in

Menghidupkan Industri Kemanusiaan

Marjono, Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng.

 

GETIR manis pandemi Covid-19 ada di mana-mana. Kita dibuat getir, kala ada orang-orang yang melakukan kekerasan kepada nakes Covid-19, bullying warga yang terpapar Covid-19, merebut paksa pasien Covid-19 di rumah sakit, menolak stigma jenazah Covid-19.

Lebih getir lagi, ada saja orang-orang yang tega merampas bantuan orang miskin, menimbun obat dan oksigen, memberlakukan tarif tes Covid-19 di luar kewajaran, masifnya surat keterangan bebas Covid-19 palsu.

Sebagian manisnya, hampir produk obatan-obatan, ramuan tradisional, peralatan penunjang kesehatan, dan sebagainya laris manis tak tersisa bahkan menjadi bahan langka. Manis lainnya, tak sedikit orang yang rela berbagi pengalaman, bertukar ilmu atau memberi cuma-cuma tips dalam menghadapi Covid-19, sehingga mereka pun sesungguhnya secara faktual tanpa dikukuhkan negara pun, sudah menjadi duta Covid-19.

Maka kemudian, ketika aturan menekan angka Covid-19 dibuat, tapi lagi-lagi jumlah pelanggaran protokol kesehatan, penabrak PPKM bertambah, hingga angka-angka murung orang meninggal pun juga menjadi terjal. Begitu juga, pasokan berita positif bertebaran, namun berita negatif berkejaran. Barangkali kita cukup disiplin bermasker, tapi ada orang-orang yang apatis, tak percaya terhadap musuh besar kita kini, yakni pandemi Covid-19. Inilah bagian virus bengal yang harus diedukasi.

Masih saja muncul keluarga penyintas Covid-19 menyembunyikan riwayat penyakit, tapi ada pula keluarga terpapar Covid-19 yang mulai introvert. Artinya segala informasi mesti disampaikan, baik yang menggembirakan maupun sebaliknya menyedihkan.

Masyarakat mestinya kita edukasi bagaimana mengantisipasi dan mengelola hingga solusi kala menghadapi informasi yang tak selalu baik.

Kurang proporsional rasanya, jika warga hanya dipasok informasi manis seperti madu semata, padahal informasi temulawak bahkan brotowali penting untuk disampaikan kepada khalayak. Model temulawak ini layak diketengahkan dalam relasi pandemi Covid-19 ini, meski pahit tetap menyehatkan sekujur rakyat. Harap kita pahami, informasi pahit bukan berarti informasi negatif.

Aras informasi demikian, harapannya, masyarakat lebih punya greget, semangat dan motivasi bahkan punya daya hidup yang tak gampang jatuh.

Di sinilah belajar jatuh untuk bangun dan bangkit dari pandemi Covid-19. Jika kemudian kita membaca kasus di Sumatera Utara yang ada warga yang positif Covid-19, lantas dia diikat, diseret dan dipukuli masyarakat seperti binatang. Sungguh nihil praktik kemanusiaan (Kompas, 24/7/2021).

Hal ini hanya menegaskan pelemahan sikap mental masyarakat, betapa mereka telah kelahilangan rasa kemanusiaan alias mereka sudah mati rasa. Bagaimana jika yang terpapar itu anggota keluarga dari mereka.

Maka di sinilah penting dan layak kita menghidupkan kembali industri kemanusiaan kita selama ini yang barangkali lama terlelap, senyap bahkan mulai mengendap.

Di tengah kemurungan yang hampir merata ini, sudah saatnya kita mengepakkan sayap peduli, berbagi dan empati. Itulah sel-sel kemanusiaan kita yang bertumbuh, sikap Indonesia banget, itulah sikap Pancasilais.

Pembangunan di Indonesia akan semakin baik jika seluruh elemen masyarakat memelihara kepedulian sosial serta memelihara sikap berbagi, tolong-menolong, saling membantu dan bergotong-royong. Jangan sampai kasus bocah Vino (10) terulang, atau siap menjadi relawan/donor plasma konvalesen, misalnya.

Kesetiakawanan sosial atau rasa solidaritas sosial merupakan potensi sekaligus komitmen bersama dan jati diri bangsa. Kapital sosial ini merupakan nurani bangsa Indonesia yang tereplikasi dari sikap dan perilaku yang dilandasi oleh pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung jawab dan partisipasi sosial, hal inilah yang akan terus kita rawat bersama, khususnya dimasa pendemi Covid-19 ini.

Masih belum ada prediksi pedemi ini akan berakhir, walaupun begitu kita tidak boleh menyerah. Berbagai usaha dan strategi menghadapi pendemi Covid-19 ini harus terus kita tingkatkan bersama. Kita optimalkan program Jogo Tonggo, Jogo Warga.

Program ini merupakan pemberdayaan masyarakat dalam percepatan penanganan Covid-19 di tingkat wilayah RT/RW. Atau kita juga bisa membeli atau memborong dagangan UMKM, dll.

Obat Mujarab

Di samping ada kenaikan kasus covid-19, tapi juga terjadi penurunan case fatality rate (CFR) dan peningkatan angka kesembuhan. Begitu pula, satu hal yang menggembirakan muncul, yaitu turunnya tingkat keterisian rumah sakit (tempat tidur ICU dan isolasi).

Terkait pemenuhan kebutuhan oksigen medis, seperti Jateng Oksigen Stock System (JOSS), sebagai basis sistem guna memudahkan rumah sakit dalam memberikan informasi kondisi O2 dan transaksi pemesanan O2, sehingga memudahkan para distributor dalam pemenuhan kebutuhan O2 di rumah sakit.

Penambahan armada untuk mensuplai oksigen di berbagai rumah sakit, baik itu dari Pertamina maupun beberapa perusahaan penyedia oksigen.

Walaupun keterisian tempat tidur di rumah sakit cenderung mengalami grafik penurunan, tetapi daerah hendaknya turut membuat rumah sakit darurat sebagai antisipasi melonjaknya kasus Covid-19.

Seperti Asrama, Wisma maupun Hotel milik Pemda maupun Pemerintah bisa didayagunakan sebagai rumah sakit darurat Covid-19. Selain itu, penting juga Pembentukan Tempat Isolasi Terpusat bagi yang bergejala ringan dan OTG di tiap-tiap daerah.

Tidak hanya itu, meminimalisir penyebaran Covid-19 penting ada upaya percepatan vaksinasi Covid-19 dengan menambah gerai-gerai di kabupaten/kota (puskesmas, posyandu, komunitas, kantor desa), membuat vaksinasi mobile yang bisa menjangkau daerah pinggiran atau berbasis zona risiko tinggi, jemput bola kepada kelompok lansia dan disabilitas. Selain tak kalah penting dengan melakukan penaikan testing dan tracing.

Para nakes di garda paling depan juga mesti terus kita kasih semangat, mencukupi kebutuhan vitamin, kebutuhan barang habis pakai lainnya, termasuk memberikan tambahan honor insentif bagi nakes. Penting juga bagi kita semua untuk terus berihtiar dengan mendorong masyarakat mematuhi aturan PPKM dengan prokes yang lebih ketat.

Di samping itu, tak kalah pentingnya adalah pemulihan ekonomi, khususnya dalam membantu masyarakat terdampak dan penyelamatan dunia usaha. Untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19 kita ada beberapa program, di antaranya adalah memberikan bansos, BLT dana desa, bantuan pangan non tunai, program keluarga harapan, kartu pra-kerja, subsidi upah, program padat karya dan subsidi listrik.

Sedangan untuk penyelamatan dunia usaha, daerah pun bisa membuat program insentif pajak, restrukturisasi kredit, bantuan produktif usaha mikro, subsidi bunga KUR/non-KUR, penjaminan modal usaha, pendampingan dan pelatihan UMKM, dll.

Terpenting, semangat persatuan, teposliro, kerelaan untuk berkorban demi sesama, kegotong-royongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan serta perasaan senasib sepenanggungan merupakan obat mujarab (panasea) untuk melewati ujian dengan atau tanpa pendemi.

Inilah warisan nilai-nilai dan budaya Indonesia yang harus terus kita lestarikan bersama. Tak sedikit bendera putih dikibarkan, sudah saatnya kita mengibarkan bendera kemanusiaan. Urip iku Urup.(HS)

(Penulis: Marjono, Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng)

Share This

Di Tengah Pandemi, Lansia di Kota Semarang Terima Bantuan Khusus

Tangani Covid-19, Menkominfo: Pemerintah Terapkan Digitalisasi Dukung Solusi Komprehensif