in

Mengurai Persoalan Banjir di Pesisir Semarang

Banjir yang sempat merendam Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang/dok.

 

UPAYA pencegahan dan penanganan bencana terus dilakukan dari pelbagai pihak, seperti bencana banjir yang melanda Kota Semarang beberapa waktu terakhir.

Bencana banjir di Kota Semarang sering terjadi di daerah utara kota ini. Kecamatan Genuk, Kecamatan Semarang Utara, dan Gayamsari menjadi wilayah dari 16 kecamatan yang berlangganan bencana banjir.

Kecamatan ini menjadi tujuan lintasan aliran sungai menuju ke laut. Di sisi lain juga memiliki dataran yang rendah, sehingga jika terjadi gelombang pasang akan menimbulkan banjir rob.

Kelurahan Trimulyo, satu di antara kelurahan yang berada di Kecamatan Genuk adalah wilayah yang terparah dilanda banjir tahun ini.

Lurah Trimulyo, Catarina Hevy Herawati mengatakan, dalam pencegahan banjir pihaknya telah melakukan beberapa hal. Salah satunya membangun tanggul di pinggir Sungai Babon.

“Saya mengusulkan untuk dibuat tanggul sepanjang 500 meter untuk mencegah luapan Sungai Babon. Saat masih berlangsung pembangunannya, sudah berjalan satu bulan ini. Proses pembangunan sudah sepanjang 400 meteran,” kata Catarina kepada halosemarang.id, baru-baru ini.

Hal itu terlaksana, berkat dirinya selalu berdiskusi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dari hasil diskusi memunculkan beberapa ide pencegahan banjir.

Menurutnya, masalah yang muncul di Sungai Babon tidak dapat menampung air, salah satunya perihal sedimentasi.

“Kita dipinjami alat berat dari DPU untuk mengeruk sedimen yang mengedap dan sampah yang menumpuk,” imbuhnya.

Catarina mengungkapkan, tidak hanya membangun tanggul untuk mencegah banjir. Penambahan pompa untuk menyedot air juga dilakukan untuk penanganan banjir.

Saat ini di Kelurahan Trimulyo sudah memiliki delapan pompa, masing-masing lima pompa ukuran besar, dan tiga pompa ukuran kecil.

“Kami berusaha memaksimalkan pompa air, di Kelurahan Trimulyo ada lima pompa besar dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, BBWS juga bantu pengadaan satu pompa tapi kecil. Di kolam retensi juga ada satu pompa kecil. Kami juga meminta bantuan Dinas Pekerjaan Umum, dibantu satu pompa kecil. Total pompa ada delapan,” ungkap Catarina.

Dirinya menambahkan, setiap tahun di pesisir Kota Semarang termasuk kelurahan yang dipimpinnya mengalami penurunan tanah 10 cm.

Sementara itu Ahli Geologi dari Universitas Diponegoro (Undip) Dr.rer.nat. Thomas Triadi Putranto, ST, M.Eng mengungkapkan, yang menjadi penyebab bencana banjir ada dua hal.

Yaitu natural atau alami, dan penyebab dari aktivitas manusia yang menjadi permasalahan lingkungan di Kota Semarang.

“Penyebab terkait bencana banjir itu satu, penurunan alami dari material aluvial di bagian utara Semarang. Hal ini tentunya dapat menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah pada bagian tersebut,” ungkap Thomas kepada halosemarang.id Selasa (16/2/2021).

Tata Guna Lahan
Kemudian adanya pemahaman dari masyarakat yang masih rendah, pembangunan terus dilakukan. Semakin banyak perubahan tata guna lahan berubah menjadi permukiman. Beban permukiman adalah salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan tanah.

“Dulunya di sana ada rawa dan kemudian diuruk atau reklamasi,” imbuhnya.

Hal lainnya, kegiatan manusia terkait dengan pengambilan air tanah yang cukup intensif. Sehingga hal ini dapat menyebabkan berkurangnya volume air pada tanah pada suatu lapisan tanah.

Berkurangnya air tanah ini menimbulkan dampak munculnya rongga-rongga, kemudian secara perlahan terjadi penurunan tanah.

Solusi yang harus dilakukan ialah, harus ada batasan dalam pengambilan air tanah, penggunaan sumur resapan yang dalam.

Namun, Thomas mengatakan, solusi yang terbaik yakni, suplai air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

“Membuat sumur resapan yang dalam, pembatasan izin pengambilan air tanah sesuai dengan ketentuan berlaku, namun ini merupakan alternatif terakhir. Solusi terbaik yaitu pasokan air dari PDAM, tapi sampai sekarang apakah PDAM mampu?,” terang Thomas.

Menurut Sekretaris Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Undip itu, memang benar jika daerah utara di Kota Semarang mengalami penurunan tanah hingga 10 cm/tahun.

Dua penyebab dari faktor alamiah dan aktivitas manusia itulah yang menjadi permasalahan lingkungan di Kota Semarang.

Thomas menambahkan, berkaca pada bencana banjir yang terjadi beberapa waktu terakhir di Kota Semarang, dalam penanganannya segera dilakukan.

Di antaranya melakukan pengecekan dan penambahan pompa, serta normalisasi sungai.

Lebih lanjut, kenaikan muka air laut akan membuat air lebih lambat mengalir ke laut. Perbedaan ketinggan yang awalnya dapat mengalirkan air dengan cepat menjadi berkurang.

Kelambatan pengaliran inilah yang menjadikan air semakin lama surut.

“Bencana yang terjadi yaitu hidrometeorologi, perubahan iklim di depan mata kita, artinya pada musim hujan kontrol pada pompa, kemudian normalisasi volume air permukaan diperbesar supaya air yang mengalir lancar,” pungkasnya.(HS)

Share This

Setelah Dilaporkan ke Polda Jateng, “Syamsu Hidayat HTI” Sempat Jadi Trending Topik Twitter

Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kendal Ditunda, Basuki: Kita Tunggu SE Mendagri