wartawan atau jurnalis tidak hanya dituntut untuk mengenal kode etik jurnalistik berupa kemampuan penulisan berita, mencari narasumber, memahami isu saja.

Namun seorang wartawan juga harus bisa jeli, teliti, dan hati-hati dalam menuangkan sebuah tulisan. Karena ia juga harus bisa mempertanggung jawabkan informasi yang telah didapat dan disebarkan.

Saat menulis, terjadi kesalahan dalam penulisan nama, penulisan kata, kemudian salah tanda kata baik titik maupun koma, atau salah memilih keterangan foto, bisa menjadi kesalahan yang “fatal” sebuah berita.

Terkadang seorang wartawan juga dihadapkan pada problem sederhana, bingung memilih angle tulisan, karena banyak aspek menarik dari sebuah topik.
Selain karena ketersediaan data dan bahan, memilih angle tulisan bisa didasarkan pada pertimbangan aspek mana yang paling menarik, paling penting, dan paling berdampak bagi masyarakat.

Namun sebenarnya jika dijalani dan ditekuni dengan memegang prinsip-prinsip jurnalistik dan etika profesi, ternyata banyak hal positif yang dapat diperoleh.

Baik itu tentang wacana yang main terbuka, melatih kemampuan menjaga relasi, serta pengalaman batin lain yang bisa diperoleh dengan banyak bertemu dengan orang baru setiap harinya.

Meski di balik itu semua, ternyata sejumlah wartawan berpendapat, banyak pengorbanan pula yang mereka alami dari risiko profesinya. Salah satunya soal waktu.

Di Hari Pers Nasional tahun 2021 ini, meski penuh tantangan, adalah sebuah kebanggaan bisa menjadi insan pers, karena bisa memiliki pengalaman luar biasa yang tak semua orang atau profesi bisa melakukannya.

Jadi menulis itu tidak gampang. Tapi juga tidak sulit.

SELAMAT HPN 2021.

(Penulis adalah wartawan halosemarang.id yang bertugas di Kendal).

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.