in

Mengembalikan Kejayaan Pesisir Jawa Tengah Sebagai Poros Maritim

Kapal Pesiar Viking Sun saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, tahun 2020 lalu.

 

SAMUDRA, laut, selat, dan teluk adalah masa depan peradaban Bangsa Indonesia. Sejak zaman kerajaan di Indonesia, kehidupan kelautan sudah sangat fundamental. Indonesia yang merupakan daerah kepulauan membutuhkan lautan untuk mengakses antar-daerah.

Armada laut Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, hingga Demak pun tak bisa dipandang sebelah mata dalam peradaban masa lampau. Sebagai kerajaan maritim, mereka berperan dalam perdagangan yang mencakup daerah Indonesia, bahkan mancanegara.

Mayoritas kerajaan di Nusantara yang bercorak maritim menunjukkan bahwa kehidupan leluhur kita amat tergantung pada sektor bahari.
Baik dalam hal pelayaran antarpulau, pemanfaatan sumber daya alam laut, hingga perdagangan melalui jalur laut. Dari sekian banyak rute pelayaran dan perdagangan di perairan Nusantara, rute pelayaran yang melintasi Laut Jawa merupakan yang paling ramai.

Laut Jawa juga memiliki kedudukan yang strategis dalam jalur lalu-lintas perdagangan dunia. Kota perdagangan yang berkembang di masa lampau antara lain Banten, Batavia, Cirebon, Semarang, Demak, Rembang, Tuban, Pasuruan, Gresik, Surabaya, Probolinggo, Panarukan, Pamekasan, Buleleng, Lampung, Palembang, Banjarmasin, Pontianak, Sampit, Sambas, Makasar, Sumba, Kupang, Larantuka, dan sebagainya.

Sadar atas cakupan potensi maritim di Indonesia yang luas, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi sempat berencana memasukkan pembangunan maritim sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Dalam pidato perdana yang disampaikan usai acara pelantikan di Gedung MPR/DPR pada, Senin (20/10/2014) lalu, Jokowi mengatakan, pemerintahannya akan mengembalikan kejayaan Indonesia di sektor maritim.

Jokowi sempat berjanji sektor maritim akan digarap secara maksimal dan menjadi program prioritas nasional. Untuk itu, dia meminta semua elemen bangsa bisa bekerja keras mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim.

Sejarah maritim juga memiliki korelasi yang relatif banyak dengan sejarah Kota Semarang. Bahkan pelabuhan di Semarang juga sempat menjadi tujuan utama perdagangan internasional. Buku Amen Budiman “Semarang Riwayatmu Dulu” jilid pertama dalam uraiannya memaparkan dugaan bahwa Pelabuhan Bergota atau Pragota (salah satu wilayah di Kota Semarang) hingga abad ke-XV sempat jadi pelabuhan penting di pesisir utara tanah Jawa. Pelabuhan itu menjadi pusat transportasi andalan bagi pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno.

Kemudian pada abad XVII, VOC juga sempat menggunakan Semarang sebagai salah satu pelabuhan jalur perdagangan menggantikan Jepara. Selanjutnya sejarah mencatat perkembangan Pelabuhan Tanjung Emas di abad berikutnya.

Hingga kini, pelabuhan yang terletak di Kecamatan Semarang Utara tersebut masih menjadi jalur kelautan di Jawa Tengah. Selain sebagai tempat berlabuh kapal penumpang, dan kapal barang, Pelabuhan Tanjung Emas juga menjadi tempat bersandar kapal-kapal pesiar yang membawa wisatawan asing untuk berkunjung ke Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Dengan adanya korelasi antara sejarah, visi pemerintahan, dan kondisi saat ini, sangat disayangkan jika pemerintah, khususnya Pemerintah Jawa Tengah dan Kota Semarang tak menangkap peluang pengembangan maritim guna mensuport pembangunan daerah.
Secara visi nasional, Kota Semarang tentu akan dijadikan bidikan pengembangan wilayah maritim Indonesia. Letak strategis, serta dukungan infrastruktur yang telah ada, serta potensi kelautan yang masih bisa dikembangkan, tentu Semarang memiliki potensi lebih guna mendukung program ini.

Tangkap Peluang

Meski demikian, peluang tersebut seakan belum ditangkap dengan baik oleh pemerintah daerah. Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah Jawa Tengah atau Pemkot Semarang? jawabannya tentu berkoordinasi dengan pengelola Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yaitu PT Pelabuhan Indonesia, Pelindo III (Persero).

Perlu adanya pembicaraan tingkat kebijakan dalam upaya menangkap visi ini. Selain itu juga penyiapkan pembangunan infrastruktur di sekitar pelabuhan.

Kawasan sekitar pelabuhan harus dikembangkan sebagai wilayah penunjang fungsi pelabuhan. Tentu rencana itu harus tetap memperhatikan persoalan konservasi lahan dan persoalan lingungan hidup.

Rencana pembangunan Semarang Outer Ring Road (SORR) lingkar utara yang melintasi Pelabuhan Tanjung Emas juga bisa jadi persiapan lain. Dengan keberadaan jalur penghubung yang memudahkan akses menuju pelabuhan, diharapkan bisa jadi solusi guna pengembangan wilayah sekitar pelabuhan.

Selain itu, pemerintah dan pihak Pelindo juga harus berkoordinasi dengan daerah sekitar. Untuk menghindari kroditnya lalu lintas jalur laut di Pelabuhan Tanjung Emas, Pelabuhan Umum Kendal bisa dimanfaatkan sebagai pendukung fungsi kapal angkutan penumpang. Sehingga nantinya, Pelabuhan Tanjung Emas bisa difokuskan guna pelayanan angkutan barang saja.

Agar pembangunan dan pemanfaatan kawasan pendukung pelabuhan lebih maksimal, perlu adanya sinkronisasi visi dengan pengelola Bandara Ahmad Yani, untuk menjadi jawaban solusi atas upaya pengembangan yang tepat. Juga diperlukan akses pendanaan dari pemerintah pusat, untuk menyelesaikan persoalan pendangkalan kawasan pesisir di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Dengan pembagian “kue” pembangunan itulah, diharapkan keberadaan pusat-pusat transportasi itu bisa jadi penyangga kemajuan pembangunan Ibu Kota Jawa Tengah ini.

Di sisi lain, visi wacana pengembangan wilayah maritim di Kota Semarang juga telah didukung sektor pendidikan. Tercatat di Kota Semarang ada beberapa sekolah tinggi, di antaranya Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang, Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) Semarang, Sekolah Tinggi Maritim dan Transport AMNI Semarang, serta Akademi Pelayaran Niaga Indonesia (Akpelni) Semarang. Dari produk sekolah tinggi tersebut, sumber daya manusia (SDM) terdidik tak akan habis guna mendukung visi menangkap peluang jadi poros maritim Indonesia.

Dengan segala potensi yang ada, sangat memungkinkan pesisir Jawa Tengah ini dimanfaatkan dalam upaya mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai poros maritim dunia.(HS)

Penulis: Lanang Wibisono (Pemimpin Umum Halosemarang.id)

Share This

55 Mahasiswa STIE Bank BPD Jateng Lolos Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 1

KPK Minta Itjen Kemenag Susun Regulasi Perlindungan Pelapor Tipikor