Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Mengenal Tradisi Jamasan Pusaka, Proses Membersihkan Pusaka Peninggalan Nenek Moyang pada Bulan Suro

Pengujung pameran dalam acara Temu Budaya Wesi Aji, Gelar Pameran Pesona Pusaka Nusantara 2019 menyaksikan koleksi di Museum Ronggowarsito Jawa Tengah, belum lama ini.

 

SELAIN tradisi “kungkum” yang kerap dilaksanakan masyarakat kejawen pada malam 1 Suro, dalam budaya Jawa ada juga kebiasaan masyarakat untuk merawat serta menghargai peninggalan nenek moyang yang berupa benda pusaka. Penghargaan itu dengan melakukan tradisi jamasan pusaka yang dimiliki. Jamasan pusaka sendiri berasal dari bahasa Jawa Kromo Inggil (tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa), ‘Jamas’ mempunyai arti cuci, membersihkan atau mandi. Sedangkan kata ‘Pusaka’ menjadi sebutan bagi benda-benda yang dikeramatkan atau dipercaya memiliki kekuatan tertentu.

Dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, jamasan pusaka merupakan tradisi mencuci benda-benda peninggalan nenek moyang. Benda-benda peninggalan yang dijuluki sebagai pusaka akan dibersihkan tepat pada malam 1 Suro menurut penanggalan kalender Jawa. Sedangkan pada malam tersebut juga biasanya digelar tirakatan di kampung-kampung untuk berdoa dan sarana guyub rukun dengan warga.
Tanggal 1 Suro dipilih karena tanggal ini menjadi penanda tahun baru Islam.

Selain itu, bulan Suro juga adalah bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang diyakini sebagai bulan keramat, penuh larangan, dan pantangan. Karenanya, masyarakat Jawa biasanya selalu menghindari bulan ini untuk melakukan kegiatan besar. Karena takut terkena tulah, seperti kesialan atau ‘apes’.

Benda-benda peninggalan yang dibersihkan dalam ritual jamasan pusaka antara lain keris, tombak, kereta kencana, gamelan dan berbagai peralatan upacara. Masyarakat Jawa meyakini bahwa jamasan pusaka menjadi cara untuk menghargai secara penuh peninggalan nenek moyangnya.

Ketua Komunitas Pebursa Tosan Aji Nusantara, Sudharto mengatakan, salah satu benda pusaka yang kerap dijamas saat Bulan Suro adalah keris. Keris bagi pemiliknya tidak hanya berfungsi untuk melindungi diri, namun punya sejarah dan makna filosofisnya sendiri-sendiri.

“Sehingga, pemiliknya selalu merawatnya khususnya pada waktu-waktu tertentu. Biasanya dengan melakukan jamasan yaitu membersihkan pada Bulan Suro,” katanya.

Dalam ritual jamasan pusaka, benda-benda yang kebanyakan tosan aji itu akan dicuci menggunakan warangan. Warangan adalah larutan kimia yang berasal dari perpaduan jeruk nipis dengan serbuk batu warang.

“Masyarakat Jawa percaya bahwa dengan melakukan jamasan pusaka, mereka akan dihindarkan dari berbagai kesialan. Karena tradisi pencucian benda pusaka bertujuan untuk menghilangkan energi negatif atau pengaruh jahat yang coba melekat pada pusaka tersebut,” imbuhnya.

Salah satu anggota Tosan Aji Semarang, Imam Santoso mengatakan, tosan aji sendiri meliputi banyak pusaka kuno. “Biasanya, untuk mencuci atau menjamas keris pusaka, seseorang harus menjalani laku prihatin atau tapa. Seperti tirakatan, kadang dijalankan dengan berpantang makan selain nasi putih saja (mutih) pada hari Senin dan Kamis, ada puasa selama beberapa hari menjelang bulan Sura. Tujuannya untuk membersihkan pusaka dari kekuatan jahat yang menempel pada benda pusaka tersebut. Maupun mengolah jiwa pemiliknya agar jauh dari hal yang negatif,” katanya.

Maksud dan tujuan jamasan pusaka yakni untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan ketentraman. Sebab, bagi sebagian masyarakat Jawa, benda-benda pusaka tersebut dianggap mempunyai kekuataan gaib yang akan mendatangkan berkah apabila dirawat dengan cara dibersihkan atau dimandikan. Apabila tidak dirawat, mereka percaya “isi” yang ada di dalam benda pusaka tersebut akan pudar atau akan hilang sama sekali, dan hanya berfungi sebagai senjata biasa.

Namun apabila dicermati lebih dalam, jamasan mengandung nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai kebersamaan tercermin dari keberadaan masyarakat yang berkumpul dalam satu tempat untuk mengikuti prosesi, seperti melakukan doa bersama demi keselamatan bersama. Sedangkan nilai religius tercermin dalam doa bersama yang ditujukan kepada Tuhan agar mendapat perlindungan, keselamatan, dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang