Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Mengangkat Kandri, Menggarap Kearifan Lokalnya

Tradisi Prosesi Rewanda, salah satu budaya kearifan lokal untuk memberi makan hewan kera ekor panjang penghuni Gua Kreo, yang sampai sekarang masih dilestarikan masyarakat Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang untuk menarik wisatawan.

SEJUMLAH warga Kandri, Kecamatan Gunungpati terlihat berbondong-bondong bersama sesepuh desa menggelar ritual mengambil tanaman lokal endemik yang hidup di wilayah setempat, yaitu Bambu Krincing, beberapa waktu lalu. Tak hanya anak muda dan orang tua, anak-anak pun ikut meramaikan prosesi yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke Desa Wisata Kandri.

Apalagi konon, bambu di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati ini sangat erat kaitannya dengan mitos aktivitas Sunan Kalijaga saat sedang berada di Gua Kreo dan mencari kayu jati yang akan digunakan untuk membangun Masjid Demak pada era Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi lalu.

Saking mistisnya bambu ini, untuk mengangkat dan memotongnya dari dasar Kali Kreo, sesepuh desa melakukan ritual untuk meminta izin kepada ‘Sing Mbahu Rekso’ atau ‘penunggu’ di sana. Dengan meletakkan sesaji, berupa rokok, kopi hangat, dan membakar hio serta ube rampe lainnya, ritual dimulai dengan doa-doa.

Usai prosesi ritual, sesepuh desa baru berani memotong dan mengambil beberapa batang Bambu Krincing tersebut. Potongan batang bambu krincing itu kemudian dibagikan kepada warga sekitar. Tak hanya batang bambu, sesepuh desa juga mengambil bibit bambu untuk ditanam kembali di sekitar rumah warga.

Bambu Krincing itu dipercaya oleh masyarakat sekitar bisa menolak petaka ketika ditanam di pekarangan rumah. Sedangkan batang bambunya dipercaya sangat baik untuk usaha sate sebagai tusuk daging. Karena konon, bambu itu berasal dari tusukan yang digunakan Sunan Kalijogo untuk membakar daging (sate). Dan dinamai Bambu Krincing, karena setelah dagingnya dimakan, tusukan itu ditancapkan ke tanah dan saat jatuh menimbulkan bunyi “krincing”. Tusukan daging itu kemudian tumbuh dan dinamai Bambu Krincing hingga sekarang.

Prosesi pengambilan Bambu Krincing ini, merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi masyarakat lokal yang masih dilestarikan. Warga setempat beserta pemerintah daerah memang berusaha untuk mengangkat kearifan lokal di sekitar Kandri, sebagai daya tarik mendatangkan wisatawan.

Diharapkan pula, nilai–nilai cerita rakyat daerah setempat bisa menjadi daya tarik wisata sekaligus menjadi potensi Desa Wisata Kandri untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan ke sana.

Tak hanya Ritual Memotong Bambub Krincing, ada juga upacara Sesaji Rewanda (prosesi memberi makan kera ekor panjang penghuni Gua Kreo) dan ritual Nyadran Kampung yang rutin digelar tiap tahun di waktu yang berbeda. Prosesi-prosesi tersebut digelar sebagai sebuah tradisi yang berusaha untuk dilestarikan hingga sekarang.

“Sebelum daerah ini berubah jadi waduk, tradisi itu memang sudah ada sejak puluhan tahun silam. Kami hanya berusaha melestarikannya, sebagai penghormatan terhadap tradisi leluhur,” kata Ketua Pokdarwis Pandanaran, Syaeful Ansori, baru-baru ini.

Setelah ada pembangunan Waduk Jatibarang tahun 2009 hingga selesai tahun 2013, tradisi tersebut masih terus dilaksanakan oleh warga sekitar. Meski dengan adanya waduk yang mengubah area lahan seluas 189 hektare dari lahan pertanian menjadi lahan perairan, pola hidup masyarakat sekitar pun juga harus berubah. Mayoritas warga yang sebelumnya merupakan petani, harus banting setir menjadi pelaku wisata. Karena setelah dibangunnya waduk, area Goa Kreo dan sekitar Waduk Jatibarang dikonsep menjadi objek wisata oleh Pemkot Semarang.

