Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Mengaku Banyak Tanggungan, Para Penghuni SK Masih Akan Jalani Pekerjaan Sebagai Pekerja Seks

Salah satu pekerja seks di Resos Argorejo.

 

TATAPAN kosong dari mata warga Resosialisasi Argorejo atau Lokalisasi Sunan Kuning (SK) terlihat tak fokus menatap pembicara dalam acara Diskusi dan Bedah Buku berjudul “Ough! Sunan Kuning” karya Bambang Iss Wirya di Aula Pertemuan Resos Argorejo, Kecamatan Semarang Barat, Rabu (7/8/2019).

Mereka banyak yang belum bisa menerima keputusan Pemkot Semarang yang akan menutup lokalisasi tempatnya bekerja. Beberapa di antaranya mengaku belum tahu hendak ke mana setelah lokalisasi itu ditutup. Namun sebagian besar mengakui tetap akan menjalani profesi sebagai pekerja seks, meski tak lagi tertampung dalam resosialisasi.

Panggil saja Wulan (30), penghuni Resos Argorejo yang sudah bekerja di sana sejak empat tahun lalu. Wulan menceritakan kalau dirinya terpaksa menjadi salah satu warga penghuni lokalisasi karena desakan kebutuhan ekonomi. Sehingga membuatnya terjerumus ke dunia prostitusi.

Wulan yang mengaku asal Bawen ini menyatakan, jika profesi yang digeluti sekarang, tidak semata-mata untuk kesenangan dirinya sendiri. Namun juga ada kaitan dengan tanggung jawab kepada keluarganya di Bawen. Tanpa ada suami, Wulan mengaku harus menghidupi empat orang anak yang kini jadi tanggungannya.

Selain itu juga ada orang tuanya yang kini sudah tua dan tidak mampu bekerja. Alasan itulah yang membuatnya harus kerja menjadi pekerja seks, agar dapat menghasilkan uang untuk kelangsungan hidup keluarganya.

“Setiap bulan saya harus kirim uang ke anak-anak dan orang tua di kampung sebesar Rp 3-4 juta. Kalau jadi ditutup oleh Pemkot Semarang, saya belum tahu akan mendapatkan uang dari mana,” ujarnya.

Wulan mengaku, jika lokalisasi ini ditutup dia mungkin akan tetap menjalani profesi sebagai pekerja seks meski tak di lokalisasi lagi.

“Ibarat orang terjebur di sungai, ya sekalian mandi. Saya akan tetap bekerja seperti ini, meski tidak di sini.  Nanti tetap ikut mucikari, kalau lewat online saya tidak berani,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua LSM Lentera ASA Semarang, Ari Istiyadi berharap, jangan sampai dampak penutupan Resos Argorejo ini justru menimbulkan permasalahan baru. Seharusnya, kata dia, Pemkot Semarang melakukan langkah-langkah konstruktif terkait dengan rencana penutupan dan paska penutupan.

“Jangan sampai kejadian tahun 1998 terulang. Saat itu paska Argorejo akan ditutup timbul persoalan, mereka (penghuni resos-red) malah turun ke jalan-jalan. Misalnya di Simpanglima, dan jalan protokol lainnya. Hal ini dikhawatirkan berdampak di masyarakat terkait dengan isu kesehatan HIV/AIDS. Kalau sampai menyebar di jalan, siapa yang akan memantau kesehatannya, yang selama ini sudah dilokalisir di sini,” terangnya.

Sementara Pemerintah Kota Semarang berencana mengembangkan Resos Argorejo atau dikenal Lokalisasi Sunan Kuning (SK) sebagai lokasi kampung tematik, khususnya untuk wisata religi. Hal itu sebagai upaya menjaga roda ekonomi wilayah sekitar paska penutupan Resos Argorejo atau dikenal Lokalisasi Sunan Kuning (SK).

Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Semarang,  Hevearita Gunaryanti Rahayu, saat menghadiri rapat koordinasi Kementrian Sosial (Kemensos) kepada Tim Pelaksana Penataan Lokalisasi Argorejo dan Rowosari Atas (Gambilangu) di ruang loka krida lantai 8, Gedung Moch Ikhsan, Komplek Balai Kota, Semarang, Selasa (6/8/2019).

Mbak Ita sapaan akrab Wakil Wali Kota mengatakan, dipilihnya konsep pengembangan wisata religi, karena di lokasi tersebut ada petilasan makam Soen Ang Ing. Sosok itu dipercaya merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah sekitar pada masa lampau.

Sebelumnya, ada beberapa wacana untuk pengembangan kawasan setelah dilakukan penutupan lokalisasi Sunan Kuning. Di antaranya untuk sentra kuliner dan pusat hiburan karaoke. Namun akhirnya pemkot akan mengembangkan kawasan itu sebagai daerah wisata religi.

Terkait tali asih para warga penghuni resos, pemkot sudah menghitung, tiap warga binaan akan memperoleh uang sebesar Rp 6 juta/orang. Dari data yang ada total 516 orang yang akan menerima dana tersebut. Tali asih berasal dari anggaran kementrian sosial dan dinas sosial pemkot.

“Pemkot menginginkan menata komplek itu agar lebih bagus dan menarik. Sehingga paska penutupan resos ini diharapkan bisa mengembangkan wilayah ini secara bersama-sama menjadi salah satu lokasi wisata religi,” terangnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang