Mengenang Gempa Bumi Besar Hanshin, Bagaimana Dengan Indonesia ?

Rumah rusak akibat gempa di Sulbar. (Foto : BNPB.go.id)

 

HALO SEMARANG – Penduduk Jepang tentu sulit untuk melupakan peristiwa bersejarah 17 Januari 1995 silam. Hari itu, gempa tektonik besar bermagnitudo 7,2 mengguncang sebelah utara Pulau Awaji, bagian selatan prefektur Hyogo.

Goyangan gempa sekitar 20 detik itu, terjadi akibat pergerakan lempeng bumi Filipina, Pasifik, dan Eurasia. Semua bangunan di distrik Shin-Nagata, Kota Kobe, sekitar 20 kilometer dari pusat gempa hancur.

Bangunan-bangunan tinggi ambruk dan 6.433 orang tewas. Sebagian besar dari mereka meninggal akibat tertimbun bangunan yang runtuh.

Bukan hanya itu, Kota Kobe dan kota-kota lain di sekitarnya semakin luluh lantak akibat kebakaran besar. Tercatat sebanyak 7,483 bangunan terbakar habis. Dari jumlah itu, sebanyak 6.148 di antaranya adalah bangunan tempat tinggal.

Seperti halnya Kota Kobe, Kota Nishinomiya yang sebagian berada di wilayah perbukitan juga hancur. Gedung-gedung hancur akibat longsor dan ribuan orang pun menjadi korban.

Akses transportasi juga banyak yang terputus. Jalur-jalur kereta api dari dan ke wilayah Kobe hancur. Demikian pula dengan Stasiun kereta api bawah tanah Daikai.

Ketika stasiun itu runtuh, jalan dan gedung-gedung di atasnya pun ikut hancur. Jalan layang Hanshin Expressway, penghubung Osaka – Kobe juga roboh. Itu semua mengakibatkan transportasi darat di wilayah itu terputus total.

Masalah besar juga terjadi pada transportasi laut, akibat kerusakan parah yang terjadi pada Pelabuhan Kobe. Aktivitas bongkar muat pun tak bisa dilakukan, termasuk untuk suplai bantuan. Apalagi juga jalan tol menuju ke tempat itu juga rusak parah, sampai tak bisa lagi digunakan hingga 30 September 1996.

Negeri itu memang sudah berkali-kali dilanda bencana serupa. Pada 1923, sebuah gempa dahsyat juga melanda negeri itu, yakni di wilayah Kanto, mengakibatkan 140.000 orang meninggal.

Pengalaman itulah yang membuat masyarakat Jepang, terutama yang terdampak bencana, menjadi tenang saat evakuasi besar-besaran dilakukan. Semua orang di daerah itu memang hidup dalam ketakutan. Tetapi mereka tetap tenang dan selalu menggunakan akal sehat, untuk bersama-sama keluar dari krisis.

Setelah peristiwa itu, setiap tahun pada 17 Januari, warga Jepang menggelar  berbagai acara untuk mengenang korban Gempa Bumi besar Hanshin-Awaji.

Di Indonesia

Peristiwa gempa dahsyat dan mematikan, bukan hanya terjadi di Jepang. Indonesia juga beberapa kali mengalami peristiwa serupa. Beberapa di antaranya adalah gempa dan tsunami Samudra Hindia 26 Desember 2004; gempa Jogja 27 Mei 2006, gempa Pangandaran 17 Juli 2006, gempa dan likuifaksi di Palu 28 September 2018, dan gempa Majane, Jumat (15/1).

Gempa Majane dengan kekuatan magnitudo 6,2 tersebut, menurut data terakhir per Sabtu (16/1), mengakibatkan 56 orang meninggal. Dari jumlah itu, 47 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju dan 9 orang di Kabupaten Majane.

Lebih Siap

Seperti halnya Jepang, sebagian gempa di Indonesia juga akibat peristiwa pergerakan lempeng bumi. Untuk gempa di Samudra Hindia 26 Desember 2004, yang kemudian disebut pula tsunami Aceh, adalah akibat pergerakan lempeng Indoasutralia dan Eurasia. Demikian pula dengan gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 dan gempa Pangandaran 17 Juli 2006. Adapun untuk gempa di Palu 28 September 2018, adalah akibat aktivitas sesar Palu Koro.

Di hari-hari mendatang, entah kapan, gempa-gempa besar kemungkinan masih akan terjadi. Bulan September lalu, dari hasil riset para peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), diketahui ada potensi gempa yang bisa menyebabkan tsunami hingga ketinggian 20 meter di selatan Jawa.

Hasil riset yang telah diterbitkan dalam jurnal Nature Scientific Report pada (17/9/2020), tersebut memang benar-bener mengkhawatirkan.

Tetapi dengan pengalaman berkali-kali diguncang gempa besar, seperti halnya di Jepang, masyarakat Indonesia memang seharusnya lebih siap.

Pentingnya kesiapan itu, antara lain disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Menjelang akhir tahun lalu, Ganjar meminta pemerintah kabupaten dan kota di wilayah Selatan Jateng, untuk memetakan daerah yang berpotensi terdampak tsunami, sekaligus mendorong untuk membangun desa tangguh bencana.

“Potensi itu ternyata luar biasa di wilayah selatan. Nah dari cerita potensi megathrust yang di selatan itu, ternyata bisa kita simulasikan,” kata Ganjar.

Ganjar menjelaskan, simulasi dapat dilakukan dengan dua cara yakni pemetaan area yang terkena megathrust. Ganjar kemudian mencontohkan wilayah Cilacap yang telah mengidentifikasi 55 desa rawan terdampak tsunami.

“Maka kita akan identifikasi seluruh desa di wilayah selatan, untuk kita siapkan semua harus menjadi desa tangguh bencana,” kata Ganjar.

Ganjar juga mencatat saran yang diberikan oleh para ahli dari ITB, yakni untuk menerapkan green belt. Karena itu Pemprov Jateng mendorong Pemda di wilayah potensi terdampak tsunami, untuk menanam pohon tertentu yang dapat mengurangi dampak tsunami.

“Tadi disampaikan agar kita menyiapkan greenbelt dengan tanam pandan laut yang bisa dipkai sebagai front line,” ujarnya.

Ganjar mengatakan, beberapa daerah yang diidentifikasi berpotensi terdampak tsunami namun tak memiliki dataran tinggi juga akan didorong untuk membuat area penyelamatan artifisial atau buatan.

“Kita perlu mengidentifikasi beberapa daerah untuk membuat rescue-rescue area dan building. Bisa bangunan atau semacam bukit yang secara artificial itu bisa dibuat sehingga orang nanti bisa lari (ke sana) menyelamatkan (diri),” tegas Ganjar. (Dari berbagai sumber, HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.