Menengok Pasar Bintoro Demak, yang Dua Hari Telah Terapkan Kebijakan Jaga Jarak

Para pegadang di Pasar Bintoro Demak melayani pembeli di tengah kebijakan penjarakan pedagang pasar.

 

HALO SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo gencar melakukan sosialisasi penerapan jaga jarak antarpedagang di pasar tradisional. Bahkan pihaknya telah meminta bupati dan wali kota menerapkannya, sebagai upaya mengurangi kerumuman guna menekan persebaran Covid-19.

Praktik penerapan penjarakan pedagang pasar yang telah melakukan yaitu di Pasar Salatiga dan Pasar Bintoro Demak. Pasar yang terletak di Jalan Sultan Patah Demak ini, pemberlakuan jaga jarak berlangsung sejak dua hari ini. Yakni dengan menempatkan pedagang di tengah jalan.

Pasar Bintoro Demak adalah pasar pagi yang mayoritasnya diisi oleh pedagang yang berjualan sayuran, ikan, buah, hingga aneka kebutuhan sembako, dan lainnya. Pasar tradisional ini selalu ramai, mulai dini hari sekitar pukul 00.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Pantauan di lokasi, dua baliho peringatan pencegahan virus corona terpasang di pagar dekat pintu utama pasar.

Pada baliho tertulis kalimat berbahasa Jawa yang bernada imbauan kepada pedagang yang berjualan di luar pasar, untuk menempati atau membuka dasaran di tempat yang disediakan Pemkab Demak. Mulai dari jalan depan pasar sampai jembatan Kracaan hingga jembatan Pecinan, mulai Rabu (29/4/2020) pukul 01.00 WIB.

Para pedagang yang biasa menempati tepian jalan sepanjang pasar itu akhirnya berpindah ke tengah jalan. Mereka menempati di dalam garis kotak bercat warna kuning.

Masing-masing kotak ukurannya sekitar 2 meter x 2 meter. Tercatat ada sekitar 110 kotak yang berada di sepanjang jalan depan gedung Pasar Bintoro.

Menurut Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Bintoro Demak, Abdul Fatah, penataan pedagang dengan menjaga jarak ini memang berdasarkan imbauan dari pemerintah daerah.
Sebelumnya, para pedagang berjualan dengan cara saling berhimpitan satu sama lain.

“Tujuannya untuk mengurangi penyebaran Covid-19,” kata Fatah ditemui di lokasi, Kamis (30/4/2020) pagi.

Pemerintah daerah pun memanfaatkan badan jalan raya ini untuk dipakai para pedagang.

Sehingga mereka tidak berdagang dengan berhimpitan. Dengan menempati garis kotak yang juga diberi nomor, jarak pedagang satu dengan lain sekitar 1,5 meter hingga 2 meter.

Kebijakan pemerintah itu berdampak positif dalam bentuk pengurangan kerumunan.

“Pedagang bisa menempati jalan raya dari jam 00.00-06.00 WIB,” imbuhnya.

Pembatasan jam beroperasi para pedagang bertujuan agar pengendara bisa kembali melintas di jalan raya tersebut.

Bila stok dagangannya masih, pihaknya mempersilakan pedagang berpindah ke lapak yang berada di bagian dalam gedung pasar. Tepatnya di lantai 2.

Dari pantauannya dalam dua hari terakhir, dia melihat tidak lagi dijumpai adanya aktivitas pedagang dan pembeli yang saling berdekatan saat transaksi.

“Tidak ada lagi uyek-uyekan di situ lah, istilahnya,” beber Fatah.

Pedagang menempati garis kotak untuk berjualan. Dengan jumlah kotak ada 110. Bila pedagang tidak ada yang libur maka kotak akan terisi penuh. Di dalam pasar pun, ada sekat yang dibuat untuk para pedagang.

Sehingga jarak antarpedagang terlihat.
Fatah mewakili pedagang juga menuturkan, bahwa pihaknya amat setuju dengan kebijakan pemberlakuan pasar dengan menjaga jarak.

Sebab hal itu bisa menjadi upaya untuk mencegah penyebaran virus corona ini. Bahkan paguyuban tak bosan-bosan mengigatkan pedagang dan pembeli untuk mengenakan masker.

“Ada imbauan dari Pak Gubernur, mulai tanggal 27 (April) kemarin, itu harus diwajibkan dengan membawa masker,” sambungnya.

Dengan demikian bila pihaknya menjumpai ada pedagang atau pembeli tidak mengenakan masker, maka akan diminta kembali ke rumah untuk memakai masker terlebih dahulu.

“Karena itu sudah menjadi peraturan dan jadi kewajiban dari pedagang atau wakil pedagang,” jelas Fatah.

Seorang pedagang, Sumarmi (60) mengaku berdagang di jalan raya tidak membuatnya kehilangan pelanggan. Sebab pelanggannya tetap bisa bisa mendapatkan barang yang dicarinya.

“Inggih, laris. Alhamdulilah laris,” kata pedagang bawang merah dan cabe ini sembari sibuk melayani pelanggannya.

Kusri (52) pedagang lain mengaku baru dua hari berjualan di tempat yang baru yakni di jalan raya.

“Biasanya saya jualan di emperan atau di atas trotoar. Sekarang di jalan raya. Agak sepi ini karena jalannya kan ditutup,” ungkapnya.

Aktivitas pasar di jalan raya itu berlangsung hanya sampai pukul 06.00 WIB. Setelah itu, petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Demak meminta pedagang untuk berpindah. Mengingat jalan raya harus kembali dilintasi. Baik dari arah Kudus maupun dari arah Semarang.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.