Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Mengintip Gedung Sobokartti Semarang, Peninggalan Arsitek Belanda Thomas Karsten

Gedung Sobokartti Semarang.

 

GEDUNG Sobokartti yang terletak di Jalan Dr Cipto No 31-33 Semarang saat ini hanya dikenal oleh sebagian kecil masyarakat, sebagai salah satu bangunan cagar budaya dan tempat yang menyelenggarakan berbagai kegiatan kesenian. Bahkan masyarakat Kota Semarang pun banyak yang tidak mengetahui keberadaan gedung yang telah berusia puluhan tahun ini. Padahal bangunan tersebut menyimpan cerita sejarah perjuangan bangsa Indonesia, untuk mencapai kesetaraan hak dalam seni budaya. Dan gedung bersejarah ini, dirancang oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten, sosok yang juga merancang bangunan Pasar Johar Semarang.

Saat menyambangi Gedung Volkstheater Semarang atau yang dikenal dengan nama Gedung Sobokartti Semarang, susana terlihat sepi. Hanya terlihat berjejer kursi di dalam gedung yang biasa dipakai untuk pentas kesenian tarian Jawa dan pertunjukkan wayang serta event budaya lainnya. Sebuah papan nama besar bertuliskan “De Volks-Kunst Vereeniging. ‘SOBOKARTI’ Perkumpulan Seni-Budaya dan Gedung Cagar Budaya” terpampang di depan gedung. Pada papan nama tersebut tertera tanggal berdiri 5 Oktober 1929.

Tanggal itu disebut sebagai waktu berdirinya Gedung Sobokartti. Namun sebenarnya perkumpulan Sobokarti sendiri telah disahkan pada 6 September 1926, berdasarkan anggaran dasar Kunstvereeneging Sobokartti. Hal itu disebut dalam penjelasan di laman situs Sobokartti.

Dalam artikel berjudul “Sobokartti dan Demokratisasi Kesenian Jawa”, Ketua Perkumpulan Seni-Budaya Sobokartti, Tjahjono Rahardjo menyebut tanggal pendirian Sobokartti tak diketahui pasti. Selanjutnya Tjahjono menerangkan, dalam surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada September 1929 tentang perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Sobokartti, disebutkan Sobokartti telah berdiri sejak 9 Desember 1920.

 

Purwarupa Gedung Sobokartti rancangan Thomas Karsten. (sumber: sobokartti.wordpress.com)

 

Pembentukan Volks-Kunst Vereeneging Sobokartti di Semarang sendiri tak terlepas dari politik etis yang dijalankan pemerintah kolonial Belanda. Situasi politik pada masa itu memberi celah bagi masyarakat pribumi untuk mendapat pendidikan modern. Selanjutnya muncul kelompok terpelajar yang sadar dan bangga pada budaya mereka.

Pada 17 Agustus 1918 di Yogyakarta berdiri organisasi Kridha Beksa Wirama (KBW). Hal ini atas permintaan para pelajar yang tergabung dalam Tri Kara Darma (setelah 1918 berubah menjadi Jong Java) kepada Sultan Hamengkubuwana VII. Tujuannya agar mereka boleh mempelajari kesenian kraton.

Hamengkubuwana VII memerintahkan penyelenggaraan pendidikan tari dan musik kraton kepada masyarakat lewat KBW. Sejak itu seni pertunjukan yang semula hanya berkembang di dalam kraton, seperti tari bedhaya, srimpi, wireng, dan wayang wong bisa dipelajari dan dinikmati masyarakat di luar kraton.

Politik etis juga membuat kalangan orang-orang Belanda penganjurnya memiliki minat mempelajari kebudayaan dan seni Jawa. Seorang arsitek berkebangsaan Belanda, Herman Thomas Karsten bersama Prangwadana (kelak Mangkunegara VII) dan Dr Radjiman menggagas terbentuknya Volks-Kunst Vereeniging Sobokartti di Semarang, menyusul berdirinya KBW di Yogyakarta.

“Sedangkan kegiatan sehari-hari di Sobokartti sampai saat ini sebagai tempat gladen segala macam tarian. Baik tari baru maupun lama, kursus pedalangan, karawotan, gamelan, pranatacara. Banyak mereka yang kemudian menjadi dalang cilik,” kata pengurus Sobokartti, bidang pelestarian budaya Akso Prabu Wisnu Aji, belum lama ini.

Dalam upayanya untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal kebudayaan Jawa, lanjut dia, pihaknya menghubungi ke sekolah dasar. Tujuannya guna memberikan pengarahan kepada orang tua murid untuk mengajak anak-anaknya mengenal budaya Jawa. Pasalnya kegiatan ini dilakukan agar kebudayaan tidak punah.

“Gedung Sobokartti adalah warisan dari Thomas Karsten seorang Netherland yang senang dengan kebudayaan Jawa. Sehingga dia berani membeli dan membangun lahan seluas 2000 meter persegi yang sekarang digunakan untuk berdirinya gedung cagar budaya tersebut,” bebernya.

Sementara itu, salah satu pengunjung, Aik mengatakan, sebenarnya konsep yang mendasari rancangan Gedung Sobokartti ini masih sangat relevan untuk dipertimbangkan pada masa sekarang. Sehingga perlunya “nguri-uri kabudayaan”, terutama di Kota Semarang ini. Apalagi selama ini, dia merasa tidak ada tempat pementasan yang betul-betul sesuai dengan karakter seni pertunjukan Jawa dan sekaligus demokratis.

“Satu-satunya gedung pertujukan adalah Gedung Sobokartti, namun sayangnya saat ini lokasinya rawan banjir. Apalagi kalau hujan deras. Untuk itu pemkot setempat harus memperhatikannya, jangan sampai akibat ketidakmampuan pihak-pihak yang berwenang mengatasi kerusakan lingkungan di Kota Semarang, bisa merusak benda yang termasuk peninggalan sejarah di Kota Semarang ini,” ujarnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang