in

Menengok Usaha Pengolahan Pindang Tradisional di Weleri

Pindang Ikan hasil buatan Mundaroh, warga Dusun Kenayan, Desa Karanganom, Kecamatan Weleri, Selasa (5/4/2022)

HALO KENDAL – Pindang ikan merupakan olahan tradisional yang popular dan digemari masyarakat, yang sudah dinikmati sejak zaman nenek moyang dan sudah melekat dengan selera masyarakat Indonesia.

Produksi ikan pindang merupakan jenis olahan yang mempunyai prospek menjanjikan. Dari cita rasanya lebih enak dari ikan asin, bahkan ikan pindang tidak jauh berbeda dengan ikan segar baik rupa, rasa, maupun teskturnya.

Selain itu, kandungan airnya masih cukup tinggi dibandingkan ikan asin sehingga rasanya lebih disukai konsumen.

Ikan pindang termasuk produk siap santap atau hanya memerlukan sedikit pengolahan lanjutan dan mudah diolah menjadi produk olahhan siap santap lain sesuai selera.

Dengan kondisi seperti itu ikan pindang dapat dimakan dalam jumlah lebih besar dari pada ikan asin sehingga potensial sebagai sumber protein hewani.

Pengolahan pindang tradisional di Kabupaten Kendal terdapat di berbagai tempat. Salah satunya di Desa Karanganom Kecamatan Weleri, dengan berbahan dasar ikan laut.

Salah seorang warga Dusun Kenayan, Desa Karanganom Mundaroh (57) yang sudah 30 tahun menggeluti usaha pemindangan ikan mengaku, setiap hari rata-rata dirinya bisa memproduksi 20 – 23 kilogram.

Bukan hanya memproduksi saja, bahkan dirinya juga harus menjajakan olahan pindangnya sendiri ke pasar-pasar dan pemukiman warga di wilayah Sukorejo.

Menurutnya, untuk harga pindang bervariasi, Rp 1.500 hingga Rp 2.000, per ikan. Tergantung besar kecilnya pindang.

“Setiap pagi, saya berangkat dengan naik angkutan umum bus ke Sukorejo, sambil membawa 23 kilogram ikan pindang dengan cara digendong dan ditenteng dalam keranjang, dan muter-muter di wilayah Sukorejo,” ungkapnya, Selasa (5/4/2022).

Mundaroh menjelaskan, ikan yang dipindang hendaknya masih benar-benar segar, tidak cacat fisik, dan bermutu baik. Tiap hari dalam mengolah ikan pindang, dirinya dibantu cucunya.

“Ikan laut jenis yang biasa dipindang adalah ikan layang, ikan gatal, kembung, tongkol, bawal, selar, kuro, banding, lemuru, petek, japu, tembang, ekor kuning, dan ikan hiu,” paparnya.

Mundaroh menjelaskan, untuk mendapatkan produk yang bermutu diperlukan bahan baku yang bermutu, dengan ukuran dan jenis ikan yang sama di kerjakan dengan higienis.

“Ikan segar yakni ikan tampak cemerlang dan mengilap keperakan sesuai dengan jenisnya. Permukaan tubuh tidak berlendir atau berlendir tipis, bening dan encer, sisiknya tidak mudah lepas, perut utuh dan lubang anus tertutup,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya, ikan segar terlihat dari mata cembung, cerah, putih dan jernih, pupil hitam dan tidak berdarah. Insang berwarna merah cerah dan tidak berlendir atau sedikit berlendir.

“Selain itu, tekstur dangingnya kenyal, lentur, dan jika ditekan cepet pulih. Bau segar atau sedikit agak amis,” imbuh Mundaroh.

Ikan yang akan diproses menjadi ikan pindang dipisahkan sesuai jenis, ukuran, dan tingkat kesegaran. Wadah yang digunakan untuk proses pemindangan bisa terbuat dari tanah liat atau besi/seng.

“Bila ikan tidak disusun secara langsung dalam tempat perebusan, maka diperlukan keranjang dari anyaman bambu sebagai tempat menyusun ikan,” terang Mundaroh.

Ikan yang sudah siap direbus diletakkan di atas tungku/kompor pompa minyak gas, dengan api yang sedang saja agar ikan benar-benar matang, tidak hangus.

Proses perebusan biasanya berlangsung selama 1 sampai 2 jam tergantung jumlah dan ukuran ikan yang dipindang.

“Proses perebusan dihentikan apabila terdapat retakan-retakan pada daging kepala atau ekornya, yang menandakan ikan sudah matang,” jelas Mundaroh.

Dirinya juga menyebut, selama proses perebusan, usahakan tumpukan ikan dipertahankan tetap terendam dalam air perebus.

“Caranya dengan menempatkan pemberat atau pada wadah perebus dipasang pengancing untuk menahan agar ikan tidak mengambang ke permukaan. Setelah ikan masak, baru perebusan dihentikan,” ujar Mundaroh.

Sementara di tempat pemindangan lain, yang juga masih warga Dusun Kenayan, Desa Karanganom, Umariyah (38) menjelaskan, dibandingkan dengan pengolahan ikan asin, pemindangan mempunyai beberapa keuntungan, yaitu cara pengolahan pindang sederhana dan tidak memerlukan alat yang mahal.

“Kemudian hasilnya berupa produk matang yang dapat langsung dimakan tanpa perlu dimasak terlebih dahulu dan rasanya cocok dengan selera masyarakat Indonesia pada umumnya,” ujarnya sambil membersihkan ikan.

Umariyah menjelaskan, dirinya selama ini membuat olahan pindang presto. Yang cara perebusannya sedikit berbeda dari pemindangan yang sudah umum. Yakni waktunya yang relatif lebih lama.

“Tapi pada prinsipnya teknik pemindangan modern sama dengan teknik pemindangan tradisional,” ujarnya.

Dijelaskan, perbedaan terletak pada proses perebusan. Proses perebusan pemindangan modern menggunakan panci bertekanan dan menghasilkan ikan pindang yang empuk sampai ke duri-durinya.

“Sehingga tulang yang keras pun bisa menjadi empuk dan bisa dikonsumsi. Sering juga orang menyebutnya dengan istilah pindang duri lunak,” pungkas Umariyah. (HS-06).

Tiga Pelaku Aksi Pembacokan di Kaligawe Semarang Diamankan Polisi 

Sigap Bencana, Karyawan Hotel Ciputra Semarang Gelar Simulasi Kebakaran Gedung