in

Mengenal Kiai Sholeh Darat, Yang Makamnya Akan Dipugar Pemkot Semarang

Haul ke-121 Kiai Haji Sholeh Darat di komplek tempat permakaman umum (TPU) Bergota Kota Semarang, Sabtu (22/5/2021).

 

PEMKOT SEMARANG berencana memugar dan menata kembali makam ulama KH Sholeh Darat yang ada di TPU Bergota Randusari, Semarang Selatan, Kota Semarang.

Penataan ini sebagai upaya menghargai jasa tokoh ulama KH Sholeh Darat, sekaligus untuk mengoptimalkan potensi wisata religi di Kota Semarang.

Hal itu karena selama ini, banyak wisatawan yang tiap tahun berziarah ke makam tokoh yang pernah menjadi guru bagi banyak ulama besar di Indonesia.

Guna mengenang perjuangan Mbah Sholeh Darat, selama ini warga sekitar dan keturunan setiap tahun mengadakan haul Kiai Haji Sholeh Darat. Acara rutin tersebut diselenggarakan setiap 10 Syawal, dan bertempat di Masjid KH Sholeh Darat.

“Haul Mbah Sholeh setiap tahun dilaksanakan 10 Syawal, lokasinya di area masjid sini (KH Sholeh Darat),” kata Lukman Hakim selaku imam Masjid KH Sholeh Darat saat ditemui baru-baru ini.

Makam Kiai Sholeh Darat sendiri berada di tengah TPU Bergota, Kota Semarang. Makam ini berukuran sekitar 20 meter persegi. Pada sudut bangunan ada 15 tonggak semen berdiri kokoh dengan cat putih.

Atapnya dari genteng dengan pelapis asbes, dipasang tepat di atas sekat-sekat penyangga atap yang dicat cokelat.

Di dalam bangunan ada 20 makam dengan belasan pasang batu nisan yang juga dicat warna putih berjejer rapi. Dari barisan batu nisan itu, ada dua makam ukurannya lebih besar dari ukuran makam lainnya. Inilah makam Mbah Sholeh Darat dan istri ketiganya, Raden Ayu Siti Aminah.

Lalu, siapakah sebenarnya Kiai Sholeh Darat ini sehingga tiap taun acara haulnya banyak didatangi peziarah dari berbagai daerah?

Mungkin tidak banyak yang kenal nama Muhammad Sholeh bin Umar Al Samarani. Padahal tiga tokoh nasional, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, dan RA Kartini sempat mendapat pengaruh sangat besar dari ulama yang lebih dikenal dengan nama Kiai Sholeh Darat.

Kiai Sholeh Darat merupakan putra Kiai Umar, seorang ulama sekaligus pejuang dan tangan kanan Pangeran Diponegoro. Ia lahir di Desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Jepara, Jawa Tengah pada 1820. Ia wafat di Semarang pada 28 Ramadan 1321 H/18 Desember 1903 M dan dimakamkan di area pemakaman Bergota Semarang.

Kata ‘Darat’ yang tersemat di namanya menunjukkan tempat tinggalnya yaitu di daerah Darat yang dulu terletak di utara Semarang. Daerah ini konon dulunya dekat dengan laut dan menjadi tempat mendaratnya orang-orang dari luar Jawa. Kini daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat.

Penambahan ini adalah sesuatu yang lumrah sebagai ciri khas dari orang-orang yang terkenal di masyarakat. KH Sholeh Darat, lahir dengan nama lengkap Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani.

Belajar di Makkah
Dikutip dari beberapa sumber, masa kecil hingga remaja KH Sholeh Darat dihabiskan dengan belajar Al-Quran serta ilmu agama dari ayahnya. Seperti ilmu nahwu, shorof, akidah, akhlak, hadis dan fiqih.

Setelah lepas masa remaja KH Sholeh Darat menimba ilmu ke sejumlah ulama di Jawa maupun ulama di luar negeri.

Dalam mendalami ilmu ke-Islamannya, dimulai dari belajar kitab-kitab fiqih kepada KH M Syahid, di Pesantren Waturoyo, Margoyoso, Kajen, Pati.

Kiai Sholeh Darat juga sempat menimba ilmu di Makkah, Arab Saudi pada para ulama seperti Syeikh Muhammad al Muqri al Mishri al Makki, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, dan Al Allmah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (Mufti Madzab Syafi’iyah).

Selain itu juga Al Allamah Ahmad An Nahawi al Mishri al Makki dan Sayyid Muhammad Sholeh Al Zawawi Al Makki, Kiai Zahid, Syeikh Umar a-Syami, Syeikh Yusuf al Sunbulawi Al–Mishri, serta Syeikh Jamal yang juga seorang Mufti Madzab Hanafiyyah.

Setelah beberapa tahun belajar, Kiai Sholeh sempat menjadi salah satu pengajar di Mekkah. Muridnya berasal dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Jawa dan Melayu.

Beberapa tahun mengajar, Kiai Sholeh memutuskan kembali ke Semarang, dan mengajarkan pengetahuannya kepada umat Islam di negara asalnya.

Kiai Sholeh pun mendirikan pusat kajian Islam berupa langgar atau musala, yang kemudian berkembang menjadi pesantren kecil.

Banyak calon ulama yang tinggal di Pesantren Kiai Sholeh Darat dan menimba ilmu di sana. Sebagian dari mereka kemudian menjadi tokoh-tokoh terkenal seperti Syaikh Mahfudz At Turmusi, KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan RA Kartini (Pahlawan Nasional).

Kiai Sholeh juga melahirkan banyak karya dalam ilmu agama Islam. Di antaranya, Majmu’ah Asy Syari’ah Al Kafiyah li Al Awam, Batha’if At Thaharah, serta kitab Faidhir Rahman.

Kitab Faidhir Rahman merupakan tafsir Al-Quran yang ditulis Kiai Sholeh menggunakan aksara Arab Pegon. Aksara ini menggunakan huruf-huruf Arab, namun bahasa yang dipakai adalah Jawa. Kitab ini disusun Kiai Sholeh atas permintaan dari RA Kartini yang ingin memahami makna Al-Quran sehingga tidak hanya sekadar membacanya.(HS)

Share This

Ngebet Hadapi Si Manusia Senapan Mesin

Kasus Covid-19 Melonjak, Bupati Rapatkan Satgas