“Sejak lahan pertanian warga hilang karena dibangun Waduk Jatibarang, mau tidak mau kami beralih pekerjaan yang sebelumnya dari petani dan berganti menjadi pelaku wisata. Untuk jadi nelayan tidak mungkin, karena memang waduk tidak difungsikan sebagai tempat budi daya ikan. Dengan berbagai pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta stakeholder terkait, warga pun bisa mandiri dan kreatif dengan membuat berbagai kerajinan untuk souvenir dan menjadi pemandu wisata dan menyediakan jasa pariwisata lainnya. Seperti di antaranya perahu, spot selfi, wisata edukasi serta lainnya,” terang Syaeful Ansori.

Ditambahkan Syaeful, memang tidak semua warga di daerahnya memilih untuk usaha di sektor pariwisata. Saat ini, dengan makin banyaknya wisatawan yang datang ke Kandri, warga ada yang menyediakan homestay untuk tempat menginap bagi wisatawan. Adapun harga homestay sebesar Rp 125 ribu per orang/malam, sudah termasuk fasilitas makan. “Dari usaha homestay ini warga memperoleh penghasilan tambahan,” katanya.

 

Sejumlah wisatawan berebut gunungan sego kethek saat prosesi sesaji Rewanda di Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Semarang.

Kabid Kelembagaan Pariwisata Disbudpar Kota Semarang, Giarsito Sapto Putratmo mengatakan, untuk saat ini yang perlu dikembangkan adalah penambahan ragam atraksi karena wisatawan selalu ingin melihat hal-hal yang baru dan menarik. Sehingga untuk menjaga eksistensi Desa Wisata Kandri, perlu dimunculkan inovasi-inovasi baru. Agar wisatawan yang berkunjung ke Kandri bisa lebih lama tinggal di sana. “Dan saat ini Desa Wisata Kandri oleh Pemerintah Kota Semarang masih dikembangkan menuju taraf internasional, sehingga banyak anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan sarana-prasarana di Kandri dan sekitarnya,” terangnya.

Sedangkan untuk pengembangan sarana dan prasarana (sarpras), lanjut Sapto, pihaknya membantu menginventarisir kebutuhan
sarana-prasarana di Desa Wisata Kandri, kemudian mengusulkan ke OPD terkait untuk pengembangan dan mempermudah akses menuju ke Desa Wisata Kandri.

“Tidak Hanya ke OPD di lingkungan pemkot, usulan pembangunan sarana-prasarana juga kami usulkan sampai ke Kementrian juga
melalui corporate social responsibility (CSR). Seperti bantuan untuk prasarana homestay, pembangunan Plaza Kandri, dan Sekretariat Desa Wisata,” imbuhnya.

Untuk makin mengenalkan destinasi wisata yang mengangkat kearifan lokal, pihaknya juga terus mempromosikan dalam pameran-
pameran yang diikuti.

“Pada tahun 2018 kami mengajukan Desa Wisata Kandri untuk ikut dalam Festival Desa Wisata Jawa Tengah dan berhasil memperoleh Juara Umum, dampaknya nama Desa Wisata Kandri menjadi lebih terkenal,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, untuk saat ini pihaknya sedang mengusulkan penetapan Desa Wisata Kandri ke Provinsi Jawa Tengah untuk diverifikasi. Hal itu karena ada peraturan daerah (Perda) Provinsi Jawa Tengah Nomor 2 tahun 2019 tentang Pemberdayaan Masyarakat Desa Wisata.

“Desa Wisata Kandri memang diuntungkan karena berdekatan dengan objek wisata Gua Kreo. Sehingga kunjungan wisatawan ke sana meningkat. Tahun 2018 lalu saja, jumlah wisatawan yang datang mencapai 12 ribu orang,” imbuhnya.

Apalagi kini, lanjut Iin sapaan akrab Indriyasari, telah dibangun Plaza Kandri untuk menggelar berbagai event seni dan budaya masyarakat lokal. Lokasinya out door dengan pemandangan back ground Waduk Jatibarang, yang menarik wisatawan guna menyaksikan pentas seni lokal seperti Legenda Mahakarya Goa Kreo.

Tidak hanya itu, setiap tiga bulan sekali, ada pertemuan dari berbagai daerah untuk pengenalan wisata yang ada di masing-masing kota/kabupaten khusus wilayah Kedungsapur, yang mana masing-masing daerah bisa untuk mempromosikan desa wisatanya, termasuk Kandri.

“Lalu kami juga melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah, kami harapkan masyarakat setempat secara rutin menggelar berbagai atraksi seni dan budaya, dengan mengangkat potensi lokal. Khususnya cerita-ceritra tentang sejarah Goa Kreo. Sehingga menarik lebih banyak wisatawan untuk datang ke Gua Kreo,” terangnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang