Menghidupkan Kembali Tradisi Weh-Wehan, Melatih Semangat Saling Memberi Sejak Usia Dini

Anak-anak dan ibu-ibu di Kampung Pesantren Kaliwungu, Kendal terlihat antusias mengadakan tradisi Weh-wehan sebagai warisan budaya turun-temurun, Jumat (25/9/2020).

 

HALO KENDAL – Pandemi Covid-19 ternyata tidak mempengaruhi pelaksanaan tradisi “Weh-wehan” (saling memberi) yang sudah menjadi acara tahunan di Kaliwungu, Kendal.

Warga terlihat antusias mengadakan tradisi tersebut sebagai warisan budaya turun-temurun, Jumat (25/9/2020).

Weh-wehan biasanya diadakan pada bulan Maulud dalam penanggalan Qomariah atau Hijriah.

Namun masyarakat kampung Pesantren Kaliwungu, Kendal, menggelar kegiatan Weh-wehan dengan memberi atau bertukar makanan dari warga satu ke warga lainnya, pada bulan Safar ini.

Menurut warga Kampung Pesantren Kaliwungu, Rosidah, Weh-wehan mengandung makna yang baik, karena mengajarkan untuk saling berbagi dan memberi sejak kecil.

“Makanan yang dibagikan dari aneka snack, buah-buahan aneka minuman dan lain-lain. Tapi pelaksanaan tradisi Weh-wehan pada bulan ini hanya untuk anak-anak saja. Guna melatih kepekaan sosial mereka di tengah pandemu,” ungkap Rosidah, warga Kampung Pesantren Kaliwungu, Kendal, Jumat (25/9/2020) sore.

Dalam tradisi ini seluruh anak, baik miskin maupun kaya, tidak ada batasan dan tidak mengenal suku, agama, maupun strata sosial, semua saling bertukar makanan.

“Jika memang salah satu warga tidak punya barang yang ditukar, anak lain rela tanpa mendapat pengganti. Karena suasana begitu guyup rukun sesama warga kami jaga,” imbuh Rosidah.

Dijelaskan, tradisi Weh-wehan ini juga bertujuan untuk melatih anak-anak dalam melestarikan budaya serta kearifan lokal. Pasalnya belakangan ini tradisi Weh-wehan mulai ditinggalkan warga, apalagi di tengah pandemi Covid-19.

“Biasanya Weh-wehan dilakukan saat bulan Maulud. Kalau hari ini hanya anak-anak kecil yang melakukannya dan yang ditukarpun hanya makanan. Kami berusaha menghidupkan lagi tradisi ini, karena mulai ditinggalkan,” terangnya.

Ditambahkan oleh Rosidah, tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun ini, di masa pandemi seharusnya bisa menumbuhkan semangat saling membantu bagi sesama.

“Mungkin para pendiri wilayah ini menginginkan bahwa semua saling merasakan. Dalam arti yang punya bisa membagikan apa yang biasa dia makan kepada warga yang tidak punya. Jadi semua lebih peka dalam kehidupan sosial, karena yang tidak punya pun merasakan yang jarang sekali mereka nikmati,” ujarnya.

Anak-anak kampung setempat terlihat sangat menikmati tradisi tersebut, karena banyak jajanan dan makanan yang didapat dari saling bertukar makanan.

Mereka mengaku tidak perlu jajan di warung ataupun membeli, karena makanan dalam tradisi ini diberikan secara cuma-cuma.

Seperti dikatakan salah satu anak, Naila Syarifa Apriliani (11). Dia mengaku sangat suka dengan tradisi Weh-wehan di kampungnya. Berbagai makanan yang dia bawa hasil tukar-menukar dengan teman-teman sebayanya.

“Senang bisa dapat banyak makanan, tidak usah jajan di warung, sudah dapat minuman, jajanan, ada puding dan juga roti,” ungkap Naila.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.