in

Menengok Monumen Ketenangan Jiwa, Tempat Mengenang Pasukan Jepang yang Meninggal di Pertempuran Lima Hari Semarang

Monumen Ketenangan Jiwa berada di Muara Kali Banjir Kanal Barat (BKB) yang berdekatan dengan Pantai Marina Semarang.

 

KOTA SEMARANG sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun, memiliki banyak tempat bersejarah di beberapa lokasi.

Salah satu yang belum banyak diketahui masyarakat adalah Monumen Ketenangan Jiwa di Tanah Mas, Semarang.

Monumen ini dibangun untuk mengenang para tentara Jepang yang meninggal dalam peristiwa pertempuran Lima Hari di Semarang, yang setiap tanggal 15 Oktober diperingati tersebut.

Berdiri tegak di area Tanah Mas Semarang, tepatnya berada di muara sungai Banjirkanal Barat dekat pantai Marina Semarang, monumen ini memang kurang dikenal warga Kota Semarang karena tak memiliki ikatan emosional secara langsung. Namun bagi warga Jepang yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan para tentara Jepang yang meninggal saat pertempuran Lima Hari di Semarang, monumen ini sangatlah bersejarah dan sakral bagi mereka. Bahkan beberapa tahun lalu masih banyak warga Jepang yang sengaja berkunjung ke tempat ini saat berlibur ke Indonesia.

Untuk warga Kota Semarang, pertempuran 5 hari di Semarang dikenang dengan berdirinya Tugu Muda di pusat kota. Tapi tidak banyak yang tahu di tepi kota dekat laut ada monumen untuk memperingati peristiwa tersebut dari sudut pandang yang lain, yaitu dari sudut pandang bangsa Jepang.

Monumen itu diberi nama Chinkon no Hi atau Ketenangan Jiwa, yaitu monumen berupa bongkahan batu dengan aksara Jepang yang dipahat. Sesuai namanya, lokasi tempat monumen tersebut sangat tenang karena berada di tepi muara sungai Banjirkanal Barat tepatnya dekat pantai Baruna.

Ada ukiran berbahasa Indonesia berupa kisah yang menunjukkan sisi lain dari peristiwa yang terjadi tanggal 14 hingga 19 Oktober 1945 itu. Karena tidak hanya korban dari Indonesia yang gugur dalam pertempuran itu, namun juga warga sipil Jepang yang bekerja di Semarang dan sekitarnya.

Salah satu pengagas monumen, Aoki Masafumi yang merupakan perwira dari Jepang menuliskan kisah singkat para warga sipil bangsanya yang mengakui kemerdekaan Indonesia, namun tidak bisa lolos dari pertempuran 5 hari di Semarang.

Aoki menuliskan setidaknya ada 150 warga Jepang yang meninggal ketika ditawan di Penjara Bulu Semarang kala itu. Mereka warga sipil yang sebenarnya ingin kembali ke negara asal. Saat itu ditemukan goresan darah dari warga Jepang berupa tulisan yang mengakui Indonesia yaitu “Hidup Kemerdekaan Indonesia”.

Dalam pahatannya, Aoki mengatakan, wasiat itu ditulis sebelum ajal menjemput para korban. Aoki berharap jiwa para korban bisa tenang dan pengorbanan kedua belah pihak menjadi landasan perdamaian dunia.

Saat halosemarang.id menyambangi monumen ini, sekilas yang membedakan dengan tugu lainnya, di dinding  monumen terpahat tulisan huruf kanji Jepang.

Terasa sekali kenapa monumen ini diberi nama ketengan jiwa. Hal itu karena letaknya berada di tengah-tengah hamparan tanah kosong, dan dijadikan tambak oleh warga. Selain itu, hembusan angin yang sayup-sayup menerpa wajah, sejenak melepas penat dari hiruk pikuk suasana dan udara panas perkotaan.
Sangat terasa alam begitu tenang dan membuat pikiran pun seakan beraktivitas dengan lamban.

Monumen Ketenangan Jiwa.

Untuk masuk ke lokasi ini memang agak sulit karena akses jalan menuju lokasi hanya jalan sempit menyusuri tanah berbatu dan belum diaspal. Sehingga kalau hujan akan licin, dan kiri kanan jalan ditumbuhi ilalang.

Di dekat lokasi tersebut, kini juga dijadikan lokasi untuk parkir kendaraan barang peti kemas di Pelabuhan Tanjung Emas.

Suasana di monumen Ketenangan Jiwa, siang itu agak lengang, hanya beberapa warga sekitar yang melintas untuk pergi memancing dan mencari rumput.

Adapun jalan masuk ke lokasinya, melalui Jalan Arteri Yos Sudarso (Pelabuhan-Bandara), belok kiri perempatan pertama setelah perempatan Puri Anjasmoro. Dan setiap pengunjung yang mau masuk, dikenai biaya tiket Rp 3.000.

Di sekitar monumen juga mulai ditumbuhi rumput ilalang, sehingga nampak kurang terawat. Di dekat monumen, masih ada sisa bekas dupa atau hio yang dibakar oleh peziarah yang baru berdoa di sini, sehingga mengeluarkan aroma terapi yang masih tercium di udara.

Pengamat sejarah Kota Semarang, Rukardi mengatakan, monumen itu dibangun pada 14 Oktober 14 Oktober 1998 yang diresmikan oleh Wali Kota Semarang kala itu, Soetrisno Soeharto. Monumen peringatan ini untuk menghormati tentara Jepang yang tewas saat Pertempuran Lima Hari Semarang pada 15-19 Oktober 1945.

“Dalam pertempuran Lima Hari di Semarang dari pihak Indonesia ada 2.000 jiwa yang meninggal dalam peristiwa tersebut, dan dari pihak Jepang sekitar 400 jiwa. Sedangkan Monumen ketenangan jiwa ini menghadap ke utara dan diyakini menuju, ibu kota negara Jepang, yakni Tokyo di mana Kaisarnya berada,” katanya, Senin (8/7/2019).

Untuk pemilihan lokasi di muara sungai BKB, lanjut dia, memang saat itu sebagian jenazah baik sipil dan militer ada yang ditemukan hanyut di aliran sungai Banjirkanal Barat.

“Dulu pada tanggal 15 Oktober 1945 pada hari pertama pertempuran lima hari, ada cerita pembantaian orang-orang Jepang di penjara Bulu. Kejadiannya sekitar habis magrib, yaitu setelah Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dan saat itu Jepang dinyatakan kalah. Sehingga sebagian orang Jepang ditangkap dan dipenjara, dan ada juga orang Belanda yang ikut ditangkap,” imbuhnya.

Pembantaian tersebut memang ada hubungannya dengan peristiwa Pertempuran Lima Hari. Karena saat itu di sekitar Siranda, terjadi peperangan antara sekelompok pemuda Semarang dengan tentara Jepang.

Pimpinan pejuang Laskar Republik Semarang waktu itu, Bisoro, dalam pertempuran itu dibunuh oleh tentara Jepang secara keji.
Kejadian tersebut diketahui teman Bisoro, bernama Niti Admojo, sehingga dia dan kelompoknya menaruh dendam terhadap tentara Jepang.

“Saat itu Niti Admojo tahu kalau di penjara Bulu (sekarang LP Bulu) banyak terdapat tahanan Jepang, sehingga dia ingin membalaskan dendam dengan cara melakukan eksekusi terhadap para tahanan yang ada di penjara tersebut. Awalnya para tahanan ini akan dieksekusi dengan cara ditembak dengan senjata otomatis yang dibawa oleh Niti Admojo. Eksekusi ini akan dilakukan dengan cara membariskan para tahanan dulu, dan digiring ke sekitar Banjirkanal Barat, yang lokasinya berdekatan dengan penjara Bulu. Setelah dekat sungai tersebut rencananya baru dihabisi, biar tidak sulit menghilangkan jejak ceceran darahnya,” katanya.

Namun rencana itu tidak dilakukan, karena ditakutkan para tahanan akan melarikan diri saat keluar sel. Karena jumlah tahanan di dalam banyak, sehingga dikhawatirkan mereka akan melakukan perlawanan. Setelah adanya negosiasi, maka tahanan tersebut dibantai di dalam sel penjara.

“Ada sekitar 150 warga sipil, dan tentara Jepang yang dipenjarakan di Penjara Bulu. Mereka, warga sipil ini memang dipekerjakan oleh Jepang, untuk menjadi pekerja pabrik besi di daerah Cepiring, Kendal untuk mensupport persenjataan mereka. Dari investigasi Jepang, bahwa ada 150 warga Jepang yang jadi korban pembantaian ini dan 60 orang lainnya dinyatakan hilang,” ucap Rukardi.

Menurut catatan yang ada, lanjut Rukardi, pembantaian dari kedua belah pihak baik Indonesia maupun pihak Jepang yang jadi korban terjadi di beberapa pelosok kampung di Kota Semarang. Seperti di antaranya di DR Cipto, Penjara Mlaten, dan daerah lainnya.

Memang pada waktu itu, terjadi peperangan antara Laskar Republik dengan serdadu Jepang. Karena dulunya, Markas Ki Do Kutai, berada di Jatingaleh yang kini jadi Markas Arhanud. Para tentara Jepang bergerak dari sana turun ke bawah untuk menguasai Kota Semarang. Salah satunya lewat Tanah Putih,  dan Siranda.

“Dan monumen itu kini sangat penting, selain bisa menjadi pelajaran sejarah, dengan dalih apapun, peperangan hanya akan membawa kesengsaraan dan menimbulkan korban jiwa baik dari pihak Indonesia maupun tentara Jepang. Pemkot juga seharusnya, bisa menjadikan tempat ini jadi salah satu destinasi wisata di Kota Semarang, sehingga menarik wisatawan,” tandasnya. (HS)

Satpol PP Temukan Ratusan Drum Limbah Misterius di Bantaran Banjirkanal Barat

Pelaksanaan Sudah Dekat, Mbak Ita Ingin Pembangunan Sirkuit MXGP Dikebut